• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Trauma Bisa Memicu Seseorang Alami OCD

Trauma Bisa Memicu Seseorang Alami OCD

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Menjaga kesehatan mental menjadi salah satu hal yang cukup penting bagi tiap orang. Tidak hanya kesehatan fisik saja, kesehatan mental yang terjaga dengan optimal juga memengaruhi kualitas hidup seseorang. Berbagai gangguan kesehatan mental dapat dialami oleh siapa saja yang mengalami beberapa faktor pemicu, salah satunya adalah kondisi trauma.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh 5 Tipe Gangguan OCD

Bukan hanya depresi, rasa trauma yang tidak diatasi dengan baik meningkatkan risiko seseorang mengalami obsessive compulsive disorder (OCD) atau dikenal juga dengan gangguan obsesif kompulsif. OCD adalah gangguan mental yang menyebabkan pengidapnya harus melakukan segala sesuatu secara berulang-ulang. Jika keinginan ini tidak dipenuhi, akan membuat pengidapnya merasa cemas atau takut.

Kenali Penyebab Terjadinya OCD

Penyakit OCD dapat dialami oleh siapa saja namun gejala dari OCD terlihat ketika seseorang memasuki usia remaja atau di awal usia dewasanya. Pengidap OCD umumnya menyadari bahwa kebiasaan atau perilaku yang ia lakukan merupakan hal yang berlebihan, namun, pengidap tidak dapat menghentikan keinginan untuk melakukan suatu hal secara berulang.

Umumnya, penyebab OCD belum diketahui secara pasti. Melansir dari Mayo Clinic, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami OCD, seperti adanya gangguan kesehatan pada bagian otak, faktor genetik atau riwayat keluarga, dan beberapa peristiwa yang menyebabkan pengidap mengalami trauma.

Selain itu, adanya gangguan kesehatan mental lainnya juga meningkatkan risiko alami OCD, seperti gangguan kecemasan, stres, dan depresi. Melansir dari OCD UK, meskipun stres dan depresi bukan menjadi penyebab langsung seseorang mengalami OCD, namun kondisi ini dinilai menjadi pemicu yang cukup besar untuk tingkatkan risiko OCD.

Baca juga: Trauma Masa Kecil Apakah Benar Menjadi Pemicu OCD?

National Health Service mengungkapkan, gejala yang dialami oleh pengidap OCD memiliki pikiran obsesi yang tidak diinginkan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Pikiran obsesi tersebut membuat pengidap OCD melakukan perilaku berulang sebagai akibat dari tingkat kecemasan yang tinggi. 

Meskipun sudah melakukan perilaku yang berulang, hal ini tidak menghilangkan rasa cemas yang dialami. Misalnya, pengidap OCD memiliki gejala obsesif dengan memiliki rasa khawatir terhadap penyakit, kuman, atau kotoran yang dianggap akan mengganggu kesehatan serta kualitas hidupnya.

Gejala obsesif ini menimbulkan gejala kompulsi, seperti mencuci tangan berkali-kali hingga mengalami iritasi pada area kulit tangan akibat tidak ingin terpapar suatu hal yang menjadi pikiran dari gejala obsesifnya.

Tanpa disadari, gejala OCD juga bisa menyebabkan munculnya gangguan kesehatan secara fisik, misalnya iritasi pada kulit, kulit kering, bahkan infeksi pada area tangan. 

Kunjungi Psikiater Jika Kamu Mengalami Ini

Faktanya, tidak semua pikiran yang dipikirkan secara berulang menjadi tanda dari OCD. Namun, sebaiknya minta bantuan pada psikiater di rumah sakit terdekat ketika kamu mengalami beberapa tanda. Melansir Psych Central, sebaiknya segera lakukan pengobatan jika kondisi gejala obsesif dan kompulsi yang dialami mengganggu aktivitas kamu sehari-hari.

Selain itu, jika kamu merasa pikiran kamu berlebihan namun kamu tidak dapat menghentikan tindakan yang kamu lakukan secara berulang, tidak ada salahnya lakukan pemeriksaan terkait dengan OCD akan gangguan kesehatan mental yang dialami tidak semakin buruk.

Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi OCD, seperti terapi perilaku kognitif. Terapi ini dilakukan untuk membuat pengidap OCD dapat mengontrol dirinya saat berpikir sesuatu yang obsesif, sehingga menghindari tindakan kompulsi yang biasanya dilakukan.

Baca juga: Langkah-Langkah Menghilangkan Pemikiran Obsesif

Jangan lupa untuk selalu mendampingi pengidap OCD. Dukungan keluarga dan kerabat terdekat menjadi salah satu cara pengobatan yang paling efektif dilakukan untuk menurunkan gejala OCD yang dapat muncul kapan saja.

Jika ada yang ingin ditanyakan tentang penyakit OCD, kamu bisa menghubungi dokter atau psikolog langsung melalui aplikasi Halodoc, kapan saja dan di mana saja. Kini kenyamanan dalam pemeriksaan kesehatan hanya lewat genggaman.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. What is Obsessive Compulsive Disorder?
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Obsessive Compulsive Disorder
OCD UK. Diakses pada 2020. What Causes OCD?
Psych Central. Diakses pada 2020. When to Seek Treatment for OCD
National Health Service UK. Diakses pada 2020. OCD