• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada, Ini 7 Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada, Ini 7 Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak

Waspada, Ini 7 Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 27 September 2022

“Eksibisionisme, atau mengekspos diri sendiri kepada anak di bawah umur, melakukan kontak fisik, seperti memegang atau menyentuh, melakukan hubungan intim ke anak, dan masturbasi di hadapan anak di bawah umur atau memaksa anak di bawah umur untuk masturbasi adalah bentuk kekerasan seksual pada anak.”

Waspada, Ini 7 Bentuk Kekerasan Seksual pada AnakWaspada, Ini 7 Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak

Halodoc, Jakarta –  Berbicara mengenai kekerasan seksual pada anak, nyatanya ini tidak hanya menyoal tindak pemerkosaan saja. Ada banyak bentuk pelecehan, seperti pelecehan verbal dan non verbal, serta pelecehan online.

Kekerasan seksual pada anak pun dapat terjadi di mana saja, bahkan bisa dilakukan oleh orang terdekat sekalipun.  Segala bentuk kekerasan seksual pada anak dapat mengakibatkan kerugian fisik, psikologis dan sosial yang dapat dialami anak hingga dewasa. Informasi selengkapnya mengenai bentuk kekerasan seksual pada anak bisa dibaca di sini!

Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak

Bentuk kekerasan seksual pada anak adalah segala tindakan yang mencakup pelecehan dan kekerasan pada anak di bawah umur. Ada bermacam bentuk kekerasan seksual yang bisa terjadi pada anak, yaitu: 

  • Eksibisionisme, atau mengekspos alat kelamin sendiri kepada anak di bawah umur.
  • Melakukan kontak fisik, seperti memegang atau menyentuh.
  • Melakukan hubungan intim ke anak. 
  • Masturbasi di hadapan anak di bawah umur atau memaksa anak di bawah umur untuk masturbasi.
  • Percakapan cabul, panggilan telepon, pesan teks, atau interaksi digital lainnya.
  • Memproduksi, memiliki, atau membagikan gambar atau film porno anak-anak.
  • Perdagangan seks.

Menurut data kesehatan dari Rape, Abuse & Incest National Network, mayoritas pelaku kekerasan seksual pada anak adalah orang yang dikenal atau bahkan keluarga. Sebanyak 93 persen korban di bawah usia 18 tahun mengenal pelaku. 

Kebanyakan orang terdekat ini adalah mereka yang memiliki hubungan dengan anak, termasuk kakak kelas, teman bermain, anggota keluarga, guru, pelatih atau instruktur, pengasuh, atau orang tua dari anak lain. 

Bentuk kekerasan seksual pada anak masuk dalam perbuatan tercela dan biasanya intimidatif. Seringkali pelaku menggunakan posisi kekuasaannya untuk memaksa ataupun mengintimidasi anak. 

Pelaku akan mengatakan kalau aktivitas tersebut adalah sesuatu yang normal dan anak menikmatinya.  Pelaku kekerasan seksual juga seringkali mengancam anak, sehingga anak memendam perlakukan tersebut karena berada di bawah ancaman. 

Melindungi Anak dari Bentuk Kekerasan Seksual 

Cara terbaik melindungi dan mencegah bentuk kekerasan seksual pada anak adalah menciptakan komunikasi yang baik dengan anak. Belajarlah untuk terbuka membahas apapun kepada anak. Bicaralah dengan anak jika orang tua  mencurigai pelecehan seksual.

Pelecehan seksual anak tidak selalu mudah dikenali dan beberapa penyintas mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas. Pelakunya bisa jadi adalah seseorang yang sudah lama dikenal atau dipercayai.

Segera cari tahu penyebab dari kondisi berikut karena bisa jadi hal tersebut terjadi karena kekerasan seksual. Beberapa kondisi tersebut antara lain: 

  • Pendarahan, memar, atau pembengkakan di area genital.
  • Pakaian dalam yang berdarah, robek, atau bernoda.
  • Kesulitan berjalan atau duduk
  • Infeksi saluran kemih atau jamur yang sering terjadi.
  • Nyeri, gatal, atau terbakar di area genital

Selain gejala fisik, anak-anak juga bisa menunjukkan perubahan perilaku, seperti: 

  • Perubahan kebersihan, seperti menolak mandi atau mandi berlebihan
  • Mengembangkan fobia.
  • Menunjukkan tanda-tanda depresi atau gangguan stres pasca-trauma
  • Mengungkapkan pikiran untuk bunuh diri, terutama pada remaja.
  • Memiliki masalah di sekolah, seperti absen atau nilai turun.
  • Pengetahuan atau perilaku seksual yang tidak pantas.
  • Mimpi buruk atau mengompol.
  • Terlalu protektif dan peduli pada saudara kandung, atau mengambil peran sebagai pengasuh.
  • Kembali ke perilaku regresif, seperti mengisap jempol.
  • Kabur dari rumah atau sekolah.
  • Menyakiti diri sendiri.
  • Tampak terancam oleh kontak fisik.

Itulah informasi mengenai bentuk kekerasan seksual dan cara perlindungan terhadap kekerasan seksual. Jika orang tua mencurigai kalau anak mengalami pelecehan seksual, segera lakukan pelaporan ke pihak berwajib.

Jangan lupa untuk memeriksakan kesehatan anak, supaya anak mendapatkan penanganan lebih lanjut. Informasi selengkapnya bisa didapatkan dengan download aplikasi Halodoc!

Referensi:
United Nations. Diakses pada 2022. Sexual Violence.
Rainn. Diakses pada 2022. Child Sexual Abuse.