12 July 2018

World Cup 2018: Apa Jadinya Pengidap Buta Warna Menonton Sepak Bola?

pengidap buta warna menonton sepak bola, buta warna, world cup 2018, piala dunia 2018

Halodoc, Jakarta - Mau tahu keajaiban Si Kulit Bundar? Percaya atau tidak, benda ini bisa membuat miliaran orang tertawa, menangis, kesal, hingga loncat kegirangan dalam waktu bersamaan, tak peduli di belahan Bumi mana mereka berada.

Menurut FIFA, Final Piala Dunia 2014 yang mempertemukan timnas Argentina dan Jerman, setidaknya disaksikan oleh satu miliar orang. Bagaimana dengan World Cup 2018? Seperti dilansir Forbes, turnamen olahraga terbesar di dunia ini diperkirakan disaksikan oleh 3,4 miliar orang, hampir separuh penduduk planet Bumi. Coba bandingkan dengan penonton global untuk Super Bowl yang ‘hanya’ menyentuh angka 150 juta penonton tiap tahunnya.

Hmm, menyoal euforia World Cup 2018 ini, ada hal menarik yang bisa kamu simak. Mungkin kamu sendiri juga tak pernah membayangkan hal tersebut. Bagi seseorang yang memiliki fungsi tubuh sempurna, terutama indra penglihatan, menonton sepak bola tentu tak akan jadi problem. Namun, apa jadinya bila pengidap buta warna menonton sepak bola? Mau tahu? Perhatikanlah gambar di atas (cover artikel), kira-kira itulah gambaran yang dilihat pengidap buta warna ketika menonton sepak bola.

(Baca juga: Emotional Hijacking Alasan Emosi Meledak Pemain Bola di Piala Dunia)

Mana Lawan - Mana Kawan?

Seperti dilansir dalam BBC, Sean Hargrave, pria asal Inggris yang berprofesi sebagai jurnalis dan copywriter, mengaku amat terobsesi dengan sepak bola. Namun, ketika duduk untuk menonton pertandingan pembukaan Piala Dunia 2018, ia tak bisa menunjukkan mana timnas Rusia, mana timnas Arab Saudi. Lo, kok bisa? Katanya pecinta sepak bola sejati? Masalahnya begini, ternyata Hargrave seperti 1 dari 12 pria, atau 1 dari 200 wanita lainnya, ia memiliki gangguan pada indra penglihatannya, alias buta warna.

Saat menonton laga pembukaan itu, ia mati-matian untuk membedakan warna merah (Rusia) dan hijau (Arab Saudi), bentuk paling umum dari kondisi buta warna. Singkatnya, ketika tim yang berlaga mengenakan jersey berwarna merah dan hijau (seperti Rusia vs Arab Saudi), game over!

Sambil bergurau, Hargrave mengibaratkan kondisi di atas seperti Madonna muncul dari belakang panggung dan berkata, “Saya akan menyanyikan lagu dalam bahasa Swahili malam ini!”.

Baca juga: 5 Cara Tes Buta Warna yang Akurat

Kebutaan warna memang memiliki variasi dalam jenis dan tingkat keparahannya. Namun, untuk pengidap buta warna yang memiliki masalah pada warna merah-hijau yang parah, menonton Rusia mempermalukan Arab Saudi di laga pembukaan World Cup 2018, mungkin akan tampak lebih ‘parah’ daripada gambar di atas. Warnanya benar-benar tampak serupa.

FIFA Harus Bertanggung Jawab?

Kebingungan karena tak bisa membedakan tim yang berlaga, Hargrave pun men-tweet kekesalannya pada FIFA di akun Twitter pribadinya.

“@FIFAWorldCup gagal lagi karena #1dari12 #pengidapbutawarna tidak tahu tim mana yang berhasil mendapatkan skor atau gagal dari penalti. Kenapa selalu merah dan hijau? Mengapa tidak dicentang (ü) atau disilangkan (×) ?” ujar pemilik akun @Seanhargrave

Lalu, kira-kira berapa sih jumlah pengidap buta warna di seluruh dunia? Ternyata angkanya melebihi jumlah penonton Super Bowl tiap tahunnya, lo. Seperti di lansir BBC, setidaknya 320 juta orang di seluruh dunia mengidap buta warna.

