Pengaruhi Pertumbuhan, Virus Zika Juga Bisa Ganggu Pendengaran

Pengaruhi Pertumbuhan, Virus Zika Juga Bisa Ganggu Pendengaran

Halodoc, Jakarta - Selain demam dengue dan malaria, gigitan nyamuk juga bisa menimbulkan masalah lainnya, seperti demam Zika (Zika fever). Demam ini disebabkan oleh virus Zika yang penyebarannya terjadi lewat gigitan nyamuk, terutama Aedes Aegypti. Nyamuk jenis ini merupakan nyamuk penyebab virus dengue, chikungunya, dan demam kuning.

Yang perlu digarisbawahi, selain melalui gigitan nyamuk virus Zika juga bisa ditularkan dari ibu ke janin di dalam kandungannya. Infeksi virus Zika selama kehamilan dikaitkan dengan risiko keguguran dan mikrosefali, yaitu kelainan yang membuat otak tidak berkembang secara sempurna dan berpotensi fatal.

Baca juga: Apakah Indonesia Aman dari Virus Zika?

Gejala dan Dampak Virus Zika pada Janin

Dalam kebanyakan kasus, virus Zika seringkali tak menunjukkan gejala pada pengidapnya. Itulah sebabnya mengapa seseorang tak mengetahui kalau dirinya terjangkit virus ini. Namun, andaikan gejalanya muncul, biasanya hanya bersifat ringan dan muncul 3–12 hari setelah tergigit. Nah, berikut gejalanya yang bisa muncul.

  • Sakit kepala.

  • Ruam.

  • Tubuh terasa lelah dan lemah.

  • Demam.

  • Konjungtivitis atau peradangan kelopak mata .

  • Nyeri sendi.

  • Nyeri otot.

Gejala-gejala virus Zika di atas bisa berlangsung selama beberapa hari. Setidaknya, satu dari lima orang yang terinfeksi virus ini mungkin menjadi sakit. Yang perlu diingat, meski kasusnya jarang, tapi virus Zika yang muncul sebagai kasus berat membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit atau bahkan kematian. Lalu, bagaimana dampaknya bagi janin?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, virus Zika yang menular ke janin bisa menyebabkan komplikasi berupa mikrosefali dan sindrom Guillain-Barre. Tak hanya itu, menurut riset terbaru virus Zika juga dikaitkan dengan gangguan pendengaran meski risikonya kecil.

Contohnya hasil riset dari Dr Marli Tenorio dan Dr Ernesto Marquez dari Oswaldo Cruz Foundation di Pernambuco, Brasil, terhadap 70 bayi yang ibunya positif mengidap Zika. Hasilnya, sekitar 6 persen dari 70 bayi tersebut diketahui mengalami gangguan pendengaran.

Meski virus Zika diduga dapat memicu hal ini, tapi gangguan pendengaran yang dialami bayi baru lahir tak hanya bisa disebabkan oleh virus ini. Sebab, beberapa infeksi virus lainnya juga bisa menyerang ibu hamil dan menyebabkan gangguan pendengaran pada bayi. Contohnya, virus rubella dan cytomegalovirus.

Baca juga: Adakah Vaksin untuk Mencegah Virus Zika?

Yang mesti ibu ingat, gangguan pendengaran yang dialami bayi ini tak hanya terjadi saat mereka baru lahir saja. Sebab, bayi yang lahir dengan pendengaran normal, tapi lahir dari ibu yang mengidap virus Zika, harus perlu diskrining secara rutin. Alasannya jelas, untuk meminimalkan risiko munculnya gangguan pendengaran.

Pengobatan Virus Zika

Pengobatan virus Zika difokuskan pada upaya mengurangi gejala yang dirasakan oleh pengidap, karena vaksin serta obat-obatan penyembuh penyakit ini belum ditemukan. Pengobatan terhadap gejala yang dialami dapat berupa pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi, obat pereda rasa sakit untuk meredakan demam dan sakit kepala, serta istirahat yang cukup. Penggunaan aspirin dan obat anti peradangan nonsteroid lainnya tidak direkomendasikan sebelum kemungkinan pengidap terkena dengue dapat dihilangkan.

Bagi pengidap yang telah terinfeksi virus Zika diharapkan untuk menghindari gigitan nyamuk selama terjangkit virus ini, karena virus Zika yang dapat bertahan lama di dalam darah pengidap dapat menyebar ke orang lain melalui gigitan nyamuk.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!