• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Varian Delta Baru Menyebar di Indonesia, Berbahayakah?

Varian Delta Baru Menyebar di Indonesia, Berbahayakah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Varian Delta Baru Menyebar di Indonesia, Berbahayakah?

“Ditemukan jika ada mutasi baru dari virus corona yang sudah menyebar di beberapa negara bahkan Indonesia. Ini adalah virus corona varian delta plus yang disebut-sebut lebih berbahaya dari sumber penyakit yang sedang marak menyebar.”

Halodoc, Jakarta – Mutasi dari virus corona masih juga tidak kunjung selesai. Setelah dihantam varian alfa, beta, dan delta, ada varian baru yang dari virus corona yang lebih berisiko tinggi untuk menyerang banyak orang. Jenis virus corona baru ini adalah varian delta plus, yang disebut juga dengan AY.1. Varian ini disebut-sebut telah menyebar di Indonesia. 

Namun, seberapa berbahayakah virus corona jenis varian delta ini? Untuk lebih lengkapnya, baca ulasan berikut ini!

Bahaya dari Virus Corona Varian Delta Plus

Varian dari virus corona yang baru, varian delta plus, telah diidentifikasi di lebih dari 10 negara dan Indonesia salah satunya. Disebutkan jika virus ini terdeteksi di Sulawesi Barat dan Jambi. Otoritas kesehatan terus mengingatkan tentang kemampuan penularan dari virus ini, meski dipercaya jika cara penyebarannya mirip dengan varian delta yang sudah ada sebelumnya.

Baca juga: Mengenal Varian Delta Penyebab COVID-19 Second Wave di India

Varian delta plus yang dikenal juga sebagai B.1617.2.1 atau AY.1 dan pertama kali ditemukan di India. Disebutkan jika varian baru ini merupakan turunan dari varian delta dengan satu-satunya perbedaan yang diketahui adalah mutasi tambahan, K417N, pada lonjakan protein di tubuhnya yang memungkinkan untuk menginfeksi sel-sel sehat saat masuk ke dalam tubuh.

Virus corona varian delta ini telah ditetapkan menjadi “variant of concern” sehingga mendapatkan perhatian terkait risiko terhadap kesehatan masyarakat yang lebih tinggi. Disebutkan jika jenis ini telah menunjukkan peningkatan penularan di masyarakat. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu dikhawatirkan tentang varian delta plus, antara lain:

  • Peningkatan transmisibilitas.
  • Ikatan yang lebih kuat dengan reseptor pada sel paru-paru.
  • Potensi pengurangan respons pada antibodi monoklonal.

Selain itu, lonjakan protein ini juga bertanggung jawab untuk mengikat reseptor di permukaan sel yang memungkinkan virus untuk masuk. Mutasi pada protein ini dapat memperkuat interaksi ini sehingga risiko untuk seseorang tertular lebih tinggi. Maka dari itu, penting sekali untuk melindungi diri dari serangan virus ini.

Baca juga: Varian Delta COVID-19 Rentan Serang Anak, Ini Faktanya

Diketahui jika mengonsumsi vitamin secara rutin dapat membantu tubuh untuk melindungi diri dari serangan virus. Kamu dapat memenuhi kebutuhan vitamin harian kamu dengan memesannya melalui Halodoc. Pemesanan dapat langsung di antar ke rumah tanpa perlu harus bersusah payah ke luar guna menghindari risiko terpapar virus corona. Download aplikasinya sekarang juga!

Lalu, bagaimana dengan tingkat keefektivitasan dari vaksin?

Untuk tingkat efektivitas dari vaksin, Pfizer dan AstraZeneca masih menjadi pilihan yang sangat baik untuk mencegah dampak buruk dari virus corona varian delta. Tingkat efektivitas dari Pfizer dan AstraZeneca masing-masing sebesar 96 persen dan 92 persen setelah kedua dosis diberikan. Terbukti, vaksin ini dapat mencegah rawat inap dan penyakit parah pada orang yang terserang.

Namun, untuk vaksin terhadap varian delta plus masih belum ada data yang cukup. Sejauh ini belum ada tanda-tanda yang jelas terkait varian ini yang menginfeksi seseorang yang telah menerima vaksin. Di samping itu, belum ada negara dengan kasus ini yang melaporkan adanya lonjakan pada jumlah orang yang terserang.

Baca juga: Kenali Varian Alpha, Beta, dan Delta dari Virus COVID-19

Memang, penelitian lebih lanjut dan banyak data diperlukan untuk melihat karakteristik dari virus corona varian delta plus ini dan cara virus ini menginfeksi. Dengan memastikan kemampuan virus untuk menyebabkan peningkatan penularan atau keparahan, langkah-langkah pencegahan dapat dilakukan.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2021. Delta plus variant of SARS-CoV-2: How does it compare with the delta variant?