• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada, Risiko Diabetes Menyerang selama Pandemi

Waspada, Risiko Diabetes Menyerang selama Pandemi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Waspada, Risiko Diabetes Menyerang selama Pandemi

“Tak bisa dimungkiri bahwa pembatasan aktivitas selama pandemi telah meningkatkan risiko diabetes. Pembatasan aktivitas ini membuat banyak orang jadi malas bergerak dan membuat pola makan memburuk. Untuk mencegah diabetes, perubahan gaya hidup dan pemeriksaan kesehatan seperti pemeriksaan HbA1c perlu dilakukan.”

Halodoc, Jakarta – Diabetes adalah salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi di dunia. Untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit ini, tanggal 14 November ditetapkan sebagai Hari Diabetes Sedunia. Terlebih di masa pandemi ini, risiko diabetes bisa meningkat karena semua orang harus membatasi aktivitas fisiknya.

Parahnya, diabetes juga merupakan salah satu kondisi yang bisa memperparah infeksi COVID-19. Jadi, sebisa mungkin kamu harus mencegah diabetes dengan cara melakukan perubahan gaya hidup dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mendeteksi kadar gula darah. 

Baca Juga: Inilah Tanda-tanda Kalau Kamu Kelebihan Gula Darah

Pembatasan Sosial Jadi Penyebab Naiknya Risiko Diabetes

Kebijakan work from home, atau PSBB lalu PPKM dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang berkurang aktivitas fisiknya. Selain itu, pembatasan aktivitas ini juga menurunkan kualitas kesehatan mental yang akhirnya membuat pola makan menjadi tidak sehat  berkurangnya waktu istirahat yang berkualitas.

Sebagian orang juga masih takut keluar rumah karena pandemi, dan beberapa tempat kebugaran juga masih menerapkan aturan yang ketat untuk para membernya.

Jika kondisi ini dibiarkan tanpa disertai upaya seseorang untuk tetap sehat, maka ini dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap diabetes melitus tipe 2.

Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis yang telah menyerang jutaan orang diseluruh dunia. Bahkan jika tidak terkontrol, penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti kebutaan, gagal ginjal, dan penyakit jantung. Diabetes melitus tipe 2 ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah seseorang tanpa adanya kekurangan insulin.

Tingginya kadar gula darah ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:

  • Asupan makanan yang tinggi gula dan lemak secara rutin.
  • Kurangnya aktivitas fisik.
  • Adanya riwayat keluarga yang mengidap diabetes.
  • Kondisi obesitas.
  • Resistensi insulin.

Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi gaya hidup dan juga pemeriksaan gula darah yang rutin sehingga dapat melakukan pencegahan sedini mungkin.

Baca Juga: Gaya Hidup yang Perlu Dijalani Pengidap Diabetes Melitus

Pentingnya Pemeriksaan untuk Memantau Diabetes

Pemeriksaan untuk mengetahui indeks glikemik dan telah direkomendasikan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah Hemoglobin A1c (HbA1c). Pemeriksaan HbA1c berfungsi untuk mengetahui rata-rata jumlah hemoglobin  A1c yang berikatan dengan gula darah (glukosa) selama tiga bulan terakhir.

Untuk pemantauan pada pasien yang sudah terdiagnosis diabetes, pemeriksaan HbA1c dianjurkan untuk diulang setiap 2 sampai 3 bulan sekali, sedangkan untuk individu sehat pemeriksaan rutin dianjurkan untuk mengulang setiap 1 tahun sekali, atau sesuai dengan anjuran dokter.

Selain itu, saat menjalani pemeriksaan HbA1C, kamu tidak perlu puasa. Sampel yang digunakan adalah darah vena yang diambil dari vena lengan kanan atau kiri, kemudian sampel darah akan diperiksakan di laboratorium.

Hasil pemeriksaan akan tertulis dalam persentase, dengan interpretasi sebagai berikut:

  • Normal: HbA1c di bawah 5,7%
  • Prediabetes: HbA1c antara 5,7–6,4%
  • Diabetes: HbA1c mencapai 6,5% atau lebih

Artinya, semakin tinggi jumlah HbA1c, maka semakin banyak hemoglobin yang berikatan dengan glukosa, dan ini menandakan bahwa gula darah tinggi. Jika jumlah HbA1c melebihi 8%, kemungkinan individu tersebut mengalami diabetes.

Baca Juga: Tetap Sehat, Begini Makan Enak untuk Pengidap Diabetes

Berdasarkan konsensus PERKENI 2018, pemeriksaan HbA1c harus dilakukan di klinik laboratorium yang sudah memiliki sertifikasi dan berstandar NGSP guna memberikan hasil yang sesuai dan terpercaya.

Salah satu klinik yang sudah memiliki sertifikasi tersebut adalah Prodia, sehingga hasil pemeriksaan dari HbA1c ini dapat dipercaya dan digunakan baik di dalam maupun diluar negeri.

Mulai 14 hingga 20 November pun, kamu bisa menikmati diskon 10% untuk semua layanan pemeriksaan diabetes di Halodoc dan ekstra diskon 10% khusus paket-paket tertentu di Lab Klinik Prodia. Berikut syarat dan ketentuannya:

  • Promo berlaku 14–20 November 2021
  • Diskon 10% dengan maksimal potongan Rp10.000 dengan kode DIABETES10 untuk semua layanan dalam kategori Diabetes Care.
  • Diskon tambahan 10% berlaku dan sudah terpotong langsung untuk Paket Diabetes Dasar dan Paket Diabetes Lengkap di Lab Klinik Prodia.
  • Setiap potongan hanya berlaku satu kali per pengguna selama periode promo.
  • Promo tidak dapat digabungkan dengan promo lainnya.
  • Syarat dan ketentuan sewaktu-waktu dapat berubah sesuai kebijakan Halodoc.

Tunggu apa lagi, ayo tingkatkan kesadaran akan bahaya diabetes sedini mungkin dan lakukan pemeriksaan di Lab Klinik Prodia melalui aplikasi Halodoc!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
JAMA Network. Diakses pada 2021. Diabetes Care and Glycemic Control During the COVID-19 Pandemic in the United States.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Diabetes.
World Health Organization. Diakses pada 2021. Diabetes.