• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Tidur dengan Kipas Angin Berisiko Terkena Hipotermia?

Tidur dengan Kipas Angin Berisiko Terkena Hipotermia?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Indonesia adalah negara tropis yang memiliki suhu cukup hangat. Itulah sebabnya, penggunaan kipas angin atau alat penyejuk ruangan lain di Indonesia adalah hal yang umum. Namun, ada anggapan bahwa tidur dengan kipas angin dapat berisiko terkena hipotermia.

Ada pula yang meyakini bahwa penggunaan kipas angin dapat memicu banyak masalah kesehatan, hingga kematian. Sebenarnya, apakah benar tidur dengan kipas angin dapat menyebabkan hipotermia? Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

Baca juga: Apakah Berenang Terlalu Lama Dapat Menyebabkan Hipotermia?

Belum Ada Bukti Kipas Angin Sebabkan Hipotermia

Sama halnya seperti saat terlalu tinggi (demam), suhu tubuh yang terlalu rendah juga berbahaya. Di dunia medis, kondisi ini dikenal dengan hipotermia. Secara teknis, hipotermia terjadi ketika suhu tubuh kurang dari 35 derajat Celcius. 

Kondisi ini terjadi tepatnya ketika tubuh kehilangan panas dengan cepat, tetapi lambat dalam memproduksi panas. Jika hipotermia tidak segera ditangani, risiko kegagalan fungsi organ hingga kematian bisa terjadi. 

Lantas, apakah tidur dengan kipas angin dapat sebabkan hipotermia? Sayangnya, belum ada bukti ilmiah tentang hal ini. Terlebih, Indonesia memiliki iklim yang tropis dan hangat, sehingga risiko untuk terkena hipotermia hanya karena kipas angin saat tidur sangat kecil. Apalagi kipas angin tidak bisa mendinginkan suhu udara secara drastis.

Jadi, hipotermia atau bahaya lainnya tidur dengan kipas angin masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Meski begitu, penggunaan kipas angin tetap perlu diperhatikan, terutama soal kebersihannya. Kipas angin yang kotor dapat menyebarkan debu dan kuman yang dapat memicu gejala asma dan alergi. 

Baca juga: Hipotermia Tidak Dapat Diatasi dengan Berhubungan Intim

Berbagai Hal yang Dapat Sebabkan Hipotermia

Seperti dikatakan tadi, hipotermia terjadi akibat hilangnya panas tubuh secara drastis, disertai lambatnya panas tubuh diproduksi. Ada banyak kondisi yang dapat memicu terjadinya hal tersebut, yaitu:

  • Mengenakan pakaian basah terlalu lama.
  • Tidak menggunakan pakaian yang tebal saat cuaca dingin.
  • Berada terlalu lama di tempat yang dingin.
  • Berada terlalu lama di dalam air. 

Pada dasarnya, siapa saja bisa mengalami hipotermia. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kondisi ini, yaitu:

  • Usia, hipotermia lebih rentan dialami oleh bayi dan orang tua (lansia).
  • Kelelahan.
  • Mengidap gangguan mental, misalnya demensia.
  • Mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.
  • Mengidap hipotiroidisme, radang sendi, stroke, diabetes, dan penyakit Parkinson.

Cara Mencegah Terjadinya Hipotermia

Untuk mencegah hipotermia, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Jaga tubuh tetap kering. Jangan mengenakan pakaian basah terlalu lama.
  • Kenakan jaket, pakaian yang tebal, syal, topi, sarung tangan, dan kaus kaki, saat di tempat dengan cuaca dingin, agar suhu tubuh tetap terjaga.
  • Saat di tempat dingin, lakukan gerakan sederhana agar tubuh tetap hangat.
  • Sebaiknya konsumsi minuman dan makanan hangat, terutama saat cuaca dingin.

Untuk mencegah hipotermia pada bayi dan anak-anak, pastikan menjaga suhu kamar agar tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin. Saat anak beraktivitas di luar rumah saat suhu sedang dingin, pakaikan jaket atau pakaian yang tebal. Jika anak tampak mulai menggigil kedinginan, segera bawa ia ke ruangan yang hangat.

Baca juga: Rentan Dialami Pendaki, Ini 5 Cara Mencegah Hipotermia

Pertolongan Pertama untuk Hipotermia

Jika orang terdekat ada yang mengalami hipotermia, penting untuk segera memberikan penanganan. Pertama-tama, cek terlebih dahulu apakah masih ada denyut nadi dan pernapasan. Jika tidak ada, lakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) dan cari bantuan medis.

Namun, jika orang tersebut masih bernapas dan denyut nadinya masih ada, tetap panggil bantuan medis, sambil lakukan tindakan berikut ini sebagai pertolongan pertama:

  • Pindahkan orang tersebut ke tempat yang lebih kering dan hangat.
  • Ganti pakaian dengan yang kering jika pakaiannya basah.
  • Balut tubuhnya dengan selimut atau jaket tebal agar hangat.
  • Jika kondisinya masih sadar dan mampu menelan, beri minuman hangat.
  • Beri kompres hangat pada area leher, dada, dan selangkangan. 
  • Jangan menggunakan air atau bantal pemanas untuk menghangatkan pengidap hipotermia, karena panas berlebihan justru dapat merusak kulit dan menyebabkan detak jantung tidak teratur.
  • Selalu temani dan pantau kondisi hingga bantuan medis tiba.

Jika ada yang masih belum jelas seputar hipotermia atau ingin bertanya seputar informasi kesehatan lainnya, kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter yang tepercaya, kapan dan di mana saja.

Referensi:
Live Science. Diakses pada 2021. Is Sleeping with a Fan On Actually Bad for Your Health?
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Diseases & Conditions. Hypothermia.
NHS Choices UK. Diakses pada 2021. Hypothermia.
Medline Plus. Diakses pada 2021. Hypothermia.
Healthline. Diakses pada 2021. What Causes Hypothermia?
Verywell Health. Diakses pada 2021. An Overview of Hypothermia.