Ini Tips untuk Mendidik Anak Agar Selalu Optimis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
tips-untuk-mendidik-anak-agar-selalu-optimis

Halodoc, Jakarta - Ada berbagai alasan untuk mendorong rasa optimisme pada anak-anak, termasuk pengaruh positif jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik mereka. Mendidik anak agar optimis tidak hanya akan membantu anak mempunyai landasan mental yang baik, tetapi optimisme juga akan membuatnya lebih siap menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan. 

Anak yang mampu membangun rasa optimis dalam kehidupan sehari-harinya akan jauh dari rasa frustasi, selalu bersemangat, serta tidak mudah sakit. Selain itu, ia juga akan mampu membangun hubungan yang harmonis dan lebih panjang umur. 

Namun, bagaimana cara ibu meningkatkan rasa optimis pada anak? Enam kiat berikut dapat ibu coba sebagai permulaan, dan saksikan manfaat positif meluas ke seluruh rumah.

1. Berhenti Mengeluh

Semakin orangtua sering mengeluh tentang masalah keuangan atau hari yang berat di tempat kerja, semakin besar kemungkinan anak-anak akan belajar untuk melakukan hal yang sama. Alih-alih, coba bicarakan hal-hal yang berjalan dengan baik di depan Si Kecil.

2. Memiliki Harapan yang Tinggi

Ajarkan rutinitas yang berkelanjutan dan target penyelesaian pada anak-anak. Misalnya, sebelum pergi bermain, Si Kecil harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dengan begitu, Si Kecil akan lebih bersemangat terkait pencapaian mereka setiap harinya. Selain itu, Si Kecil pun akan merasa bangga ketika dapat menyelesaikan tugas sebelum melakukan apa yang mereka inginkan, seperti bermain.

Anak-anak tidak akan mengembangkan sikap optimis, kecuali mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan nilai mereka. Mempercayakan anak-anak untuk menyelesaikan tugas membuat mereka merasa mampu. Pekerjaan atau tantangan yang diberikan harus sesuai usia dan kemampuan mereka, karena intinya adalah agar anak-anak berhasil.

3. Biarkan Anak Menerima Risiko yang Wajar

Sebagai orangtua mungkin selalu berupaya untuk melindungi anak-anak dari cedera dengan mencegah mereka melakukan hal-hal yang memiliki risiko. Namun, mencegahnya untuk melakukan suatu kegiatan karena dia mungkin tidak memiliki keterampilan seperti anak-anak lain justru akan merusak kepercayaan dirinya dan justru mendorong pesimisme.

4. Tunggu sebelum Bereaksi

Jangan buru-buru membela anak ketika ia di-bully oleh temannya. Biarkan Si Kecil menjadi penasihat bagi dirinya sendiri. Dorong ia untuk mengatakan sendiri pada temannya bahwa ia tidak suka di-bully dan meminta agar temannya tersebut meminta maaf. Jika itu benar-benar tidak berhasil, barulah sebagai orangtua, kamu dapat bereaksi secara bijak. 

5. Hargai Setiap Perjuangan

Mungkin pernah ada saatnya Si Kecil menganggap bahwa ia tidak pintar dalam bidang matematika atau tidak bisa menggambar dengan baik. Untuk mencegah kesimpulan semacam itu, cobalah untuk mengubah perspektif Si Kecil. Untuk membingkai ulang pikirannya secara lebih positif, ibu mungkin bisa berkata, "Pada awalnya memang sulit, tetapi nanti akan menjadi lebih mudah ketika berusaha”. Bantu dia tetap berharap dengan menyebutkan keterampilan lain yang dia kuasai.

  • Ajak Anak untuk Mendekatkan Diri pada Tuhan

Ajari anak untuk mengenal Tuhannya dan kembangkan keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang yang akan membantu setiap hamba-Nya yang sedang mengalami kesulitan. Studi juga sudah membuktikan bahwa anak-anak yang memiliki keyakinan rohani lebih baik mampu mengembangkan sikap positif dan optimis yang lebih baik pula.

Mungkin masih banyak cara mendidik anak yang baik yang dapat ibu terapkan dalam keseharian. Ibu dapat berdiskusi secara langsung pada psikolog melalui aplikasi Halodoc mengenai pola asuh lainnya.

Referensi:

Parents. Diakses pada 2019. 6 Tips to Raise an Optimist.