• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terpapar Racun Amonia Sebabkan Edema Paru, Benarkah?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terpapar Racun Amonia Sebabkan Edema Paru, Benarkah?

Terpapar Racun Amonia Sebabkan Edema Paru, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 30 Oktober 2020
Terpapar Racun Amonia Sebabkan Edema Paru, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Edema paru adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh kelebihan cairan di paru-paru. Cairan ini terkumpul di banyak kantung udara di paru-paru, sehingga pengidapnya akan sulit bernapas. Edema paru yang berkembang tiba-tiba (edema paru akut) adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan sesegera mungkin. Edema paru terkadang bisa menyebabkan kematian. Kondisi akan membaik jika pengidapnya dirawat dengan cepat. 

Perawatan untuk edema paru bervariasi tergantung pada penyebabnya, tetapi umumnya mencakup oksigen tambahan dan obat-obatan. Dalam kebanyakan kasus, masalah jantung menyebabkan edema paru. Namun, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh hal lain, termasuk paparan racun seperti amonia. Jadi, kamu harus waspada akan paparan racun amonia.

Baca juga: Ketahui Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Amonia Sebagai Penyebab Edema Paru

Pada suhu kamar, amonia anhidrat adalah gas yang sangat mengiritasi dan tidak berwarna, dengan bau yang menyengat dan mencekik. Ini lebih ringan dari udara dan mudah terbakar pada konsentrasi dan suhu tinggi. 

Amonia anhidrat lebih ringan dari udara. Oleh karena itu, ia akan naik dan tidak akan menetap di daerah dataran rendah. Namun, uap dari gas cair pada awalnya lebih berat daripada udara dan dapat menyebar ke permukaan tanah. Keracunan amonia dapat terjadi pada ventilasi yang buruk atau tertutup.

Tingkat cedera yang disebabkan oleh paparan amonia tergantung pada durasi paparan, konsentrasi gas, dan kedalaman penghirupan. Konsentrasi amonia di udara yang cukup rendah (50 ppm) menghasilkan gejala seperti iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, batuk, serta penyempitan bronkus. Tanda-tanda klinis yang lebih parah termasuk penyempitan tenggorokan dan pembengkakan, menyebabkan penyumbatan saluran napas bagian atas dan penumpukan cairan di paru-paru. Ini dapat menyebabkan kadar oksigen darah rendah dan bahkan sebabkan kondisi mental berubah. Parahnya, luka bakar mukosa pada pohon trakeobronkial juga dapat terjadi. Anak-anak mungkin lebih rentan terhadap agen korosif daripada orang dewasa karena diameter saluran udara mereka lebih kecil. 

Jika kamu masih ingin tahu lebih banyak mengenai bahaya amonia untuk tubuh terutama pernapasan, kamu bisa tanyakan pada dokter di Halodoc. Dokter akan selalu siaga menjawab semua pertanyaan seputar kesehatan, kapan dan di mana saja.

Baca juga: Ini Penjelasan Code Blue dalam Dunia Medis

Komplikasi Edema Paru Akibat Paparan Amonia

Komplikasi tergantung pada penyebab yang mendasari. Namun umumnya, jika edema paru berlanjut, tekanan di arteri pulmonalis bisa naik (hipertensi pulmonal). Akhirnya, jantung menjadi lemah dan mulai gagal, serta tekanan di jantung dan paru-paru meningkat.

Komplikasi bisa meliputi:

  • Kesulitan bernapas.
  • Pembengkakan pada tungkai, telapak kaki dan perut.
  • Penumpukan cairan di selaput yang mengelilingi paru-paru (efusi pleura).
  • Kemacetan dan pembengkakan hati.

Perawatan segera diperlukan untuk edema paru akut untuk mencegah kematian.

Baca juga:  Alasan Asma Bisa Sebabkan Kematian

Cara Mengobati Edema Paru

Perawatan pertama untuk edema paru akut adalah pemberian oksigen tambahan. Pengidapnya akan menerima oksigen melalui masker wajah atau kanula hidung (tabung plastik fleksibel dengan dua lubang yang mengalirkan oksigen ke setiap lubang hidung). Ini akan meredakan beberapa gejala yang terjadi.

Dokter juga akan memantau tingkat oksigen dengan cermat. Kadang-kadang pengidapnya mungkin perlu dibantu untuk bisa bernapas dengan mesin seperti ventilator mekanis atau yang memberikan tekanan saluran napas positif.

Bergantung pada tingkat keparahan kondisi dan alasan edema paru, pengidapnya mungkin juga menerima satu atau lebih dari obat-obatan berikut:

  • Diuretik. Dokter biasanya meresepkan diuretik, seperti furosemide (Lasix), untuk menurunkan tekanan yang disebabkan oleh kelebihan cairan di jantung dan paru-paru.
  • Morfin (MS Contin, Oramorph, lainnya). Narkotika ini dapat diminum atau diberikan melalui infus untuk meredakan sesak napas dan kecemasan. Namun, beberapa dokter percaya bahwa risiko morfin mungkin lebih besar daripada manfaatnya dan lebih mungkin menggunakan obat lain.
  • Obat Tekanan Darah. Jika pengidapnya memiliki tekanan darah tinggi atau rendah saat mengalami edema paru, ia akan diberi obat untuk membantu mengatasi kondisi tersebut. Dokter mungkin juga meresepkan obat yang menurunkan tekanan masuk atau keluar dari jantung. 
  • Inotropik. Obat jenis ini diberikan melalui infus jika pengidapnya berada di rumah sakit dengan gagal jantung parah. Inotropik meningkatkan fungsi pemompaan jantung dan menjaga tekanan darah.

Referensi:
Agency for Toxic Substances and Disease Registry. Diakses pada 2020. Medical Management Guidelines for Ammonia (NH3).
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Pulmonary Edema.
Pulmonology Advisor. Diakses pada 2020. Toxic Inhalational Lung Injury.