• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada, Virus Herpes Mampu Sebabkan Sarkoma Kaposi

Waspada, Virus Herpes Mampu Sebabkan Sarkoma Kaposi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Waspada, Virus Herpes Mampu Sebabkan Sarkoma Kaposi

Halodoc, Jakarta – Sarkoma kaposi adalah jenis kanker yang muncul karena adanya infeksi virus. Virus herpes menjadi penyebab utama penyakit ini. Sarkoma kaposi ditandai dengan pertumbuhan jaringan abnormal berupa bercak-bercak berwarna merah atau ungu. Bercak ini bisa ditemukan di bawah kulit, di tepi mulut, hidung, kelenjar limfa, dan di bagian tubuh lainnya. 

Kanker biasanya terjadi karena adanya pertumbuhan sel abnormal yang kemudian menyerang sel tubuh normal. Seiring berjalannya waktu, sel abnormal ini akan berkembang secara berlipat ganda menjadi sel kanker yang ganas. Pada sarkoma kaposi, virus herpes menyerang sel-sel endothelial dan menyebabkan sel-sel tersebut tumbuh secara cepat. Meski begitu, tidak semua infeksi herpes akan menyebabkan sarkoma kaposi.

Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Tentang Sarkoma Karposi

Daya Tahan Tubuh Lemah Bisa Memicu Sarkoma Kaposi

Tidak semua infeksi herpes bisa menyebabkan sarkoma Kaposi. Risiko bisa meningkat kalau orang tersebut memiliki daya tahan tubuh rendah atau mengalami kondisi tertentu misalnya mengidap HIV, sudah lanjut usia, atau tengah menjalani transplantasi organ. Bagaimana herpes bisa memicu sarkoma kaposi?

Penyebab paling umum serangan sarkoma kaposi adalah virus herpes (HHV-8). Kabar buruknya, virus yang satu ini bisa dengan mudah menular, terutama melalui hubungan seksual maupun kontak non-seksual, misalnya dari ibu ke bayi. Jenis kanker yang satu ini umum terjadi pada orang yang mengidap AIDS. Pada kondisi ini, sarkoma kaposi disebabkan oleh interaksi antara HIV. 

Baca juga: 3 Faktor yang Meningkatkan Risiko Sarkoma Kaposi

Risiko sarkoma kaposi pada pengidap AIDS juga terjadi akibat sistem imun yang melemah, serta infeksi virus HHV-8 akibat aktivitas seksual. Gejala yang muncul bisa bermacam-macam, tergantung pada jenis penyakit dan organ yang terserang. 

Secara umum, kondisi ini sering ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada kulit dan di dalam mulut. Bercak yang muncul berwarna merah atau ungu, tetapi tidak menyebabkan munculnya benjolan dan tidak memicu rasa nyeri. 

Bercak yang muncul biasanya menyerupai lebam, dan semakin lama bisa menonjol atau berkumpul menyebabkan bercak yang lebih besar. Untuk mendiagnosis penyakit ini, seseorang biasanya akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan HIV. 

Baca juga: Jangan Keliru, Ketahui Perbedaan HIV dan AIDS

Cara Mengatasi Sarkoma Kaposi

Selain pemeriksaan HIV, biasanya akan dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti CT scan, biopsi kulit, dan endoskopi. Hingga kini, belum ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit sarkoma kaposi. Namun, pengobatan tetap diperlukan untuk mengatasi gejala dan mencegah penyakit ini berkembang menjadi lebih buruk. 

Pada sarkoma yang masih memiliki ukuran kecil dan jumlahnya tidak banyak, cenderung masih bisa ditangani. Ada beberapa prosedur yang bisa dilakukan untuk menangani kondisi ini, yaitu dengan radioterapi, kemoterapi, dan krioterapi. Jika dilihat dari jenis dan penyebabnya, sarkoma dibagi menjadi empat. 

1. Sarkoma kaposi pada pengidap HIV.

2. Sarkoma kaposi klasik.

3. Sarkoma kaposi pada orang yang menjalani transplantasi organ.

4. Sarkoma kaposi endemik di Afrika.

Penanganan yang terlambat bisa sangat berbahaya dan penanganan tepat bisa membantu memperlambat perkembangan penyakit, misalnya dengan melakukan terapi untuk menaikkan sistem kekebalan tubuh. 

Pada pengidap HIV, sarkoma kaposi bisa diatasi dengan pemberian obat untuk mencegah virus berlipat ganda. Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit sarkoma kaposi dan cara mengatasinya dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Segera buat janji dengan dokter di rumah sakit jika kamu mengalami gejala ataupun kondisi seperti disebutkan di atas!



 


Referensi:

Medline Plus. Diakses pada 2021. Kaposi Sarcoma.

Cancer.org. Diakses pada 2021. What is Kaposi Sarcoma?