29 November 2018

Takut Menjadi Mandiri, Benarkah Jadi Gejala Sindrom Cinderella Complex?

Takut Menjadi Mandiri, Benarkah Jadi Gejala Sindrom Cinderella Complex?

Halodoc, Jakarta – Cinderella merupakan tokoh dalam dongen klasik karya Charles Perrault, yang masih dikenal dan digandrungi hingga saat ini. Dikisahkan, Cinderella adalah seorang gadis muda yang hidup merana di bawah siksaan ibu dan saudara tirinya. Derita hidup yang dialami Cinderella seakan tak ada habisnya, terutama setelah kepergian sang ayah untuk selamanya.

Namun, takdir ternyata berkata lain. Setelah menghadiri sebuah pesta dansa, dengan bantuan ibu peri, hidup Cinderella benar-benar berubah. Di sana, dia bertemu dengan pangeran yang kelak menjadi pendamping dan membuat Cinderella menjadi wanita yang paling bahagia dan paling beruntung. Namun tentu saja, hal itu hanya ada dalam dongeng dan bersifat fantasi.

Namun tahukah kamu, ternyata di dunia nyata juga dikenal sebuah kondisi yang disebut Sindrom Cinderella Complex. Apa itu?

Istilah sindrom Cinderella Complex (CC) pertama kali dicetuskan oleh Colette Dowling, dan kemudian digunakan sebagai istilah psikiatri modern. Dowling adalah seorang terapi asal New York, dan penulis buku “The Cinderella Complex: Women's Hidden Fear of Independence”. Melalui teorinya, dia menyoroti masalah kemandirian pada perempuan. Dia menjelaskan bahwa perempuan pada umumnya tidak dididik untuk menghadapi ketakutannya, dan tidak diajarkan mengatasi segala masalahnya sendiri.

Meski demikian, sejauh ini sindrom Cinderella Complex belum diteliti secara mendalam, karena merupakan suatu istilah populer saja yang mencuat di kalangan masyarakat. Jadi, sindrom Cinderella Complex belum bisa dijadikan sebagai sebuah gangguan secara psikologis. Namun demikian, sindrom Cinderella Complex cukup dekat kaitannya dengan gangguan psikologis, yaitu gangguan kepribadian dependen.

Secara garis besar, sindrom Cinderella Complex membahas soal gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang sangat tergantung dengan orang lain, sehingga nyaris tidak sanggup untuk hidup mandiri. Colette Dowling menjelaskan sindrom ini memicu keinginan di bawah ketidaksadaran untuk diurus oleh orang lain atau keadaan yang dialami seorang perempuan di mana dia sangat ingin dilindungi, dan membutuhkan seorang pria sebagai tameng dalam kehidupannya.

Penyebab Sindrom Cinderella Complex

Munculnya sindrom ini sering dikaitkan dengan perbedaan pola asuh antara anak laki-laki dan anak perempuan. Anak perempuan disebut cenderung lebih sedikit menerima dorongan untuk menjadi mandiri dengan pola asuh orang tua yang lebih protektif pula. Anak perempuan pun biasanya mendapat lebih sedikit tekanan untuk membangun identitas diri yang kuat. Hubungan antara anak perempuan dan orangtua yang cenderung lebih harmonis juga memiliki andil kuat dalam eksplorasi anak yang kurang memadai terhadap nilai-nilai kemandirian. Akibatnya, anak perempuan cenderung memiliki keterampilan hidup yang alakadarnya dan kepercayaan diri yang kurang, karena mereka hanya tahu cara menggantungkan hidup kepada orang lain.

Kondisi ini juga bisa terjadi karena adanya kebiasaan memanjakan anak perempuan sejak kecil. Seorang perempuan dikatakan mengidap Cinderella Complex jika menunjukkan beberapa gejala, seperti mendambakan pasangan penyelamat, seseorang yang dapat melindungi, mengayomi, dan menyediakan segala kebutuhan hidupnya.

Sindrom Cinderella Complex mengarah pada perilaku yang tidak efektif dalam pekerjaan, dan merasa cemas akan kesuksesan. Perempuan yang mengalami sindrom ini pun cenderung merasa takut bahwa kemandiriannya bisa menghilangkan esensi feminitas dirinya sebagai seorang perempuan.

Jika merasa mengalami gejala, seperti sindrom Cinderella Complex, cobalah membicarakan dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasinya. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Baca juga: