Tangani Sindrom Koroner dengan Obat, Efektifkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Tangani Sindrom Koroner dengan Obat, Efektifkah?

Halodoc, Jakarta – Menangani penyakit sindrom koroner tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Pasalnya, kondisi ini tergolong gawat darurat, sehingga harus segera mendapat perawatan medis. Jika tidak segera ditangani dengan benar, sindrom koroner bisa memicu dampak yang bersifat fatal dan membahayakan pengidapnya. Sebenarnya, bagaimana cara menangani serangan penyakit ini? Bisakah sindrom koroner diatasi dengan konsumsi obat? 

Salah satu cara penanganan sindrom koroner akut yang parah adalah dengan operasi bypass jantung. Selain operasi, ternyata ada sejumlah cara lain yang bisa dilakukan untuk mengobati kondisi ini, salah satunya dengan konsumsi obat. Sindrom koroner merupakan gangguan pada aliran darah yang menuju ke organ jantung. Padahal, aliran darah yang lancar sangat dibutuhkan untuk menjaga kinerja organ tubuh tetap maksimal, terutama organ vital seperti jantung. 

Baca juga: Begini Tanda Kamu Alami Sindrom Koroner Akut

Mengatasi Sindrom Koroner dengan Obat 

Sindrom koroner terjadi akibat ada gangguan pada aliran darah yang menuju ke organ jantung. Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, tetapi orang dengan riwayat penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi mengalaminya. Penyakit sindrom koroner bisa menyebabkan aliran darah menuju organ jantung berkurang secara tiba-tiba atau drastis. Penyakit ini memiliki gejala khas, yaitu muncul nyeri berat pada seputar dada. 

Rasa sakit yang muncul akibat penyakit ini bisa sangat menyiksa dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Terkadang, rasa sakit juga bisa menjalar hingga ke lengan kiri. Selain nyeri dada, sindrom akut juga bisa memicu gejala mual dan muntah yang parah. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi gawat darurat ini adalah dengan menjalani prosedur operasi bypass jantung. Cara ini dilakukan untuk memperbaiki aliran darah ke jantung. 

Sindrom koroner menyebabkan terjadinya gangguan pada fungsi organ jantung. Kabar buruknya, gangguan fungsi organ ini juga bisa meningkatkan risiko serangan jantung. Secara umum, penyakit ini terjadi karena ada penyempitan pembuluh darah, yaitu bagian yang memiliki fungsi memasok darah ke jantung. Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan kondisi ini terjadi, di antaranya bekuan darah dari organ tubuh lain, komplikasi operasi jantung, peradangan pada arteri koroner, serta gangguan jantung lain yang bersifat langka.

Baca juga: 7 Faktor Risiko Jantung Berdetak Sangat Cepat

Penanganan awal untuk penyakit ini adalah dengan memberikan oksigen selama perjalanan sampai ke rumah sakit. Setelah seseorang terdiagnosis mengalami sindrom koroner, pengobatan harus dilanjutkan dengan pemberian obat vasodilator, seperti Nitrogliserin untuk melebarkan pembuluh darah jantung, memperbaiki aliran darah ke jantung, serta meredakan nyeri dada. Selain itu, kondisi ini juga bisa diatasi dengan obat antikoagulan, seperti Aspirin, Clopidogrel, dan antikoagulan lainnya untuk mencegah pembekuan darah.

Ada beberapa jenis obat lain yang juga bisa digunakan, seperti obat untuk meredakan nyeri dada, obat untuk mengurangi beban kerja jantung, obat untuk mengendalikan tekanan darah, serta obat untuk penurunan kolesterol agar plak aterosklerosis tidak robek, sehingga menyumbat pembuluh darah. Selain konsumsi obat, mengubah gaya hidup juga perlu dilakukan untuk mengontrol tekanan darah. Mengontrol tekanan darah bisa dilakukan dengan konsumsi makanan sehat, serta menjaga berat badan agar tetap ideal. Cara ini juga bisa membantu memperbaiki kadar kolesterol dan gula darah yang bisa memicu penyakit jantung menyerang. 

Baca juga: 3 Jenis Serangan Jantung yang Perlu Diwaspadai

Cari tahu lebih lanjut apa saja risiko penyakit sindrom koroner dan bagaimana cara pengobatannya dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Sampaikan juga keluhan seputar masalah kesehatan dan dapatkan rekomendasi beli obat dari dokter terpercaya. Download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Acute Coronary Syndrome.
Medscape Diakses pada 2019. Acute Coronary Syndrome.
Heart.org. Diakses pada 2019. Acute Coronary Syndrome.