• Home
  • /
  • Ini 3 Trauma Fisik yang Bisa Dialami oleh Bayi

Ini 3 Trauma Fisik yang Bisa Dialami oleh Bayi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ini 3 Trauma Fisik yang Bisa Dialami oleh Bayi

Halodoc, Jakarta - Melahirkan adalah momen yang panjang dan berat bagi seorang wanita. Setiap ibu yang akan melahirkan harus berusaha sekuat mungkin agar persalinan yang terjadi tetap normal. Namun, tahukah kamu apabila bayi dapat mengalami trauma saat terjadi persalinan?

Tidak semua persalinan terbilang sesuai dengan harapan yang ada. Ada kalanya hal tersebut menyulitkan untuk dilakukan, sehingga menimbulkan trauma pada bayi. Trauma tersebut bisa memberikan dampak buruk bagi kondisi fisiknya. Maka dari itu, ibu harus tahu beberapa trauma pada bayi yang dapat terjadi pasca persalinan. Berikut ulasan lengkapnya!

Baca juga: Bagaimana Mendampingi Anak yang Mengalami Trauma atau Depresi

Beberapa Trauma Fisik pada Bayi yang Dapat Terjadi

Salah satu trauma yang dapat terjadi pada bayi adalah ketika dilahirkan. Anak ibu mungkin saja mengalami luka, patah tulang, hingga cedera lainnya terkait persalinan ketika berlangsung. Kelainan ini lebih sering terjadi ketika bayi berukuran lebih besar dari rata-rata, sehingga lebih besar dibandingkan area panggul ibunya.

Seorang ibu yang melahirkan bayi yang lebih besar dan lebih berat membuat dokter harus menggunakan tangan, forsep, hingga vakum agar lebih mudah untuk dikeluarkan. Dengan begitu, risiko untuk mengalami cedera dapat meningkat sejalan dengan terlalu banyak kekuatan fisik yang dikeluarkan ketika memegang bayi atau tidak berhati-hati dengan alat-alat bantu tersebut.

Trauma bayi saat persalinan ini yang paling umum terjadi pada kepala, leher, dan bahu, walau tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada bagian tubuh lainnya. Area-area tubuh tersebut lebih berisiko mengalami luka karena umumnya posisi akan lebih dahulu timbul saat persalinan. Berikut beberapa trauma pada bayi yang dapat menyebabkan cedera:

  1. Caput Succedaneum

Trauma pada bayi yang menyebabkan cedera pada fisik adalah caput succedaneum. Bayi yang mengalami gangguan ini disebabkan adanya pembengkakan pada kulit kepala, umumnya selama atau segera setelah dilahirkan. Faktor risiko ini meningkat disebabkan tekanan dari rahim sang ibu atau dinding vagina selama terjadinya persalinan. 

Gangguan trauma bayi ini lebih mungkin terjadi apabila persalinan terjadi dalam waktu yang lama dan sulit dilakukan. Apalagi ketika kantung ketuban pecah dan kepala bayi tidak terlindungi saat melewati jalan lahir. Penggunaan perangkat vakum selama persalinan yang terlalu lama membuat bayi mengidap gangguan caput succedaneum ini.

Memang trauma pada bayi yang baru dilahirkan dapat mengkhawatirkan. Untuk menurunkan rasa khawatir tersebut, dokter dari Halodoc dapat memberikan saran terbaik terkait hal tersebut. Caranya mudah, kamu cukup download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan sehari-hari!

Baca juga: Trauma Akibat Orangtua Bisa Picu Kepribadian Ganda pada Anak

  1. Cephalohematoma

Cephalohematoma juga termasuk trauma pada bayi yang terjadi saat persalinan. Gangguan ini terjadi disebabkan akumulasi darah di bawah periosteum, yaitu selaput pelindung yang menutupi tengkorak bayi. Gejala dari gangguan ini seperti benjolan di kepala bayi yang timbul beberapa jam setelah melahirkan. Benjolan tersebut terasa lunak dan dapat tumbuh lebih besar beberapa jam setelahnya.

Walau begitu, kebanyakan kasus dari cephalohematoma tidak membutuhkan perhatian medis khusus dan dapat menghilang setelah beberapa minggu. Pasalnya, tubuh akan menyerap kembali darah lebih tersebut. Namun, beberapa kasus dapat menyebabkan penyakit kuning jika ukurannya terlalu besar dan terlalu banyak sel darah merah yang rusak di kepala.

  1. Memar dan Patah Tulang

Bayi juga dapat mengalami trauma pasca persalinan lainnya seperti memar dan patah tulang. Memar dapat timbul karena wajah, kepala, dan bagian tubuh lainnya mengalami tekanan fisik dari jalan lahir atau mengalami kontak dengan tulang dan jaringan di panggul sang ibu. Penggunaan forsep selama persalinan juga dapat meninggalkan bekas di kepala atau wajah bayi karena penggunaan yang terlalu kuat.

Seperti halnya dengan memar, patah tulang juga dapat terjadi karena penggunaan alat bantu kelahiran yang tidak tepat, atau ketika bayi ditarik terlalu kuat. Pada kasus yang sangat jarang dan terbilang lalai, dokter dan staf medis mungkin saja menjatuhkan bayi yang baru lahir sehingga tulangnya patah.

Baca juga: Trauma pada Anak Bisa Ganggu Karakternya saat Dewasa?

Itulah beberapa trauma pada bayi yang dapat terjadi saat persalinan. Dengan mengetahui beberapa hal ini, diharapkan agar gangguan ini dapat dicegah kelak saat waktunya persalinan. Sehingga, bayi yang ibu lahirkan tetap sehat dan tidak ada satu gangguan apa pun yang dapat terjadi.

Referensi:
Birth Injury Guide. Diakses pada 2020. Birth Trauma
ABC Law Centers. Diakses pada 2020. Traumatic Birth Injuries: Risk Factors and Classification