14 May 2018

13 Fakta Tentang Kontrasepsi IUD yang Perlu Diketahui

13 Fakta Tentang Kontrasepsi IUD yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta – Alat kontrasepsi yang satu ini memang menjadi andalan para wanita yang ingin menunda kehamilan dalam jangka panjang. Meski namanya sudah sangat populer (dikenal juga dengan sebutan KB spiral), belum tentu semua orang sudah mengetahui seperti apa bentuknya maupun cara kerja dari kontrasepsi jenis ini.

Nah, bagi kamu yang masih punya banyak pertanyaan tentang kontrasepsi IUD, yuk cari tahu fakta tentang kontrasepsi IUD berikut ini, ya!

  1. Apa itu IUD?

IUD atau Intra Uterine Device adalah alat kontrasepsi berbahan dasar plastik yang fleksibel, umumnya berbentuk huruf T dan berukuran sekitar 3 cm.  IUD dimasukkan ke dalam rahim oleh tenaga kesehatan berpengalaman dan dapat mencegah kehamilan hingga 10 tahun.

  1. Bagaimana Cara Kerjanya?   

Kontrasepsi IUD ada dua jenis, yaitu IUD hormonal dan non-hormonal. IUD hormonal bekerja dengan cara melepas hormon progestin sedikit demi sedikit setiap harinya.

Hormon ini akan mengentalkan cairan di bagian leher rahim sehingga sperma susah masuk ke dalam rahim. Kalaupun berhasil terjadi pembuahan, hormon ini akan menipiskan lapisan rahim sehingga membuat sel telur yang dibuahi susah menempel.

Sementara itu, IUD non-hormonal memiliki lilitan tembaga di sekelilingnya. Tembaga ini mengeluarkan zat yang menimbulkan peradangan di dalam rahim yang mampu merusak sel sperma dan sel telur sebelum keduanya sempat bertemu.

  1. Apakah IUD Bisa Benar-Benar Mencegah Kehamilan?

Sejauh ini, IUD termasuk alat kontrasepsi yang paling efektif selain implan. Kurang dari 1 orang yang gagal dari 100 pengguna, alias lebih dari 99 persen efektif.

  1. Berapa Lama Efektivitasnya Bertahan?

IUD hormonal mampu mencegah kehamilan hingga lima tahun, sementara IUD tembaga mampu mencegah kehamilan hingga 10 tahun.

  1. Bagaimana Cara Memasang IUD? Apakah Sakit?

Dokter kandungan atau bidan yang berpengalaman biasanya akan memastikan kamu sedang tidak dalam kondisi hamil. Kemudian, mereka akan menginformasikan tahap-tahap pemasangan IUD pada kamu sebelum proses pemasangan.

Memang benar ada rasa tidak nyaman selama proses berlangsung dan kamu diperbolehkan meminum obat pereda nyeri setengah jam sebelumnya. IUD harus dimasukkan ke dalam rongga rahim, sementara “pintu masuknya” yaitu leher rahim berbentuk seperti lorong sempit.

Untuk itu, dokter akan menggunakan bantuan spekulum untuk menahan leher rahim kamu agar tetap terbuka selama proses pemasangan IUD. Proses ini hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit.

  1. Kapan Waktu yang Tepat untuk Memasang IUD?

IUD bisa dipasang kapan saja baik pada saat menstruasi maupun tidak. Jika dipasang pada saat menstruasi, kamu sudah pasti tidak dalam keadaan hamil. Pemasangan lebih mudah dan tidak terlalu nyeri karena saat haid kondisi serviks sedang terbuka. Namun, pilihlah hari dimana menstruasi sedang tidak deras. Jika IUD dipasang di antara siklus menstruasi, kamu harus memastikan bahwa kamu tidak hamil. Kelebihan pemasangan saat kamu tidak haid adalah infeksi dapat segera telihat, jika ada.     

  1. Bisakah IUD Dipasang Segera Setelah Proses Persalinan?

IUD bisa dipasangkan 48 jam setelah persalinan. Jika terlambat, IUD dapat dipasang 6-8 minggu setelah persalinan.

  1. Apakah IUD Mempengaruhi ASI?

Tidak. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) yaitu IUD hanya berpengaruh di rahim saja, sehingga tidak mempengaruhi produksi ASI.

  1. Apakah IUD Mahal?

Harganya memang relatif lebih mahal dari KB suntik dan pil, namun biaya ini dikeluarkan sekali saja dalam rentang 5-12 tahun pemakaian. Sementara itu, pil KB dan KB suntik lebih murah namun biayanya harus dikeluarkan secara rutin.

Di rumah sakit, harga IUD di atas Rp 500.000, sementara di puskesmas bisa jauh lebih murah bahkan gratis, tergantung kebijakan pemerintah daerah yang bersangkutan. Harga ini bervariasi tergantung merk, jenis, dan biaya dokter.

  1. Apakah IUD Memiliki Efek Samping?

Pada IUD non-hormonal, efek samping yang sering muncul adalah haid yang lebih banyak dan lebih nyeri. Sementara pada IUD hormonal yang terjadi sebaliknya, yaitu haid menjadi tidak teratur bahkan tidak haid sama sekali.

Keputihan dan flek juga dapat muncul. Keluhan ini akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan adaptasi tubuh kita terhadap IUD.

  1. Belum Memiliki Anak, Apakah Bisa Memakai IUD?

Bisa. Namun, karena rahim wanita yang belum pernah melahirkan berukuran lebih kecil daripada yang sudah memiliki anak, kemungkinan IUD untuk keluar dengan sendirinya lebih besar.

  1. Jika Saya Ingin Kembali Hamil, Berapa Lama Saya Bisa Kembali Subur?

Begitu IUD dikeluarkan dari rahim, kamu langsung subur kembali.

  1. Apakah Saya Perlu Memberi “Masa Jeda” Pada Rahim Jika Ingin Menggunakan IUD Lagi Setelah IUD yang Sebelumnya Kadaluarsa?

Tidak. Melepas IUD yang lama sekaligus memasang yang baru memiliki resiko infeksi yang lebih kecil daripada melakukan dua prosedur terpisah. Dan, kamu berpotensi hamil pada masa jeda tersebut.

Sekarang, kamu sudah mendapat gambaran jelas mengenai IUD dan lebih mudah memutuskan untuk menggunakannya atau tidak. Apapun alat kontrasepsi pilihan kamu, pastikan kamu merasa nyaman dengan segala kekurangan dan kelebihannya ya.

Masih bingung dan butuh saran medis yang lebih akurat dan terpercaya? Kamu bisa langsung menghubungi dokter pilihan di Halodoc. Gunakan aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja, dimana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store dan Google Play.

 

*artikel ini pernah tayang di SKATA dengan pada tanggal  11 Mei 2018