• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Graft versus Host Disease, Efek Samping Transplantasi
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Graft versus Host Disease, Efek Samping Transplantasi

Waspada Graft versus Host Disease, Efek Samping Transplantasi

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 16 Agustus 2022

“Graft versus Host Disease (GvHD) adalah kondisi serius yang dapat dialami seseorang setelah melakukan transplantasi alogenik. Seseorang yang menjalani transplantasi kemungkinan besar akan mengalami komplikasi GvHD, jika protein yang melindungi sel-sel tubuhnya tidak cocok dengan protein pendonor.”

Waspada Graft versus Host Disease, Efek Samping TransplantasiWaspada Graft versus Host Disease, Efek Samping Transplantasi

Halodoc, Jakarta – Graft versus Host Disease (GvHD) merupakan komplikasi akibat transplantasi sumsum tulang belakang, atau organ dalam tubuh yang mengandung sel sistem imun. Kondisi ini terjadi di mana tubuh menganggap sel cangkok dari pendonor, sebagai benda asing yang bisa membahayakan tubuh. 

Dalam beberapa kasus, GvHD bisa memicu gejala yang berpotensi serius. Sayangnya tidak ada cara untuk memprediksi apakah seseorang akan mengembangkan komplikasi GvHD. Hanya saja faktor risiko tertentu dapat meningkatkan kemungkinan komplikasi tersebut terjadi.

Lantas, apa saja faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya GvHD?

Penyebab Graft versus Host Disease

Graft versus Host Disease (GvHD) adalah kondisi serius yang dapat dialami seseorang setelah melakukan transplantasi alogenik. Antara 20 hingga 80 persen orang yang menjalani transplantasi berisiko mengalami kondisi tersebut.

Dalam hal ini, sel darah putih, sel T di sumsum tulang atau sel induk yang disumbangkan, akan menargetkan sel inang untuk dihancurkan, karena mengenali sel transplantasi sebagai benda asing.

Perlu diketahui Sel T mampu mengenali sel mana yang sama dengan dirinya sendiri, dan mengidentifikasi sel yang berbeda dan tidak memiliki penanda genetik yang sama. 

Pada beberapa orang, GvHD dapat terjadi dalam 100 hari pertama setelah menjalani transplantasi. Hal tersebut juga disebut sebagai GvHD akut. Sedangkan GvHD kronis terjadi setelah 100 hari, terkadang bahkan hingga satu tahun atau lebih setelah transplantasi. Itu pun dapat berlanjut pada pengidap untuk jangka waktu yang lebih lama. 

Seseorang yang menjalani transplantasi kemungkinan besar akan mengalami komplikasi  GvHD, jika protein yang melindungi sel-sel tubuhnya tidak cocok dengan protein pendonor. Selain itu, faktor risiko lainnya meliputi:

  • Usia. Semakin tua seseorang, semakin tinggi peluang mengalami GvHD.
  • Sel yang didonorkan mengandung banyak jenis sel darah putih yang dikenal sebagai sel T.
  • Penerima donor berjenis kelamin pria dan pendonor seorang wanita yang telah memiliki anak.
  • Mengembangkan cytomegalovirus (virus umum yang biasanya tidak menimbulkan masalah jika tubuh sehat).

Semakin dekat sel penerima donor dengan pendonor, maka semakin baik. Jika kamu memiliki saudara kembar identik, maka pendonor terbaik adalah saudara kandung atau orang tua. Selain itu, risiko GvHD akan menurun jika dokter mendapatkan sel donor dari darah tali pusat, dibandingkan darah tepi atau sumsum tulang. 

Penanganan Graft versus Host Disease

Seseorang mengalami GvHD  yang cukup parah memerlukan perawatan medis segera. Dokter mungkin akan meresepkan kombinasi obat kortikosteroid, seperti prednison dan obat-obatan yang memperlambat respons sistem kekebalan tubuh, seperti siklosporin. 

Obat tersebut bisa mempersulit tubuh untuk melawan infeksi, jadi pengidap mungkin juga mendapatkan antibiotik profilaksis. Apabila masalah berlanjut, dokter mungkin juga akan meresepkan inhibitor kinase.

Sementara itu, perawatan lain juga dapat membantu mengelola gejala di bagian tubuh tertentu:

  • Kulit. Pengidap diberikan krim steroid untuk mengatasi ruam gatal. Namun, kamu juga perlu menjaga kelembaban kulit dan melindungi tubuh dari paparan sinar matahari. 
  • Sistem pencernaan. Pengidap dapat mengalami dehidrasi dengan cepat disertai diare parah. Untuk itu sebaiknya hindari konsumsi makanan pedas atau asam. Dalam kasus ekstrem, pengidap perlu diberi air melalui infus atau diberi makanan melalui tabung untuk menjaga berat badan. Kamu juga harus membatasi lemak dan serat sampai usus pulih.
  • Mulut. Pengidap mungkin perlu mendapatkan obat kumur khusus untuk membersihkan mulut dan menjaganya tetap lembab.
  • Mata. Air mata buatan atau tetes steroid diperlukan untuk mengatasi kekeringan dan menjaga mata agar tidak teriritasi.
  • Sistem kekebalan. Karena pengidap berisiko tinggi terkena infeksi, maka sebaiknya jauhi keramaian dan orang sakit. Hindari juga paparan jamur dari lingkungan sekitar (seperti kebun) atau kotoran hewan. 

Perlu diketahui, GvHD biasanya hilang sekitar satu tahun setelah transplantasi, ketika tubuh mulai membuat sel darah putihnya sendiri dari sel donor. Namun, beberapa orang mungkin saja perlu mengelola gejalanya selama bertahun-tahun.

Itulah yang perlu diketahui mengenai Graft versus Host Disease. Jika kamu termasuk orang yang mengalaminya dan perlu perawatan dokter, jangan ragu untuk segera mengunjungi rumah sakit. Kamu juga bisa menemukan rumah sakit pilihan di aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga.

Referensi:
Very Well Health. Diakses pada 2022. Causes and Risk Factors of Graft-Versus-Host Disease
WebMD. Diakses pada 2022. What Is Graft Versus Host Disease?
News Medical. Diakses pada 2022. Causes and Risk Factors of Graft Versus Host Disease (GVHD)
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Graft vs Host Disease: An Overview in Bone Marrow Transplant