5 Kebiasaan Sepele Ini Menyebabkan Radang Usus Buntu

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
5 Kebiasaan Sepele Ini Menyebabkan Radang Usus Buntu

Halodoc, Jakarta - Pernah alami gejala seperti nyeri perut yang bergerak dari atas pusar menuju sisi kanan bawah perut, mual, muntah, demam ringan, pembengkakan perut, bahkan nyeri saat menyentuh perut?

Jika mengalami satu atau beberapa gejalanya, dan berlangsung lama, sebaiknya tidak menyepelekan kondisi ini. Beberapa gejala tadi bisa menjadi tanda dari radang usus buntu atau apendisitis. 

Peradangan ini menyerang sebuah tabung kecil seperti jari yang menggantung dari sisi kanan bawah usus besar. Peradangan biasanya terjadi karena infeksi atau penyumbatan pada saluran pencernaan.

Pada beberapa kasus hal ini dapat terjadi karena kebiasaan sepele. Jika tidak diobati, usus buntu yang terinfeksi bisa pecah atau disebut ruptur apendiks.

Baca juga: Ini Bedanya Sakit Perut karena Penyakit Usus Buntu dengan Mag

 

Beberapa Hal Sepele Penyebab Radang Usus Buntu

Apendisitis bisa menyerang 1 dari setiap 500 orang setiap tahun. Risiko radang usus buntu pun bisa meningkat dengan bertambahnya usia, dan memuncak antara usia 15 dan 30 tahun.

Melansir dari Harvard Health Publishing, radang usus buntu merupakan alasan utama dilakukannya tindakan pembedahan perut pada anak-anak, dengan empat dari setiap 1.000 anak mengharuskan untuk mengangkat usus buntu mereka sebelum usia 14 tahun.

Maka dari itu, penting untuk segera periksa ke dokter jika gejalanya kamu alami. Buat janji saja dengan dokter di Halodoc untuk segera mendapatkan perawatan. 

Usus buntu juga kerap disebut sebagai penyakit akibat gaya hidup yang kurang sehat saat mengonsumsi makanan. Berikut ini kebiasaan sepele yang dapat sebabkan radang usus buntu, antara lain: 

  • Sering Menahan Kentut. Kebiasaan yang sepele ini dapat memicu radang usus buntu. Hal ini karena saat gas berada dalam saluran pencernaan menjadi tertahan. Akibatnya membuat dinding usus menjadi tipis sehingga risiko peradangan usus buntu menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, usahakan untuk segera mengeluarkan kentut.
  • Gemar Mengonsumsi Makanan yang Dibakar. Faktanya, makanan yang diolah menggunakan arang dan membuat bagian makanan tersebut tampak hitam adalah hal yang berbahaya. Makanan yang dibakar mengandung zat karsinogen yang bisa memicu kanker serta gejala usus buntu. Beberapa jenis makanan tersebut adalah satai, ayam bakar, atau ikan bakar.
  • Sering Makan Gorengan. Tidak hanya makanan yang dibakar, makanan yang digoreng juga  memiliki kandungan zat karsinogen yang berbahaya. Oleh karena itu, kamu wajib mengurangi makan gorengan atau menghentikannya. Alternatif yang lebih sehat adalah mengonsumsi makanan yang direbus atau dikukus.
  • Mengonsumsi Daging Kalengan. Faktanya bermacam jenis daging instan di supermarket juga merupakan pilihan yang buruk untuk dikonsumsi setiap hari. Daging instan diduga memiliki kandungan zat karsinogen yang memicu radang usus buntu.
  • Jajan Sembarangan. Radang usus buntu bisa disebabkan karena adanya infeksi bakteri, misalnya bakteri jenis salmonella dan E. Coli bisa hidup di makanan yang kurang higienis. Oleh sebab itu, jika kamu terbiasa jajan sembarangan, radang usus buntu jadi lebih mudah menyerang.  

Baca juga: Usus Buntu Bisa Sembuh Tanpa Operasi, Benarkah?

 

Pencegahan dan Pengobatan Radang Usus Buntu

Sayangnya para ahli berpendapat bahwa tidak ada langkah yang bisa mencegahnya. Mungkin kamu bisa mencoba melakukan gaya hidup sehat seperti tidak jajan sembarangan, lebih banyak makan dan sayuran yang diolah dengan baik, serta rajin olahraga. 

Sementara untuk mengobati radang usus buntu, dokter menyarankan dilakukannya operasi untuk menghilangkan usus buntu. Operasi disarankan untuk dilakukan sesegera mungkin untuk mengurangi kemungkinan pecahnya usus buntu. Terdapat dua metode yang bisa dijalankan, antara lain: 

  • Operasi Laparoskopi. Selama operasi laparoskopi, ahli bedah menggunakan beberapa sayatan yang lebih kecil dan alat bedah khusus yang mereka makan melalui sayatan untuk menghapus usus buntu. Operasi laparoskopi menyebabkan komplikasi yang lebih sedikit, seperti infeksi terkait rumah sakit, dan memiliki waktu pemulihan yang lebih singkat.
  • Laparotomi. Ahli bedah menggunakan laparotomi untuk menghilangkan usus buntu melalui sayatan tunggal di daerah kanan bawah perut.

Baca juga: 3 Makanan Pemicu Usus Buntu yang Perlu Dihindari 

Setelah operasi, ahli bedah merekomendasikan agar kamu membatasi aktivitas fisik selama 10 hingga 14 hari pertama setelah laparotomi dan untuk 3 hingga 5 hari pertama setelah operasi laparoskopi.

Referensi:
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2019. Appendicitis.
The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2019. Appendicitis.