Viral Layangan Putus, Ini Hubungan Kesetiaan dan Psikologi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Viral Layangan Putus, Ini Hubungan Kesetiaan dan Psikologi

Halodoc, Jakarta - “Selingkuh”… mendengar kata tersebut, apa yang terbesit dalam benakmu? Pelakor, buaya darat, cinta buta, nasib buruk, atau mungkin suratan takdir? Banyak kata yang bisa melukiskan selingkuh. Satu hal yang pasti, lewat catatan sejarah, permasalahan klasik ini sudah ada sejak dahulu kala. Mau bukti? 

Ambil contoh Mary Stuart pada 1500-an, seorang Ratu Skotlandia yang terlibat perselingkuhan hingga berujung maut. Maut dalam arti harfiah lho. Queen of Scots tersebut dieksekusi oleh Ratu Elizabeth I karena diduga melakukan pengkhianatan. Tragis, ya? 

Mau yang kasus perselingkuhan yang masih hangat-hangatnya? Lihatlah alur cerita Layangan Putus yang viral di sosial media. Ceritanya mengisahkan cinta pasangan suami istri yang harus kandas karena orang ketiga.

Terlepas dari fakta atau fiktif, kisah Layangan Putus sudah terlanjur viral dan menuai simpati dari warganet. Bahkan, banyak orang mencari tahu sosok laki-laki dan perempuan yang dituding menjadi biang kerok dalam hubungan tersebut. 

Layangan Putus tidak usah dikejar, coba lupakan sejenak. Ada beberapa hal yang mungkin lebih menarik untuk kita bahas. Kira-kira adakah ukuran kesetiaan dalam cinta? Mengapa seseorang berselingkuh? Kenapa pula mesti “mengumbar” cerita tersebut untuk santapan publik?

Bingung? Jangan biarkan dahimu terus berkerut. Kimia cinta memang menyimpan banyak pertanyaan dan tentu saja, misteri. 

Baca juga: Benarkah Perasaan Cinta Hanya Permainan Hormon Semata?

Faktor “X” yang Sulit Diprediksi

Percayalah, akal ingin selalu mengatur, tetapi cinta tidak pernah patuh. Mungkin kalimat tersebut bisa digunakan untuk melukiskan isi kepala seseorang yang terlibat cinta terlarang dan perselingkuhan. Pada dasarnya, tiada suami atau istri yang berniat selingkuh. Bila itu terjadi, maka bisa disebut kepleset. Faktor utamanya adalah jenuh! 

Menjaga kesetiaan pasangan memang gampang-gampang susah, seperti mudah diucapkan, tetapi terkadang sulit setengah mati untuk dipraktikkan. Lalu, kira-kira lebih banyak mana, wanita atau pria yang sering terpeleset ke dunia perselingkuhan? 

Nah, menurut hasil survei Married Sex Survey 2013 dari iVillage, pria memang lebih banyak berselingkuh di dalam pernikahannya bila dibandingkan dengan wanita. Angka pria yang berselingkuh mencapai 28 persen. Kaum hawa pun menghujat, “Dasar pria, buaya darat!” Hey, tunggu dulu, jangan bias gender. 

Wanita di survei tersebut juga mengaku berselingkuh kok. Angkanya sebesar 13 persen. Nah, kesimpulannya, baik pria maupun wanita sama-sama punya potensi untuk berselingkuh. Setuju? 

Lantas apa faktor “X” yang membuat mereka terjebak dalam romansa perselingkuhan? Untuk wanita banyak problem dan faktor pendorongnya. 

  • Merasa tidak dihargai.

  • Menginginkan keintiman yang lebih. 

  • Memiliki harapan yang berlebih pada pasangannya, tetapi tidak terpenuhi.

  • Dikejar pria lain.

  • Hasrat seks yang tidak terpenuhi.

  • Merasa kesepian.

  • Keterikatan emosional yang berkurang.

  • Suami yang tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga.

  • Balas dendam untuk menyamakan kedudukan.

  • Perubahan motivasi. 

Lain wanita, lain pula alasan pria yang nekat masuk ke dalam drama perselingkuhan.

  • Ketidakdewasaan, karena minim pengalaman dalam hubungan berkomitmen.

  • Masalah kecanduan obat-obatan, alkohol, ataupun seks.

  • Hasrat seks yang tidak terpenuhi.

  • Insecurity, seperti merasa tidak cukup tampan, kaya, pintar, dan lain-lain. 

  • Pernah mengalami pelecehan fisik atau emosional.

  • Egois, pertimbangan utamanya adalah untuk dirinya sendiri.

  • Merasa memiliki keistimewaan yang mungkin tidak dimiliki pria lain, sehingga merasa bebas mendapatkan “reward” di luar hubungan utamanya. 

  • Hasrat seks yang tidak terpenuhi.

  • Ekspektasi terhadap pasangan yang tidak realistis.

  • Kemarahan atau balas dendam.

Sulit ditebak bukan, mengapa pria dan wanita berselingkuh? Hal yang perlu diingat, setiap individu diciptakan dengan karakter dan keunikan yang amat spesifik. Karena itu, alasan seseorang berselingkuh bisa berbeda-beda. 

Baca juga: Bukan Fisik, 3 Tanda Kalau Pasangan Selingkuh Perasaan

Cari Perhatian atau Sebuah Terapi?

