• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Usai Operasi Kepala, EEG dan Brain Mapping Perlu Dilakukan

Usai Operasi Kepala, EEG dan Brain Mapping Perlu Dilakukan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Saat melakukan berbagai aktivitas fisik, sebaiknya selalu berhati-hati. Selalu berikan perlindungan pada bagian kepala, karena apabila terjadi cedera bisa berbahaya. Cedera kepala yang cukup parah dapat meningkatkan risiko gangguan pada otak. Cedera yang parah membutuhkan penanganan medis, salah satunya adalah tindakan operasi kepala untuk menangani gangguan yang terjadi pada otak agar kondisi tidak semakin memburuk.

Baca juga: Apa Tujuan Dilakukan Pemeriksaan EEG dan Brain Mapping?

Penanganan yang dilakukan dengan optimal dapat membuat seseorang dapat kembali pulih dari gangguan kesehatan yang dialami. Selain menjalani perawatan, tindakan operasi kepala yang berhasil dilakukan memerlukan pemeriksaan ulang melalui EEG dan brain mapping untuk memastikan kesehatan seseorang. 

Penjelasan Tentang EEG dan Brain Mapping

EEG dikenal juga sebagai pemeriksaan electroencephalogram. Biasanya, EEG digunakan untuk mendeteksi aktivitas listrik pada otak melalui elektroda yang ditempelkan pada kulit kepala. Sel otak bekerja dan berkomunikasi melalui impuls listrik yang aktif setiap saat bahkan saat kamu tertidur. Aktivitas pada otak akan ditampilkan sebagai garis bergelombang pada rekaman EEG.

Melansir Mayo Clinic, metode EEG mendiagnosis adanya penyakit epilepsi. Selain itu, metode EEG dan brain mapping juga mampu mendiagnosis gangguan kesehatan pada otak lainnya, seperti alzheimer, psikosis, dan gangguan tidur. Metode EEG juga dapat melihat aktivitas listrik keseluruhan pada otak, misalnya ketika seseorang mengalami trauma, keracunan obat, atau pasien koma.

EEG dan brain mapping juga bisa memantau aliran darah di otak selama tim medis melakukan prosedur bedah. Pengidap stroke dan pasien yang mengalami cedera kepala yang parah juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan dengan EEG dan brain mapping agar gangguan kesehatan yang dialami dapat dideteksi dengan lebih dini. Gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya langsung pada dokter mengetahui lebih mendalam tentang metode EEG dan brain mapping.

Baca juga: Lakukan Pemeriksaan EEG, Adakah Efek Sampingnya?

Persiapan Sebelum EEG dan Brain Mapping

Sebelum melakukan EEG dan brain mapping, ada beberapa persiapan yang sebaiknya dilakukan. Hindari mengonsumsi makanan atau minuman sebelum melakukan EEG dan brain mapping karena memengaruhi hasil pemeriksaan. Sebaiknya cuci rambut malam hari sebelum melakukan pemeriksaan namun hindari penggunaan pelembap rambut, gel rambut, atau hair spray. Penggunaan perawatan rambut dapat membuat alat elektroda lebih sulit menempel pada kulit kepala. 

Pada saat pemeriksaan, mungkin kamu sedikit merasa kurang nyaman akibat elektroda yang ditempel langsung pada kulit kepala. Namun, elektroda tersebut tidak akan menyebabkan sensasi apapun dan hanya menangkap gelombang listrik dari otak saja. Melansir dari WebMD, saat proses EEG dan brain mapping dilakukan dalam posisi berbaring. Kemudian, tim medis meletakkan sekitar 20 elektroda pada kulit kepala yang berfungsi untuk menangkap gelombang listrik dari otak yang dikenal dengan neurons dan merekamnya yang terlihat pada kertas maupun layar monitor.

Baca juga: Pemeriksaan EEG dan Brain Mapping pada Anak dengan ADHD dan Autis

Pasien akan diminta untuk selalu tenang dan perlahan menutup mata. Kemudian kamu akan diminta untuk menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Kondisi ini mengubah neurons yang tertangkap pada elektroda.

Mesin EEG hanya akan menangkap neurons tanpa menstimulasi apapun. Proses EEG dapat memakan waktu 45 menit hingga 2 jam. Setelah menjalani tes, tim medis akan mencabut elektroda yang terpasang dan kamu bisa melakukan aktivitas seperti biasa. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. EEG
Web MD. Diakses pada 2020. What Is EEG?
John Hopkins. Diakses pada 2020. EEG