Vape Mau Dilarang, Apa Bahayanya bagi Paru-Paru?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Vape Mau Dilarang, Apa Bahayanya bagi Paru-Paru?

Halodoc, Jakarta - Mau tahu berapa banyaknya nyawa yang melayang akibat zat-zat beracun di dalam rokok ? Menurut data dari WHO, lebih dari 7 juta orang meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan asap rokok tiap tahunnya. Mirisnya, sekitar 890.000 kasus yang berujung kematian mesti dialami oleh perokok pasif. 

Lain rokok tembakau, lain pula rokok elektrik atau vape yang kini banyak digunakan oleh kalangan generasi milenial. Vape disebut-sebut memicu berbagai macam penyakit paru-paru. Oleh karena itu, beberapa negara dengan tegas melarang peredaran vape atau kepemilikan vape. 

Sebut saja Singapura, Korea Selatan, Thailand, hingga Turki. Di Singapura seseorang yang merokok vape bisa didenda SG$2.000 (Rp20.659.220). Sedangkan di Korea Selatan lain lagi, pemerintahnya melarang penggunaan kepemilikan vape atau rokok elektrik di kalangan militer. 

Pemerintah Korsel juga mendesak masyarakatnya untuk berhenti menggunakan vape. Alasannya, mengaca dari munculnya penyakit paru-paru akibat penggunaan vape di Amerika Serikat. 

Hmm, sebenarnya ada apa sih dibalik vape yang katanya cenderung “aman” ketimbang rokok tembakau? Apa bahayanya vape bagi paru-paru?

Baca juga: Dilakukan Indoor, Ini Bahaya Rokok Elektrik

Sederet Penyakit Paru Taruhannya

Sejauh ini, pemerintah Amerika Serikat menemukan 47 kematian dari 2.290 kasus cedera atau penyakit paru-paru terkait penggunaan vape. Menurut ahli di The Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vitamin E asetat diduga kuat sebagai biang keladi dari munculnya penyakit paru-paru yang mematikan terkait rokok elektrik. 

Vitamin E digunakan sebagai aditif, terutama sebagai zat pengental dalam produk vape yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC). THC sendiri merupakan bahan kimia yang ditemukan dalam ganja. Di samping itu, CDC juga juga menyarankan agar pengguna vape tidak menggunakan produk rokok elektronik yang mengandung THC, atau memasukan bahan kimia lainnya ke dalam produk vape. 

Ada juga pendapat lain mengenai bahaya vape bagi paru-paru. Berdasarkan rilis dari Kemenkes RI - Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, rokok elektrik tanpa nikotin tetap bisa merusak paru-paru. Dalam rilis tersebut dikatakan, rokok cair elektrik yang diberi perasa, seperti vanili dan kayu manis, bisa merusak paru-paru, meski tidak mengandung nikotin, menurut sebuah studi di Amerika Serikat.

Para peneliti meneliti apa yang terjadi dengan monosit atau sejenis sel darah putih, ketika terpapar bahan kimia penambah rasa yang digunakan pada rokok elektrik cair yang sedang populer.

Meski cairan tersebut tak mengandung nikotin, tetapi bahan kimianya tetap berbahaya bagi tubuh. Setelah diselisik lebih dalam, penambah rasa tersebut  tampaknya meningkatkan penanda biologis (biomarker) untuk menandai adanya pembengkakan dan kerusakan jaringan. Banyak diantaranya mematikan sel-sel.

Nah, ketikan kondisi ini terus berlangsung lama, maka jenis kerusakan sel itu bisa mengakibatkan berbagai masalah paru-paru. Menurut ahli peneliti dari University of Rochester Medical Center di New York, masalah paru-paru yang bisa terjadi, contohnya fibrosis, gangguan paru-paru obstruktif kronis, dan asma. 

Tak cuma itu saja, vape ternyata juga bisa menyebabkan pembengkakan pada paru-paru. Enggak percaya? Ketika para peneliti dalam studi di atas memberikan paparan cairan rokok elektrik pada sel-sel paru manusia di laboratorium, tebak apa yang terjadi? 

Sel-sel paru tersebut meningkatkan produksi zat-zat kimia. Nah, kondisi inilah yang menyebabkan pembengkakan dan bisa berakibat kerusakan pada paru-paru.

Baca juga: Ini Bahaya Rokok Elektrik bagi Anak

Lebih “Aman” dan Sebuah Terapi? 

Beragam alasan seseorang beralih ke rokok vape dari tembakau. Mulai dari rokok vape yang memiliki varian rasa, ada yang bilang lebih hemat, dan sekadar mengikuti tren. Di samping itu, bahkan ada yang beralasan bahwa rokok vape terbilang lebih “aman” ketimbang rokok tembakau, masa sih? 

Ahli di American Heart Association (AHA) dengan tegas mengatakan, peningkatan vape di kalangan anak-anak dan remaja selama beberapa tahun terakhir menjadi ancaman kesehatan yang sangat serius. Tak cuma itu, AHA juga mengatakan vape bisa membahayakan otak remaja, anak-anak, ataupun janin yang sedang berada di dalam kandungan. 

Bagaimana dengan terapi yang disebut-sebut? Ada desas-desus kalau vape bisa dijadikan terapi untuk membantu seseorang berhenti merokok tembakau?

Jangan buru-buru percaya dengan selentingan tersebut. Sebab, WHO sudah menyatakan dan tidak menganggap vape sebagai terapi yang sah dan terbukti ampuh untuk membantu seseorang berhenti merokok, karena masih kurangnya bukti ilmiah. 

Nah, sudah tahu kan bahayanya vape bagi paru-paru? Ringkasnya, rokok elektrik dan tembakau sama-sama berbahaya bagi kesehatan tubuh. So, yakin masih mau mengisap rokok atau vape? 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
CDC. Diakses pada 2019. Outbreak of Lung Injury Associated with the Use of E-Cigarette, or Vaping, Products
CNBC. Diakses pada 2019. South Korea Bans Liquid E-Cigarettes on Army Bases.
Healthline. Diakses pada 2019. Vaping Lung Disease: Over 2,200 Cases Reported, Teen Gets ‘Popcorn Lung’
Kemenkes RI - Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit - Direktorat pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Diakses pada 2019. Rokok Elektrik Tanpa Nikotin Tetap Bisa Merusak Paru-paru
Singapore Legal Advice. Diakses pada 2019. Is Vaping Illegal in Singapore?
American Heart Association. Diakses pada 2019. Is Vaping Better Than Smoking?