11 Kondisi yang Memerlukan Cardiotocography (CTG) pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
11 Kondisi yang Memerlukan Cardiotocography (CTG) pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta - Menuju trimester ketiga kehamilan, perut ibu akan semakin membesar. Tak heran, karena janin juga tumbuh membesar di dalam rahim. Tidak hanya itu, emosi ibu pasti bercampur aduk, antara cemas menghadapi persalinan dan bahagia tak sabar menanti kedatangan sang buah hati di dunia.

Terkadang, dokter menyarankan ibu untuk melakukan pemeriksaan CTG atau cardiotocography. Sebenarnya, apa sih CTG itu? Mengapa pemeriksaan tersebut diperlukan? Yuk, simak ulasan lengkapnya di sini!

Apa Itu Cardiotocography?

Cardiotocography adalah alat yang digunakan untuk mengetahui detak jantung janin di dalam kandungan. Tes kesehatan ini dilakukan pada usia kehamilan trimester ketiga. Melalui CTG, dokter memantau kontraksi rahim ibu, kondisi kesehatan janin dan mengetahui apakah ada permasalahan pada janin selama proses kehamilan periode terakhir hingga persalinan.

Tidak hanya itu, pemeriksaan CTG memungkinkan dokter maupun perawat bisa memberikan pertolongan jika ternyata ditemukan kelainan dalam kandungan, terutama yang berkaitan dengan detak jantungnya.

Baca juga: Begini Prosedur Saat Menjalani Cardiotocography

Dalam proses pemeriksaan dengan CTG, kandungan ibu diperiksa secara internal maupun eksternal. Pemantauan internal melibatkan peletakan alat di dalam vagina, ini berarti diperlukan pelebaran serviks dalam ukuran tertentu. Bagian elektroda akan ditempatkan dekat dengan kulit kepala janin supaya dokter bisa melakukan pemantauan.

Pemeriksaan internal tidak umum dan hanya dilakukan jika dokter menemui kendala dalam menangkap detak jantung janin dengan cara eksternal. Pemantauan internal memberikan hasil yang lebih akurat, sehingga direkomendasikan untuk mengidentifikasi kondisi serius pada janin.

Sementara itu, pemantauan atau pemeriksaan eksternal umum dilakukan dengan menempatkan peralatan di atas perut ibu. Alat ini terdiri dari dua sabuk elastis dengan dua piringan. Satu lempeng digunakan untuk mendeteksi detak jantung janin, sementara lempeng lainnya digunakan untuk memeriksa kondisi tekanan dan kontraksi pada perut ibu. Terkadang, ditambahkan gel supaya sinyal yang diperoleh bisa lebih kuat.

Baca juga: Ini Dampak Kekurangan dan Kelebihan Air Ketuban Bagi Bayi

Berbagai Kondisi yang Memerlukan Cardiotocography pada Ibu Hamil

Pada dasarnya, pemeriksaan kehamilan menggunakan cardiotocography tidak wajib dilakukan, dan kehamilan yang berisiko rendah umumnya tidak memerlukan pemeriksaan ini.

Meski begitu, ada kondisi medis yang memungkinkan ibu memerlukan tes kesehatan ini, seperti:

  • Ibu mengalami tekanan darah tinggi.

  • Ibu diberi obat untuk meningkatkan kecepatan persalinan.

  • Ibu diberi epidural untuk membantu mengelola rasa sakit selama kontraksi.

  • Ibu mengalami perdarahan selama persalinan.

  • Ibu memiliki riwayat penyakit diabetes atau hipertensi.

  • Ibu memiliki cairan ketuban yang rendah.

  • Terdapat dugaan pengurangan plasenta yang dapat mengurangi jumlah asupan darah yang diterima janin.

  • Ibu merasa gerakan janin tidak sama, tidak menentu atau lebih lambat dibandingkan biasanya.

  • Janin di dalam kandungan berada dalam posisi yang tidak biasa.

  • Ibu mengalami kehamilan bayi kembar.

  • Adanya indikasi infeksi seperti HIV, hepatitis B atau C.

Baca juga: Hati-Hati, Bahaya Air Ketuban Bocor

Nah, itu tadi beberapa kondisi yang memungkinkan ibu harus melakukan pemeriksaan kesehatan dengan alat cardiotocography. Jangan khawatir, ibu hanya perlu rutin memeriksakan kandungan untuk bisa mendeteksi segala kelainan lebih dini, agar penanganan bisa diberikan dengan segera. Ibu juga bisa menanyakan segala hal tentang kehamilan langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc cukup dengan download aplikasi Halodoc di ponsel ibu.