Waspada, Sarkoma Kaposi Dapat Menyerang Sistem Pencernaan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Waspada, Sarkoma Kaposi Dapat Menyerang Sistem Pencernaan

Halodoc, Jakarta - Mau tahu seberapa seriusnya penyakit kanker secara global?  Menurut laporan International Agency for Research on Cancer, WHO (2018) memperkirakan terdapat 18,1 juta kasus kanker baru. Sementara itu, setidaknya 9,6 juta orang mesti kehilangan nyawa pada 2018 akibat penyakit mematikan ini. Sangat, serius bukan?

Nah, dari banyak jenis kanker, sarkoma kaposi merupakan salah satu jenis kanker yang mesti diwaspadai. Meski tidak setenar kanker payudara, serviks, atau paru-paru, sarkoma kaposi tak kalah mematikannya. 

Sarkoma kaposi menyerang tanpa pandang bulu. Tak melihat usia dan jenis kelamin. Namun, sebagian besar kasusnya lebih sering terjadi pada mereka yang mengidap HIV. 

Pertanyaannya, benarkah kanker ini bisa menyerang beragam organ dalam tubuh, termasuk sistem pencernaan? 

Baca juga: Penyebab Kanker Sarkoma Jaringan Lunak

Dari Kulit, Ke Pencernaan, Hingga Paru-Paru

Sarkoma kaposi merupakan kanker yang muncul karena infeksi virus. Umumnya, kanker ini menyerang bagian bawah kulit, tepi mulut, atau hidung. Dalam beberapa kasus, sarkoma kaposi juga bisa menyerang pencernaan, paru-paru, kelenjar limfa, bahkan meluas ke organ tubuh lainnya. Lalu, bagaimana dengan gejalanya? 

Berbicara gejala sarkoma kaposi, berarti kita membicarakan banyak tanda. Sebab, kanker yang satu ini bisa menimbulkan sederet gejala pada pengidapnya. Hal yang perlu diingat, gejalanya yang muncul bergantung pada organ tubuh yang terserang. 

Nah, berikut ini  beberapa gejala yang mungkin dialami pengidap sarkoma kaposi:

Kanker sarkoma kaposi bisa berkembang ke sistem pencernaan. Ketika menyebar, biasanya tak menimbulkan gejala. Akan tetapi, ada beberapa pengidapnya yang mengalami gejala seperti:

  • Muntah darah, BAB berdarah atau hitam.

  • Adanya sumbatan pada usus.

  • Rasa nyeri saat menelan atau kesulitan menelan.

  • Mual, muntah, dan nyeri perut. 

Sarkoma kaposi pada lesi kulit biasanya ditandai dengan:

  • Lesi datar (makula), benjolan kurang dari 1 sentimeter (papular) atau benjolan yang lebih besar (nodular) atau mirip seperti plak.

  • Lesi kulit dapat terjadi di lokasi manapun, tetapi biasanya lebih sering pada kaki, daerah kepala, dan leher. 

  • Lesinya tidak terasa sakit atau nyeri

  • Warna lesi dapat cokelat, merah muda, merah, atau ungu. Pada orang dengan kulit gelap, lesi biasanya tersamar atau sulit dibedakan.

  • Diameter lesi mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter.

Sarkoma kaposi pada organ paru dapat ditemukan melalui pemeriksaan rontgen secara tidak sengaja dan tanpa gejala, tetapi tanda dan gejala dapat meliputi:

  • Sesak napas.

  • Batuk.

  • Nyeri dada.

  • Batuk darah.

Nah, segeralah temui dokter bila mengalami gejala-gejala di atas. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Waspada, Virus Herpes Mampu Sebabkan Sarkoma Kaposi

Serangan Virus HHV8

Kanker sarkoma kaposi disebabkan oleh infeksi virus yang disebut herpes virus terkait sarkoma Kaposi (Kaposi Sarcoma associated Herpes Virus—KSHV), juga dikenal sebagai human herpesvirus 8 (HHV8). Virus ini dapat ditularkan melalui hubungan intim atau dari ibu ke bayi melalui plasenta. Pasalnya, virus ini dapat ditemukan di darah, air liur atau saliva, cairan vagina, dan cairan semen.

Umumnya, seseorang yang terinfeksi virus ini tak menimbulkan gejala apapun. Serangan dari virus ini bisa diatasi dengan sistem kekebalan tubuh yang normal. Akan tetapi, bila kekebalan tubuh sedang melemah, lain lagi ceritanya. 

Virus ini dapat bereplikasi dan menginfeksi sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan pembuluh limfa (sel endotel). Selanjutnya, virus akan membawa gen ke dalam sel endotel tersebut menyebabkan sel membelah terlalu banyak, tidak terkendali, dan sel dapat bertahan hidup lebih lama dari normalnya. 

Gen yang sama ini dapat menyebabkan sel endotel membentuk pembuluh darah baru. Tak cuma itu, kondisi ini juga bisa meningkatkan produksi bahan kimia tertentu yang menyebabkan peradangan. Nah, perubahan inilah yang ujung-ujungnya bisa membentuk lesi kanker.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Kaposi's Sarcoma.
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Health A – Z. Kaposi's sarcoma.  
WebMD. Diakses pada 2019.  What Is Kaposi's Sarcoma?