Coba tebak, apa bedanya berkeluh kesah di buku harian (diary) dengan media sosial? Pada dasarnya, kedua kegiatan itu serupa. Hanya saja diary lebih membebaskan penulisnya. Singkat kata, tidak ada gengsi atau pencitraan yang mesti dijaga. Bahkan, mengeluarkan unek-unek atau rahasia dan tabu pun bukan menjadi masalah, sebab tidak akan ada yang mengomentari atau mencaci.

Menurut psikoterapis dari Center for Journal Therapy, terapi buku harian bisa mengajari seseorang tentang dirinya. Kegiatan ini mendokumentasikan pengalaman dan membantu mereka mendengarkan suara dalam benak sekaligus kebutuhan tubuh.

Bagaimana dengan “diary” yang ditulis kelincahan jari di layar smartphone dan diunggah ke media sosial? Ada istilah yang bisa digunakan dalam fenomena ini. Namanya relationship visibility, dipublikasi dalam Personality and Social Psychology Bulletin. 

Relationship visibility ini menjelaskan sejauh mana seseorang menjadikan hubungannya bagian dari ruang publik. Studi ini menyoroti cara seseorang menggambarkan potret dirinya dalam hubungan (rumah tangga/pasangan kekasih) kepada masyarakat luas.

Ada satu hal yang bisa disimpulkan dari seseorang yang memiliki relationship visibility yang tinggi, dan mengunggah sesuatu yang berlebihan mengenai pasangannya. Mereka mungkin menjadikan hal tersebut sebagai “topeng” dari keadaannya, alias status ketidakamanan di dalam hubungannya (relationship insecurity). Ketika seseorang merasakan keadaan tidak aman dalam hubungannya, mereka cenderung membuat hal tersebut semakin terlihat (di media sosial). Lantas, apa alasannya?

Menurut terapis pernikahan dan keluarga dari AS, orang yang sering posting masalah dengan pasangannya, seringnya bertujuan untuk mencari perhatian positif, karena tidak ada “jaminan” dari pasangannya.

Baca juga: Menyakitkan, 5 Hal Ini Bisa Jadi Alasan Bercerai

Kesetiaan Ada Alat Ukurnya

“Kesetiaan” dalam KBBI artinya keteguhan hati atau berpegang teguh. Bila disimpulkan dalam kehidupan rumah tangga berarti berpegang teguh pada janji suci tali pernikahan. Setuju, kan?

Namun, bagaimana mengukur kesetiaan pasangan? Apa yang bisa menjadi indikatornya? Nah, untuk mempersempit arti kesetiaan, pakar psikologi membagi kesetiaan dalam tiga bentuk. Pertama, kesetiaan emosional, kesetiaan finansial, dan terakhir kesetiaan seksual.

  1. Kesetiaan Emosional

Tanda pasangan setia yang satu ini berarti enggak flirting (menggoda) orang lain. Meski kamu pikir ini mudah, kenyataannya ketidaksetiaan secara emosional ini sering terjadi tanpa kita sadari. Contoh, kita mungkin saja menggoda lawan jenis yang pada akhirnya memiliki keterlibatan emosi yang dalam dengan mereka.

Selain itu, hal yang perlu kamu ingat jangan pula menawarkan perhatian lebih pada orang lain. Enggak peduli seberapa dekat dan peduli dirimu pada mereka. Sebab, inilah cikal bakal yang bisa menimbulkan keterikatan emosi dengan mereka.

  1. Kesetiaan Finansial

Pendek kata, sepenuhnya terbuka dan transparan pada pasangan soal pengeluaran. Misalnya, enggak membuat keputusan sendiri ketika menggunakan uang dengan nominal yang besar. Nah, misalnya punya rekening bank rahasia, melakukan pembayaran yang ditutupi dari pasangan, atau memiliki simpanan uang tunai, artinya sudah enggak setia dalam hal finansial.

Meski kejujuran dan dan keterbukaan adalah faktor utama dalam kesetiaan, menurut ahli kadang boleh saja bila kita menyimpan sendiri pemikiran dan perasaan yang sangat pribadi dari pasangan. Intinya, kesetiaan bisa dicapai melalui kejujuran yang diseimbangkan dengan kebijaksanaan, dan pengendalian diri yang baik.

  1. Kesetiaan Seksual

Bentuk kesetiaan yang satu ini enggak bisa diperdebatkan lagi, dan enggak bisa diganggu gugat. Tentu saja artinya tegas: tidak melakukan hubungan seks selain dengan pasangan sendiri. 

Nah, kini pertanyaannya simpel, masih setiakah pasanganmu? Atau kebalikannya, masih setiakah dirimu?

Mungkin terdapat beribu satu alasan untuk “membenarkan” perselingkungan. Namun, selingkuh tetaplah selingkuh.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada psikolog atau dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi: 
Huffington Post. Diakses pada 2019. Sex Secrets Of Married Couples Revealed In Survey.
Huffington Post. Diakses pada November 2019. What It Means When Couples Constantly Post About Each Other On Social Media
Psychology Today. Diakses pada 2019. 13 Reasons Why Men Cheat.
Psychology Today. Diakses pada 2019. 7 Key Reasons Why Some Women Cheat
Psychology Today. Diakses pada 2019. How Faithful Are You Really in Your Marriage?
The Daily Telegraph. Diakses pada 2019. Mary, Queen of Scots, was 'adulteress, liar and murderer'
Web MD. Diakses pada 2019. Why Women Cheat?