04 May 2018

Tidak Hanya Wanita, Pria Juga Bisa Mengalami “Eating Disorder”

Tidak Hanya Wanita, Pria Juga Bisa Mengalami “Eating Disorder”

Halodoc, Jakarta – Gangguan pola makan, atau yang lebih dikenal dengan istilah eating disorder memang umum terjadi pada wanita. Namun, ternyata kelainan ini juga dialami oleh pria meski jumlah pengidapnya tak sebanyak wanita. Perlu diketahui bahwa eating disorder pada pria juga tak kalah berbahayanya dari wanita, lho.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Sydney membuktikan bahwa gangguan pola makan yang dialami oleh pria ternyata memiliki tujuan yang tak jauh berbeda dengan wanita. Jika anoreksia seringkali dialami oleh wanita untuk mencapai bentuk tubuh yang ideal, pada pria kondisi ini disebut dengan bigoreksia.

Apa Sih Bigoreksia Itu?

Memiliki nama lain dysmorphia otot, bigoreksia adalah keinginan yang berlebihan pada pria untuk bisa memiliki bentuk tubuh dan otot yang ideal. Ideal yang dimaksud bukan proporsional, melainkan menonjolkan lekukan serta otot di beberapa bagian tubuh, seperti lengan dan perut.

Fenomena ini muncul karena rasa tidak percaya diri pada bentuk tubuh sendiri. Kemudian, munculnya pikiran bahwa otot tubuh yang menonjol akan membuat tubuh terlihat lebih seksi akan memperparah kondisi bigoreksi yang sedang dialami para pria.

Demi bisa mewujudkannya, para pria akan mengurangi porsi makan mereka dan melakukan latihan fisik dan kebugaran tubuh secara berlebihan, disusul dengan konsumsi suplemen dalam dosis yang berlebihan. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya eating disorder pada pria.

(Baca juga: Awas, Diet Tak Tepat Malah Bikin Berat Badan Bertambah)

Dampak Negatif Bigoreksia

Tak seperti anoreksia atau bulimia yang terjadi pada wanita dan mudah dideteksi, kelainan bigoreksia pada pria nyaris tidak dapat terdiagnosis dengan sempurna. Hal ini dikaitkan dengan masalah harga diri karena kelainan pola makan lebih sering dialami para wanita. Pria akan merasa malu jika ternyata memang terdiagnosa dengan kondisi tersebut.

Meski demikian, terjadinya eating disorder pada pria juga tidak boleh disepelekan. Pasalnya, bigoreksia yang tak terdeteksi memiliki dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental pria. Selain menurunkan imunitas tubuh, bigoreksia juga akan membuat pria jadi mudah merasa cemas, tidak pernah merasa puas, hingga tidak percaya diri dan enggak bersosialisasi. Pada akhirnya, ini akan membuat mereka stres dan depresi. Terlebih lagi, pria jarang menceritakan masalah mereka dan meminta bantuan pada orang lain.

Remaja Lebih Rentan Terkena Bigoreksia

Ironisnya, kasus bigoreksia lebih sering terjadi pada remaja pria. Ingin tampil lebih macho dan keren disinyalir menjadi penyebab utama mereka melakukan latihan fisik dan konsumsi steroid berlebihan. Padahal, steroid yang mereka gunakan belum tentu memiliki kualitas yang baik.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Alison Field, seorang peneliti pediatri asal Boston Children’s Hospital menunjukkan bahwa dibandingkan dengan konsumsi alcohol atau narkoba, remaja pria cenderung lebih memilih konsumsi suplemen atau dopping untuk membentuk tubuh menjadi lebih berotot. Terlebih jika mereka berprofesi sebagai atlet atau model.

(Baca juga: Gangguan Makan yang Perlu Diketahui)

Mengobati Gangguan Pola Makan

Terapi menjadi salah satu cara yang paling sering dipilih untuk mengobati gangguan pola makan—termasuk bigoreksia. Selain psikiater, terapi ini turut melibatkan dokter dan ahli gizi. Biasanya, jenis terapi yang dilakukan adalah terapi bicara dan terapi perilaku kognitif. Pada beberapa kondisi, para ahli kesehatan juga akan melakukan terapi pola makan, agar para pengidap bisa mendapatkan kembali pola makan yang sehat. Meski demikian, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat tetap menjadi hal utama yang dibutuhkan oleh para pengidap.

 

Itu tadi informasi tentang bigoreksia atau eating disorder pada pria yang perlu diketahui. Kalau kamu merasakan gejala dan perubahan kebiasaan yang tak biasa, segera akses layanan live chat pada aplikasi Halodoc dan tanyakan langsung pada dokter. Aplikasi Halodoc bisa kamu download dari App Store atau Google Play Store.