Secara statistik, kondisi ini memengaruhi satu pemain di setiap tim sepak bola pria. Nah, karena hampir separuh penduduk planet Bumi menonton World Cup 2018, banyak yang kesal karena FIFA gagal memperhitungkan apa yang bisa dan tidak bisa pengidap buta warna lihat.

Bukan cuma Hargrave saja yang merasa geram. Colour Blind Awareness, organisasi yang didirikan untuk meningkatkan kesadaran akan buta warna, ikut men-tweet persoalan tersebut hingga menjadi trending topis di Twitter.

Baca juga: Inilah Sosok Fittest Players dan Rahasia di World Cup 2018

“Tidak bisa dipercaya! Laga pembukaan #WorldCup2018 warna merah vs hijau. Mengejutkan, sebab kami telah membahas masalah ini dengan FIFA tiga tahun lalu, dan mereka tak pernah menindaklanjutinya,”

Menurut ahli pengidap buta warna mungkin akan kesulitan untuk membedakan warna:

- Merah, oranye, kuning, hijau dan cokelat.

- Merah dan hitam.

- Biru, ungu, dan merah muda gelap (dark pink).

Pecinta sepak bola yang mengidap buta warna tak hanya dibingungkan saat laga pembukaan. Kasus serupa juga terjadi saat pertandingan Korea Selatan (merah) vs Jerman (hijau) yang membuat mereka kesulitan untuk mengikuti jalannya pertandingan. Belum lagi saat Senegal vs Columbia yang bermain dengan jersey hijau-kuning yang amat sulit dibedakan untuk sebagian penggemar.

Tak cuma itu, saat laga antara Inggris (merah) vs Swedia (kuning), pengidap buta warna tak bisa membedakan kiper timnas Inggris, Jordan Pickfor, yang mengenakan jersey hijau muda dengan pemain Swedia lainnya. Nah, sudah kebayangkan betapa peliknya situasi yang dihadapi pengidap buta warna kala menonton pertandingan sepak bola?

Seputar Buta Warna

Nah, kini timbul pertanyaan, bagaimana sih seseorang bisa mengalami buta warna? Kata ahli, kondisi ini biasanya diwariskan secara genetik dan diyakini diturunkan dari garis ibu. Namun, dalam beberapa kasus, buta warna juga bisa disebabkan karena kondisi kesehatan seperti diabetes, multiple sclerosis (kondisi imun yang memengaruhi sel saraf otak dan tulang belakang), atau efek samping dari obat-obatan tertentu.

Baca juga: Mengapa Mata Mengalami Buta Warna?

Kata ahli, seseorang melihat warna melalu sel-sel saraf di mata yang disebut cones (kerucut). Cones ini terdiri dari tiga, yaitu yang menyerap cahaya merah, hijau, dan biru. Nah, satu set cone yang berfungsi sempurna akan memungkinkan kamu melihat spektrum warna secara penuh.

Namun, pada pengidap buta warna biasanya satu jenis cone mengalami kerusakan, atau dalam kasus yang parah tak ada sama sekali. Contohnya, jika cone merah yang mengalami masalah, orang tersebut akan kesulitan untuk melihat warna yang mengandung warna merah dengan jelas. Alhasil, mereka akan kebingungan untuk membedakan warna biru dan ungu, sebab mereka tak dapat “melihat” komponen merah yang terdapat di dalam warna ungu.

Sayangnya, tak ada obat untuk mengobati buta warna yang disebabkan oleh genetik. Selain itu, banyak pula orang yang tak menyadari kalau mereka mengalami buta warna. Kok bisa? Pasalnya, mereka sudah dilahirkan dengan kondisi tersebut, dan tak menyadari kalau orang lain bisa melihat beragam macam warna melalui matanya.

Nah, jika merasa dirimu mengalami buta warna, segeralah kunjungi dokter spesialis mata untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Kamu bisa lo bertanya langsung pada dokter mengenai buta warna melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!