Waspada, Postpartum Depression Membahayakan Kesehatan Anak

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
depresi setelah melahirkan

Halodoc, Jakarta - Postpartum depression (PPD), atau yang lebih dikenal dengan depresi setelah melahirkan merupakan salah satu jenis penyakit mental yang kerap dialami oleh ibu. Penyakit yang satu ini akan muncul secara tiba-tiba dan berkembang secara perlahan. Biasanya, perkembangan telah dimulai pada tahun pertama setelah melahirkan. Perlu diketahui bahwa postpartum depression tidak terjadi karena adanya kelainan pada ibu, tetapi hal ini terjadi karena komplikasi dari proses kelahiran Si Kecil.

Baca juga: Tanda Ayah Juga Alami Postpartum Depression

Postpartum Depression Dapat Membahayakan Kesehatan Anak, Benarkah?

Postpartum depression akan membuat perubahan suasana hati ibu menjadi berantakan. Hal tersebut bahkan dapat berdampak bagi lingkungan sosial ibu sendiri. Ketika gejala muncul, gejala dapat membuat ibu kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Parahnya, gejala postpartum depression yang dibiarkan begitu saja akan membuat ibu membahayakan dirinya sendiri, hingga bunuh diri.

Kondisi ini akan sangat membahayakan Si Kecil. Pasalnya, peningkatan depresi yang dirasakan ibu akan berpengaruh pada perkembangan mental dan motorik Si Kecil. Hal tersebut dapat terjadi karena ibu dan bayi memiliki interaksi yang rumit, dan respon yang kurang baik. Dengan begitu, Si Kecil bisa saja menjadi susah bergaul dengan orang lain seiring dengan pertumbuhannya. 

Agar terhindar dari situasi yang berbahaya ini, ibu disarankan untuk berdiskusi dengan dokter ahli di aplikasi Halodoc ketika ibu mengalami perubahan suasana hati yang signifikan pasca melahirkan. Apalagi, jika perubahan suasana hati yang ibu alami membuat ibu menjauh dari lingkungan sosial tempat ibu bergaul.

Baca juga: 21 Gejala yang Dialami saat Terkena Postpartum Depression

Kenali Gejala Postpartum Depression dan Tangani dengan Tepat

Postpartum depression biasanya akan berlangsung lama. Namun, gejala awal dapat ditandai dengan depresi yang terjadi selama lebih dari dua minggu. Selain depresi, gejala umum yang biasanya muncul pada ibu pengidap postpartum depression, yaitu:

  • Menangis tanpa sebab.

  • Merasa sedih.

  • Merasa terus-menerus lemas dan lelah.

  • Mengalami gangguan tidur pada malam hari.

  • Mengantuk pada siang hari.

  • Merasa sangat bersalah.

  • Mengalami penurunan atau kenaikan nafsu makan.

  • Mengalami penurunan minat pada hal-hal yang biasanya disukai.

  • Merasa uring-uringan dan cepat emosi.

  • Merasa kesulitan menjalin ikatan batin dengan anak.

  • Tidak merawat diri.

  • Tidak tertarik pada pergaulan.

  • Tidak tertarik dengan humor.

  • Tidak merasa senang akan hadirnya Si Kecil.

  • Tidak ingin mengajak Si Kecil bermain dan berbicara.

  • Selalu membicarakan hal-hal yang negatif.

  • Ibu merawat bayi hanya karena kewajiban.

Hal yang paling parah adalah ibu akan memiliki pikiran untuk menyakiti sang anak. Jika diketahui ibu memiliki sejumlah gejalanya, orang-orang terdekat sebaiknya waspada. Menjauhkan anak sementara dengan sang ibu merupakan langkah terbaik yang dilakukan. Di samping itu, keluarga wajib menyarankan atau membawa ibu untuk melakukan pengobatan, agar postpartum depression yang dialaminya cepat membaik.

Baca juga: Kenali Perbedaan antara Postpartum Depression dan Baby Blues

Adanya pikiran untuk menyakiti Si Kecil merupakan gejala jika postpartum depression yang dialami sudah memasuki ke tahap yang semakin parah. Hal ini harus ditangani secepatnya, karena akan menghambat kegiatan sehari-hari. Si Kecil juga akan kehilangan sosok ibu yang seharusnya memberikan kehangatan dan kasih sayang. Bahkan, Si Kecil bisa saja tumbuh tanpa sosok ibu yang memberikan bimbingan, yang menjadi pembentuk karakternya sejak kecil.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Postpartum Depression.

WebMD. Diakses pada 2019. Postpartum Depression.