• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Toxic Positivity Bisa Memberikan Efek Negatif

Toxic Positivity Bisa Memberikan Efek Negatif

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Saat kamu sedang merasakan masalah yang dirasa sulit untuk dilalui, bercerita dengan seseorang yang dapat dipercaya adalah salah satu solusi. Dengan melakukan hal tersebut diharapkan perasaan yang lebih baik dapat timbul, sehingga mampu melewati masa tersebut. Meski begitu, beberapa kata-kata penyemangat yang diberikan oleh orang lain ternyata dapat berdampak negatif dalam jangka panjang, lho!

Hal ini disebut juga dengan toxic positivity. Pasti kamu bingung kan alasan jika ujaran yang positif malah menimbulkan efek negatif pada seseorang. Saat seseorang mendapatkan toxic positivity dari orang yang dipercaya, dirinya mulai mengabaikan emosi negatif di dalam tubuh. Hal tersebut dapat menyebabkan kondisi jika selalu positif menjadi cara yang paling baik untuk menjalani kehidupan. Berikut ulasan lengkapnya!

Baca juga: Bukan Depresi, Hati-Hati Emosi Bisa Menular

Efek Negatif dari Toxic Positivity

Toxic positivity adalah kondisi yang terjadi saat seseorang selalu beranggapan dengan berpikir positif, semua masalah dapat dilewati dengan baik. Orang ini percaya jika dengan selalu positif dapat menjadi cara yang tepat untuk mengatasi semua masalah. Pengidapnya kerap menolak perasaan emosi yang negatif dan akhirnya dapat bertumpuk dan menimbulkan gangguan saat kesulitan untuk dibendung.

Seseorang yang percaya pada toxic positivity akan terus berusaha menghindari emosi negatif, padahal perasaan tersebut dihasilkan oleh otak untuk menandakan bahaya. Jika terus dibiarkan, kamu akan kesulitan untuk menilai masalah yang terjadi dan menganggap jika masalah yang terjadi akan terlewati dengan sendirinya. Pasti kamu tidak ingin hal tersebut terjadi bukan?

Selain itu, kamu juga dapat menjadi sumber toxic positivity saat selalu memaksakan orang lain melihat sisi baik ketika sesuatu yang buruk terjadi. Padahal, mungkin saja temannya tersebut hanya ingin meluapkan perasaannya, bukan untuk mendapatkan nasehat yang positif. Dengan begitu, dirinya tidak dapat mengekspresikan emosi yang dipendamnya dan mungkin berdampak buruk juga pada akhirnya.

Contoh beberapa kata yang mengandung toxic positivity adalah:

"Jangan menyerah, kamu pasti bisa."

"Coba untuk melihat sisi positifnya, ..."

"Kamu harus bersyukur, coba lihat penderitaan orang lain."

"Kamu harus banyak bersyukur akan hal tersebut, ..." dan sebagainya.

Baca juga: Remaja Mudah Marah, Ini Penyebabnya

Penyangkalan demi penyangkalan terus dilakukan yang akhirnya dapat menjadi pemicu stres dan gangguan psikis hingga fisik. Beberapa dampak buruk juga dapat terjadi akibat toxic positivity. Berikut beberapa dampaknya:

1. Kebingungan pada Emosi Sendiri

Seseorang yang terus fokus pada toxic positivity pada akhirnya dapat mengalami kebingungan oleh emosi yang timbul di dirinya. Gangguan tersebut dapat membuat pengidapnya tidak berpikir secara realistis. Jika terus dibiarkan, rasa kebingungan akan sesuatu yang dihadapi dapat timbul, sehingga sulit untuk mencari solusi dari masalah tersebut. Pada akhirnya, rasa stres semakin bertambah dan menunggu untuk meledak.

2. Sulit Menggambarkan Perasaan

Orang yang sangat percaya pada toxic positivity akan sulit menggambarkan perasaan negatif pada dirinya. Sehingga, dia tidak dapat mengeluarkan rasa marah dan kesal terhadap suatu hal. Hal tersebut mengakibatkan orang di sekitar tidak tahu masalah yang dirasakan dan terus beranggapan jika semua baik-baik saja. Jika sudah seperti ini, ada baiknya untuk mendapatkan penanganan dari psikolog.

Baca juga: Marah Tanpa Sebab, Mungkin Alami 6 Kondisi Ini

Jika kamu sedang mengalami ini, ada baiknya untuk memutus rantai masalah tersebut. Apabila terus dibiarkan, masalah yang lebih besar akan terjadi dan kamu semakin tidak dapat mengendalikan diri. Saat kamu merasakan diri terlalu positif, cobalah untuk berdiskusi dengan psikolog dari Halodoc untuk mendapatkan saran agar lebih baik. Caranya hanya dengan download aplikasi Halodoc di smartphone kamu!

Referensi:
The Psychology Group. Diakses pada 2020. Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes.
Huff Post. Diakses pada 2020. What Is Toxic Positivity? Why It’s OK To Not Be OK Right Now.