• Home
  • /
  • Waspada 4 Jenis Hipertensi pada Ibu Hamil

Waspada 4 Jenis Hipertensi pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Waspada 4 Jenis Hipertensi pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta – Tekanan darah ibu pasti akan diperiksa pada setiap pemeriksaan kehamilan. Tes tekanan darah bertujuan untuk memastikan bahwa kehamilan ibu sehat dan terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Pasalnya, ibu hamil yang mengidap tekanan darah tinggi bisa menimbulkan kondisi berbahaya seperti, kejang, kelahiran prematur sampai kematian. 

Oleh sebab itu, penting bagi ibu hamil untuk menjaga tekanan darah agar tetap normal dengan menerapkan pola hidup yang sehat serta memeriksakan kehamilan secara rutin. Untuk meningkatkan kewaspadaan, ibu juga perlu mengetahui jenis-jenis tekanan darah tinggi selama kehamilan berikut ini.

Baca juga: Mengenal Bahaya Hipertensi Saat Hamil

Jenis Hipertensi pada Ibu Hamil 

Hipertensi dapat berkembang sebelum kehamilan atau setelah ibu dinyatakan hamil. Melansir dari Mayo Clinic, berikut jenis hipertensi yang dapat dialami oleh ibu hamil, yaitu:

  • Hipertensi gestasional. Hipertensi gestasional umumnya berkembang setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu dan akan hilang setelah melahirkan. Pada kondisi ini, tidak ada kelebihan protein dalam urine atau tanda-tanda kerusakan organ lainnya. Hipertensi gestasional umumnya mengembangkan preeklampsia.

  • Hipertensi kronis. Hipertensi kronis umumnya terjadi sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan mencapai 20 minggu. Hipertensi kronis biasanya tidak memiliki gejala, sehingga ibu mungkin tidak menyadarinya.

  • Hipertensi kronis dengan preeklampsia superimposed. Tipe hipertensi ini biasanya dialami oleh ibu yang mengidap hipertensi kronis dengan tingginya kadar protein di dalam urine atau komplikasi terkait tekanan darah lainnya.

  • Preeklampsia. Preeklamsia adalah jenis hipertensi yang harus diwaspadai ibu hamil. Pasalnya, jenis tekanan darah tinggi ini bisa fatal dan menimbulkan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain, termasuk ginjal, hati, darah atau otak. Preeklampsia umumnya berkembang setelah 20 minggu kehamilan. 

Pada umumnya, hipertensi ditandai dengan gejala pembengkakan pada wajah atau tangan, sakit kepala, nyeri pada perut bagian atas atau bahu, mual dan muntah, kesulitan bernapas, kenaikan berat badan tiba-tiba sampai terganggunya penglihatan. Apabila ibu menemui tanda-tanda ini, sebaiknya temui dokter segera. 

Jika ibu berencana mengunjungi rumah sakit, ibu bisa membuat janji dengan dokter terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan ibu lewat aplikasi.

Baca juga: Hindari Makanan Ini saat Hamil dengan Hipertensi

Mencegah Komplikasi Hipertensi Selama Kehamilan

Menerapkan hidup sehat serta mengikuti anjuran dokter adalah cara terbaik untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Melansir dari Mayo Clinic, berikut perawatan yang perlu ibu lakukan untuk mencegah komplikasi hipertensi:

  • Rutin memeriksakan diri. Kunjungi dokter secara teratur sepanjang kehamilan.

  • Minum obat tekanan darah sesuai resep. Dokter meresepkan ibu obat yang paling aman dengan dosis paling tepat.

  • Tetap aktif. Pastikan ibu tetap aktif dan berolahraga sesuai rekomendasi dokter. 

  • Makan makanan yang sehat. Pastikan ibu konsumsi makanan sehat dan hindari makanan yang bisa memicu tekanan darah tinggi. Bicara dengan ahli gizi jika ibu membutuhkan bantuan seputar gizi selama kehamilan lewat aplikasi Halodoc.

  • Tahu apa yang dilarang. Hindari merokok, alkohol, dan penggunaan obat-obatan terlarang. Bicaralah dengan dokter jika ibu ingin mengonsumsi obat yang dijual bebas.

Baca juga: Buah Bit Bisa Digunakan untuk Mengatasi Darah Tinggi 

Jika ibu mengidap hipertensi pada kehamilan sebelumnya, dokter mungkin merekomendasikan aspirin dosis rendah setiap hari yang dimulai pada akhir trimester pertama.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. High blood pressure and pregnancy: Know the facts.
Medscape. Diakses pada 2020. Hypertension and Pregnancy.