• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada, Difteri Dapat Sebabkan Kelumpuhan

Waspada, Difteri Dapat Sebabkan Kelumpuhan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus bernama Corynebacterium diphtheria. Penyakit ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele dan harus segera ditangani. Infeksi difteri yang tidak ditangani dengan tepat bisa memicu berbagai komplikasi yang berbahaya, salah satunya menyebabkan kelumpuhan pada pengidapnya. 

Penularan penyakit ini bisa terjadi dengan sangat mudah, salah satunya melalui udara. Difteri bisa terjadi pada siapa saja, tetapi risikonya menjadi lebih besar pada orang yang tidak pernah atau belum mendapat vaksin secara lengkap. Penyakit ini juga rentan menyerang orang yang hidup di area padat penduduk, kebersihan lingkungan yang buruk, serta memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, misalnya karena mengidap AIDS. 

Baca juga: Bukan Cuma Masalah Pernapasan, Ini 3 Komplikasi dari Difteri

Mencegah Kelumpuhan Akibat Penyakit Difteri 

Infeksi virus penyebab difteri bisa terjadi pada siapa saja dan umumnya akan mulai menunjukkan gejala dalam 2 sampai 5 hari setelah menyerang. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi virus pasti akan mengalami gejala, karena pada beberapa kasus difteri bisa muncul tanpa ditandai dengan gejala yang spesifik dan menjadi sulit untuk dikenali. 

Difteri yang terlambat dideteksi bisa menyebabkan penyakit ini terlambat pula diobati, sehingga memicu komplikasi. Salah satu komplikasi yang bisa muncul akibat penyakit difteri adalah kelumpuhan yang terjadi karena kerusakan pada saraf. Selain itu, penyakit ini juga bisa memicu komplikasi berupa rusaknya jaringan di hidung, tenggorokan, serta penyumbatan pada saluran pernapasan. 

Virus penyebab difteri yang menginfeksi bisa mengeluarkan racun yang bisa menyebar melalui aliran darah dan menyerang berbagai organ. Penyakit ini bisa menyerang jantung, sehingga menimbulkan radang otot jantung, memicu gagal ginjal, bahkan yang paling parah bisa berujung pada hilangnya nyawa. Maka dari itu, sangat penting untuk menghindari komplikasi dari penyakit ini. 

Baca juga: Difteri Picu Kerusakan Jantung, Kok Bisa?

Penanganan segera perlu diberikan setelah gejala penyakit ini muncul. Penyakit difteri ditandai dengan gejala muncul lapisan abu-abu di tenggorokan, sakit tenggorokan, suara serak, batuk, pilek, demam, menggigil, serta tubuh terasa selalu lemas dan tidak bertenaga. Penyakit ini juga bisa menyebabkan munculnya benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening. 

Cara terbaik untuk menghindari komplikasi adalah dengan mencegah penularan penyakit difteri sejak awal. Mencegah penyakit difteri bisa dilakukan dengan pemberian vaksin DPT, yaitu vaksin difteri yang dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis). Imunisasi DPT termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Agar lebih efektif, dianjurkan untuk memberikan vaksin ini sejak dini. Pemberian vaksin difteri dilakukan pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan, serta pada usia 5 tahun.

Risiko penularan penyakit difteri menjadi lebih tinggi pada anak-anak dan orang yang belum pernah mendapat vaksin DPT. Penyakit ini juga rentan menyerang orang yang belum mendapat vaksin secara lengkap. Meski begitu, perlu diingat bahwa kekebalan tubuh dari vaksin ini tidak akan berlangsung seumur hidup. Artinya, virus penyebab penyakit difteri masih bisa menular meski seseorang sudah mendapatkan vaksin. Maka dari itu, imunisasi perlu diulang setiap 10 tahun sekali agar perlindungan lebih maksimal. 

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit difteri dan komplikasi apa saja yang bisa terjadi dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa kapandengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Diphtheria.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria