Waspadai, Makanan Picu Pubertas Datang sebelum Waktunya

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Waspadai, Makanan Picu Pubertas Datang sebelum Waktunya

Halodoc, Jakarta – Mendapatkan asupan nutrisi sehat dan seimbang adalah salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pubertas remaja. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Indian Journal of Endocrinology and Metabolism, sebelum abad ke 20, anak perempuan mengalami pubertas di rentang usia 16–17 tahun. 

Sekarang ini hampir 16 persen remaja perempuan di Amerika Serikat mengalami menstruasi pertama di usia 7 tahun! Mengonsumsi makanan olahan dan tinggi lemak dapat menjadi penyebab pubertas datang lebih cepat sebelum waktunya. Simak pembahasannya di bawah ini! 

Bagaimana dengan di Indonesia?

Di Indonesia sendiri, menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar), pada tahun 2010 menunjukkan remaja perempuan Indonesia mengalami menstruasi pertama di rentang usia 11,39 tahun hingga 13,39 tahun. 

Selain makanan, penyebabnya bisa beragam mulai dari kondisi kesehatan tertentu, kurangnya aktivitas fisik, paparan zat kimia serta polusi. Bicara soal makanan sebagai pemicu pubertas datang lebih cepat disebutkan kalau makanan yang mengandung tinggi lemak disinyalir menjadi penyebab utamanya.

Baca juga: 6 Tanda Pubertas pada Remaja Laki-Laki

Lemak ternyata memiliki karakteristik seperti “pabrik estrogen”, di mana semakin banyak lemak di badan semakin banyak pula hormon insulin, leptin, dan estrogen yang diproduksi. Hormon estrogen inilah yang berperan besar dalam mempercepat matangnya sistem reproduksi. 

Inilah yang menjadi penjelasan mengapa anak-anak yang mengalami obesitas rentan mengalami pubertas dini atau sering disebut precocious puberty. Mengetahui hal ini, orangtua perlu mewaspadai asupan makanan berlemak yang dikonsumsi anak. 

Mari simak beberapa contoh bahan makanan yang dapat mempercepat pubertas jika dikonsumsi secara berlebihan berikut ini!

1. Makanan Berminyak

Rata-rata minyak goreng yang digunakan di Indonesia adalah minyak tumbuhan yang telah dirafinasi (refined vegetable oils). Artinya, kandungan minyak tersebut sudah diubah secara kimiawi. Minyak jenis ini sangat mudah diserap oleh tubuh dan diubah menjadi lemak hanya dalam waktu beberapa menit saja. 

2. Protein Hewani (Daging dan Telur)

Protein hewani juga dipercaya memberikan dampak pubertas dini pada anak. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Michael Greger dan terangkum dalam Nutrion Facts.org disebutkan kalau anak usia pra sekolah (5–6 tahun) yang mengonsumsi protein hewani dalam jumlah banyak akan mengalami pubertas dini dibandingkan mereka yang mengonsumsi protein nabati lebih banyak. 

Kenapa demikian? Ini karena konsumsi daging meningkatkan IGF-1 (sejenis hormon pertumbuhan) yang berhubungan dengan pubertas dini. Tak terkecuali daging yang digunakan pada makanan cepat saji. Steroid dengan kandungan testosteron yang disuntikkan pada hewan agar lebih gemuk mampu meningkatkan kadar hormon seks dalam tubuh anak, sehingga tak hanya mempercepat pubertas, tetapi juga berbahaya untuk kesehatan. 

3. Susu Sapi dan Produk Turunannya

Susu sapi yang dijual di pasaran, biasa diambil dari sapi industri yang dibuat hamil terus menerus agar produksi susu tidak terhenti. Kehamilan ini membuat kadar estrogen dalam tubuh dan susu sapi meningkat. 

Inilah yang membuat konsumsi susu sapi setengah liter saja pada remaja perempuan dapat meningkatkan kadar IGF-1 sebanyak 10 persen. Selain itu, hormon seks pada susu sapi juga berasal dari steroid yang disuntikkan sebagai penggemuk yang membuat kadar hormon seks pada anak bisa meningkat tiga kali lipat hanya dengan satu jam mengonsumsi susu sapi. 

Lalu, apakah anak harus menghindari ragam asupan di atas? Tentu tidak. Beberapa asupan bermanfaat pada tubuh, hanya saja orangtua perlu memperhatikan jumlah takarnya. Kemudian, pastikan kalau produk hewani yang dikonsumsi adalah alami dan bukan olahan ataupun cepat saji. 

Baca juga: Jangan Langsung Emosi, Pahami Dulu 3 Fase Unik Perkembangan Anak

Pilihlah minyak tumbuhan yang alami dan perhatikan cara mengolahnya. Begitu pula dengan susu. Sebagai alternatif untuk susu, orangtua bisa menggunakan susu kedelai ataupun susu almond. 

Jika orangtua ingin mendiskusikan langkah tepat untuk menjaga kesehatan anak, tanyakan langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orangtua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor ibu bisa memilih mengobrol kapan dan di mana saja lewat Video/Voice Call atau Chat.

*artikel ini pernah tayang di SKATA