• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Penyakit Menular Seksual di Balik Tren “Thanks Base”
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Penyakit Menular Seksual di Balik Tren “Thanks Base”

Waspada Penyakit Menular Seksual di Balik Tren “Thanks Base”

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 13 Oktober 2022

“Thanks base (tren hubungan yang merujuk pada perilaku seks bebas), diam-diam menyimpan risiko kesehatan pada mereka yang melakukannya. Sebut saja penyakit menular seksual (PMS) seperti sifilis, human immunodeficiency virus (HIV), hingga kanker tertentu.”

Waspada Penyakit Menular Seksual di Balik Tren “Thanks Base”Waspada Penyakit Menular Seksual di Balik Tren “Thanks Base”

Halodoc, Jakarta – Setelah tren friends with benefit (FWB) dan sleepover date, kini muncul lagi istilah baru yang merujuk pada perilaku seks bebas, yaitu ‘thanks base’. Bahkan, pasangan yang melakukannya tidak ragu untuk memamerkan pengalaman cinta satu malam tersebut. Thanks base merujuk pada aktivitas seksual dengan seseorang yang baru dikenal melalui media sosial.

Para pasangan yang melakukan thanks base mengklaim berbagai alasan untuk melakukan gaya berteman tersebut. Entah itu karena kesepian atau membutuhkan validasi. Namun, banyak ahli yang mengingatkan bahwa apa pun jenis atau istilah perilaku seks bebas dapat meningkatkan risiko PMS seperti infeksi HIV. 

Pergaulan Bebas yang Penuh Risiko Kesehatan

Perlu dipahami, apa pun jenis pergaulan bebas yang menyertakan aktivitas seksual di dalamnya dapat berbahaya pada kesehatan, bahkan mengancam jiwa. Semakin banyak pasangan seksual yang dimiliki seseorang, maka semakin besar juga risiko PMS yang mengintainya. Misalnya HIV dan kondisi yang mengancam jiwa lainnya, seperti kanker prostat, kanker serviks, dan kanker mulut. 

Banyak ahli mengatakan bahwa pergaulan bebas atau seks bebas adalah salah satu contoh perilaku yang berisiko tinggi. Hubungan seksual tanpa status mungkin menjadi alasan yang diagungkan dalam tren thanks base, karena menghindari komitmen dan urusan emosional yang menantang. 

Namun, apakah hal itu sebanding dengan risiko kesehatan yang bisa  didapat setelahnya?

  1. Penyakit radang panggul

Gonore, klamidia, dan trikomoniasis adalah infeksi menular seksual yang dapat mengakibatkan penyakit radang panggul jika tidak diobati. Menurut Center for Diseases Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, sekitar 2,5 juta wanita di Amerika Serikat didiagnosis penyakit radang panggul seumur hidup. 

Beberapa orang yang mengalami radang panggul tidak menunjukkan gejala. Namun, ada juga yang menunjukkan gejala berupa:

  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah.
  • Rasa sakit saat berhubungan seks vaginal atau saat buang air kecil.
  • Menstruasi tidak teratur, berat, atau menyakitkan.
  • Keputihan abnormal.
  • Mual.
  • Demam tinggi.
  1. Sifilis tersier

Sifilis, meskipun masih tahap awal, tetap dianggap sebagai penyakit menular seksual. Gejala infeksi ini pertama kali muncul berupa luka bulat kecil pada alat kelamin, anus, atau mulut. Jika tidak diobati, sifilis akan pindah ke fase laten, yang tidak memiliki gejala. 

Namun, menurut World Health Organization (WHO), sekitar seperempat orang akan terus mengembangkan sifilis tersier, yaitu proses yang dapat memakan waktu antara 10 hingga 30 tahun setelah infeksi awal. Penyakit ini memiliki konsekuensi serius pada beberapa sistem organ tubuh, yang menyebabkan:

  • Kehilangan penglihatan.
  • Kehilangan pendengaran.
  • Hilang ingatan.
  • Gangguan kesehatan mental.
  • Infeksi otak atau sumsum tulang belakang.
  • Penyakit jantung.
  1. Kanker

Praktik seks bebas akan meningkatkan risiko penularan human papilloma virus (HPV). Meskipun beberapa jenis HPV tidak menyebabkan penyakit, jenis lain dapat menyebabkan perubahan sel yang tidak normal. Kondisi tersebut dapat berlanjut dan menyebabkan kanker, termasuk:

  • Kanker mulut.
  • Kanker serviks.
  • Kanker vulva.
  • Kanker penis.
  • Kanker dubur.
  1. Kutil kelamin

Beberapa jenis HPV yang berisiko lebih rendah dapat menyebabkan penyakit yang disebut kutil kelamin. Benjolan berwarna kulit atau putih ini muncul di alat kelamin atau anus. Meskipun dapat diobati, tapi kutil kelamin tidak dapat disembuhkan. Sebab virus yang menyebabkannya akan tetap ada. Jika ingin menghilangkannya, makan pilihan pengobatannya antara membekukan atau memotongnya lewat prosedur operasi. 

  1. HIV

HIV dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko tertular virus atau bakteri lain, serta mengembangkan kanker tertentu. Dengan perkembangan pengobatan saat ini, banyak pengidap HIV tetap dapat hidup sehat dan panjang umur. 

Namun jika tidak diobati, virus dapat menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), di mana tubuh menjadi rentan terhadap infeksi dan penyakit serius. Boleh dibilang, AIDS merupakan komplikasi lanjutan dari HIV. 

Orang dengan AIDS mungkin mengalami:

  • Penurunan berat badan drastis.
  • Kelelahan ekstrem.
  • Luka.
  • Infeksi.
  • Gangguan neurologis.
  • Kanker. 

Perlu diingat, hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan AIDS. Pengidapnya amat rentan terhadap penyakit atau infeksi akibat sistem kekebalan tubuhnya yang amat lemah. Umumnya harapan hidup pengidap AIDS tanpa pengobatan adalah sekitar 3 tahun.

Itulah yang perlu diketahui tentang penyakit menular seksual yang diam-diam mengintai  di balik tren thanks base. Masih banyak PMS lainnya yang bisa muncul akibat perilaku seks bebas seperti tren thanks base. 

Nah, bagi kamu yang mengalami keluhan kesehatan terkait organ reproduksi atau lainnya, bisa bertanya pada dokter di Halodoc.  Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Everything You Need to Know About Sexually Transmitted Diseases
Everyday Health. Diakses pada 2022. Is There a Price to Pay for Promiscuity?
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Sexually transmitted diseases (STDs)