• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Trauma Fisik Bisa Jadi Penyebab Gangguan Kepribadian Paranoid

Trauma Fisik Bisa Jadi Penyebab Gangguan Kepribadian Paranoid

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Seseorang yang mengalami gangguan kepribadian paranoid umumnya berperilaku aneh dan tidak biasa untuk orang lain. Selain berperilaku aneh, pengidap gangguan kepribadian paranoid juga gampang curiga terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas. Mereka bisa tiba-tiba percaya bahwa seseorang punya motif yang buruk dan bisa menyakiti mereka. Padahal, belum tentu yang mereka pikirkan itu benar dan seringkali memang tidak benar. 

Ciri-ciri lain dari gangguan kepribadian paranoid adalah berperilaku sangat tertutup kepada orang lain, menyimpan dendam, sangat sensitif dengan orang lain, mudah marah, dan bermusuhan dengan orang lain. Gangguan kepribadian paranoid umumnya muncul di awal masa dewasa. Selain itu, kondisi ini sering kali hasil dari peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi di masa lalu. Apakah trauma fisik termasuk faktor penyebabnya? Simak ulasan berikut.

Baca juga: Mitos dan Fakta Seputar Gangguan Kepribadian Paranoid

Apakah Trauma Fisik Bisa Menyebabkan Gangguan Kepribadian Paranoid?

Sebenarnya, penyebab pasti gangguan kepribadian paranoid tidak diketahui. Namun, kemungkinan besar penyebabnya melibatkan kombinasi faktor biologis dan psikologis. Gangguan kepribadian paranoid lebih sering terjadi pada orang yang memiliki kerabat dekat yang mengidap skizofrenia dan gangguan delusi. Artinya, kondisi ini bisa saja menurun secara genetik. 

Namun, penyebab umum lainnya adalah kejadian tidak menyenangkan di masa lalu, seperti trauma fisik atau emosional. Seseorang yang pernah mengalami trauma fisik dan emosional sangat berpeluang besar mengalami gangguan kepribadian paranoid maupun masalah kesehatan mental lainnya. Oleh sebab itu, penting untuk segera mengatasi masalah trauma supaya tidak mengembangkan masalah kesehatan mental di kemudian hari.

Gejala Gangguan Kepribadian Paranoid yang Harus Diwaspadai

Sering kali orang yang mengalami gangguan kepribadian paranoid tidak percaya bahwa perilakunya tidak normal. Mereka merasa sangat rasional untuk mencurigai orang lain. Namun, orang-orang di sekitarnya justru menganggap perilakunya itu tidak beralasan dan menyinggung perasaan. Orang dengan gangguan kepribadian paranoid mungkin juga berperilaku kasar atau keras kepala. Mereka bisa sarkastik, sehingga mudah memicu permusuhan dengan orang lain.

Gangguan kepribadian paranoid juga kerap dibarengi dengan kondisi lain, seperti depresi dan kecemasan yang mampu memicu perubahan suasana hati yang ekstrem. Perubahan suasana hati dapat membuat pengidap cenderung merasa paranoid dan terisolasi. Gejala lainnya termasuk:

  • Percaya bahwa orang lain punya motif tersembunyi atau ingin menyakiti dirinya.
  • Meragukan loyalitas orang lain.
  • Hipersensitif terhadap kritikan orang lain.
  • Sulit bekerja sama dengan orang lain.
  • Mudah marah dan memusuhi.
  • Mengisolasi diri dari orang lain atau bersikap sangat tertutup.
  • Argumentatif dan defensif.
  • Kesulitan melihat masalahnya sendiri.
  • Tidak bisa bersantai karena selalu was-was dan curiga.

Baca juga: Begini Tes untuk Diagnosis Gangguan Kepribadian Paranoid

Gejala gangguan kepribadian paranoid memang menyerupai gejala gangguan lain, seperti skizofrenia dan gangguan kepribadian ambang. Maka dari itu, bisa sulit untuk mendiagnosis gangguan ini dengan jelas. Jika kamu merasa bahwa orang terdekat mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya tanyakan pada psikiater atau psikolog lewat aplikasi Halodoc terlebih dahulu untuk memastikannya. Lewat Halodoc kamu bisa menghubungi mereka kapan saja dan di mana saja via Chat atau Voice/Video Call.

Bagaimana Cara Mengobatinya?

Kebanyakan orang dengan kondisi ini sulit menerima pengobatan karena selalu merasa pikiran dan perilakunya rasional. Ketika pengidapnya telah bersedia menerima pengobatan, terapi bicara atau psikoterapi sangat membantu. Kedua metode ini akan membantu pengidap supaya belajar mengatasi gangguan yang mereka alami. Mereka juga akan diajari cara berkomunikasi dengan orang lain dalam situasi sosial. Selain itu, terapis akan membantu mengurangi perasaan paranoia yang dialami pengidap.

Baca juga: Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Gangguan Paranoid?

Selain terapi, obat-obatan juga dapat membantu, terutama jika pengidap mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Obat-obatan yang umumnya diberikan yakni antidepresan, benzodiazepin dan antipsikotik.



Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder.