• Home
  • /
  • Waspadai Munculnya Herpes Zoster Setelah Alami Cacar Air

Waspadai Munculnya Herpes Zoster Setelah Alami Cacar Air

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Waspadai Munculnya Herpes Zoster Setelah Alami Cacar Air

Halodoc, Jakarta - Herpes zoster atau yang juga dikenal cacar ular (cacar api) ditandai dengan munculnya bintil kulit berisi air pada salah satu bagian tubuh. Kondisi ini menimbulkan rasa nyeri pada pengidapnya. Penyebabnya adalah infeksi virus Varicella zoster, yang juga menjadi penyebab cacar air.

Diketahui orang yang sebelumnya mengalami cacar air dapat mengidap herpes zoster. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus Varicella zoster menjadi tidak aktif, tetapi bertahan dalam saraf selama bertahun-tahun. Virus ini dapat aktif kembali dan menimbulkan herpes zoster atau cacar api. 

Baca juga: Ketahui Faktor Risiko Seseorang Mengalami Herpes Zoster

Keterkaitan Cacar Air dan Herpes Zoster

Saat virus Varicella zoster masuk ke dalam tubuh, masalah pertama yang menyebabkannya adalah cacar air. Kamu mungkin menganggapnya sebagai penyakit masa kanak-kanak, padahal orang dewasa juga bisa mendapatkannya. Setelah cacar air berlangsung, virus bergerak ke jaringan saraf dekat sumsum tulang belakang dan otak, tempat virus itu berada. 

Belum diketahui mengapa terkadang virus dapat “bangun” dan berjalan sepanjang serabut saraf ke kulit. Saat itulah terjadi kasus kedua yaitu herpes zoster. Sistem kekebalan yang lemah mungkin yang membangunkan virus tersebut. Setelah terkena cacar air, kamu cenderung mengalami herpes zoster jika:

  • Berusia 50 tahun atau lebih.
  • Mengalami kanker, HIV, atau penyakit lain yang menurunkan pertahanan tubuh.
  • Pernah mengalami cedera fisik yang serius. 
  • Mengonsumsi steroid dalam jangka panjang atau obat-obatan lain yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. 

Namun, banyak juga orang yang mengalami herpes zoster tidak masuk ke dalam salah satu kategori ini. 

Baca juga: Gejala Herpes Zoster yang Perlu Diwaspadai

Gejala Umum Herpes Zoster

Gejala pertama dari herpes zoster biasanya nyeri dan terbakar. Rasa sakit biasanya di satu sisi tubuh dan terjadi bercak kecil juga ruam merah. Karakteristik ruam meliputi:

  • Seperti tambalan merah.
  • Lepuh berisi cairan yang mudah pecah.
  • Membungkus dari tulang belakang ke batang tubuh.
  • Muncul di wajah dan telinga.
  • Gatal.

Beberapa orang mengalami gejala di luar rasa sakit dan ruam, yaitu termasuk:

  • Demam.
  • Panas dingin.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.
  • Kelemahan otot.

Berbeda dari cacar air, penyakit herpes zoster tidak menular. Hanya saja saat orang di sekitar kamu mengalami herpes zoster, virus Varicella zoster ini masih dapat menyebar. Jika kamu belum atau tidak pernah mengalami cacar air sebelumnya, kemudian kamu berdekatan dengan orang yang mengalami herpes zoster, maka tidak mungkin kamu mengalami herpes zoster. Namun perlu diketahui, kamu memiliki risiko tertular virus Varicella Zoster dan terkena cacar air. 

Apabila cacar air biasanya ditandai dengan bintik-bintik merah yang menyebar, maka herpes zoster muncul dalam bentuk bintik-bintik yang memanjang di bagian tubuh tertentu. Hanya saja pola yang muncul ini dapat berbeda-beda pada setiap orang. 

Sementara itu, persamaan herpes zoster dengan cacar air yaitu dapat membaik dengan sendirinya. Pengobatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi rasa nyeri dan gatal yang muncul akibat bintik-bintik merah berisi cairan yang ada di beberapa bagian tubuh. 

Baca juga: Cacar Air dan Herpes Zoster, Apa Bedanya?

Untuk mengatasi penyakit herpes zoster, kamu dapat bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Biasanya dokter, akan memberikan obat berupa salep atau obat minum antivirus untuk mempercepat proses pengeringan cacar di tubuh kamu. Obat yang sering diresepkan biasanya adalah Acyclovir dan Valacyclovir. Setelah obat dioleskan atau diminum, penyakit herpes zoster ini akan pulih secara perlahan dalam waktu 7-10 hari. 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Everything You Need to Know About Shingles.
WebMD. Diakses pada 2020. Shingles.