Adakah Komplikasi yang Diakibatkan Nasal Endoskopi?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Adakah Komplikasi yang Diakibatkan Nasal Endoskopi?

Halodoc, Jakarta – Sebagai salah satu prosedur medis invasif minimal, nasal endoskopi atau yang juga disebut rinoskopi biasanya dilakukan oleh seorang dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan) atau otolaringologi. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan alat berupa tabung tipis nan kaku, dengan serat kabel optik yang terhubung pada kamera video dan sumber cahaya yang hasilnya akan ditampilkan berupa gambar pada layar.

Nasal endoskopi adalah prosedur medis yang terbilang aman dan minim komplikasi. Namun pada beberapa kasus yang jarang, dapat terjadi mimisan, pingsan, reaksi alergi, atau reaksi lain terkait anestesi. Risiko terjadinya perdarahan juga akan meningkat jika sebelum prosedur dilakukan, pasien mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki riwayat kelainan darah.

Baca juga: Ketahui Diagnosis Rhinosinusitis dengan Nasal Endoskopi

Oleh karena itu, pastikan untuk melakukan diskusi lebih lanjut dengan dokter lewat chat di aplikasi Halodoc, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk konsultasi langsung. Tanyakan pada dokter apakah ada instruksi tertentu yang harus diikuti sebelum, selama, dan setelah prosedur dilakukan, serta riwayat obat dan kondisi kesehatan yang dimiliki. Risiko komplikasi pun sebenarnya bisa dihindari dengan mengikuti saran dokter, terkait obat-obatan yang harus diminum setelah prosedur dilakukan.

Untuk Apa Nasal Endoskopi Dilakukan?

Nasal endoskopi dilakukan untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang terjadi pada bagian telinga, hidung, dan tenggorokan. Gangguan kesehatan yang dimaksud dapat berupa penyumbatan pada hidung, mimisan, polip hidung, rinosinusitis, tumor hidung, dan gangguan kemampuan mencium. 

Tak hanya itu, nasal endoskopi juga memungkinkan dokter untuk mendeteksi adanya pertumbuhan sel kanker, perkembangan polip hidung, serta mengambil benda asing yang masuk ke hidung. Prosedur ini dapat dilakukan di rumah sakit atau klinik manapun, yang memiliki peralatan medis penunjang yang lengkap dan dokter spesialis THT.

Baca juga: 8 Hal yang Perlu Diketahui tentang Pemeriksaan Endoskopi

Lalu, kapan prosedur nasal endoskopi sebaiknya dilakukan? Jawabannya, jika mengalami gangguan yang tidak biasa dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada area telinga, hidung, ataupun tenggorokan. Jika mengalami kondisi semacam itu, segera periksakan diri ke dokter THT. Dokter biasanya akan menyarankan untuk menjalani prosedur nasal endoskopi, jika memang diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Prosedur Nasal Endoskopi

Prosedur nasal endoskopi diawali dengan pemberian anestesi atau penyemprotan hidung dengan cairan dekongestan topikal. Barulah setelah itu alat endoskopi akan dimasukkan melalui satu sisi hidung. Proses ini akan menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman. Beritahukan pada dokter jika saat alat dimasukkan terasa sakit atau amat tidak nyaman. Dokter mungkin akan memberikan anestesi lokal lebih banyak atau menggantinya ke alat yang lebih kecil.

Setelah alat dimasukkan, dokter akan mendorongnya lebih dalam untuk melihat rongga hidung dan sinus. Setelah selesai, proses ini biasanya akan dilakukan juga untuk lubang hidung lainnya. Jika diperlukan, dokter juga akan melakukan biopsi atau pengambilan sampel jaringan, guna pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: 8 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Pemeriksaan Endoskopi

Kondisi Medis yang Membutuhkan Nasal Endoskopi

Nasal endoskopi biasanya sangat dianjurkan bagi orang yang mengalami gangguan tidak biasa atau berulang pada bagian hidung, telinga, dan tenggorokan, seperti:

  • Mimisan berulang.

  • Sinusitis kronis. Pada kasus ini, nasal endoskopi dilakukan untuk memeriksa rongga hidung, agar dokter dapat lebih memahami penyakit dan memudahkannya dalam menentukan jenis pengobatan.

  • Polip hidung. Merupakan kondisi ketika terdapat pertumbuhan abnormal di dalam hidung dan sinus, yang biasanya disebabkan oleh reaksi alergi atau asma

  • Disfonia. Kondisi ini ditandai dengan penyimpangan produksi kotak suara, membuat fonasi menjadi serak, kasar, dan terengah. Disfonia umumnya terjadi karena kotak suara tidak mampu bergetar dengan sempurna saat menghembuskan nafas.

  • Disfagia atau sulit menelan. Disebabkan oleh adanya pertumbuhan di sepanjang esofagus, penyempitan esofagus, atau gangguan muskular di area tersebut.

  • Diduga terdapat pertumbuhan kanker di hidung atau tenggorokan. Pada kasus ini, nasal endoskopi dilakukan untuk membantu mendeteksi pertumbuhan abnormal di dinding rongga hidung, sekaligus mengumpulkan sampel jaringan untuk prosedur biopsi.

  • Nasoendoskopi membantu mengenali pertumbuhan abnormal di sepanjang dinding rongga hidung, dan mengumpulkan sampel jaringan untuk prosedur biopsi.

  • Mencerna atau menghirup benda asing. Pasien yang tidak sengaja mencerna atau menghirup benda asing ke dalam tenggorokan atau hidung biasanya juga dianjurkan untuk menjalani prosedur ini sebagai intervensi darurat.

Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2019. Nasal Endoscopy.
Great Ormond Street Hospital for Children, NHS Foundation Trust. Diakses pada 2019. Nasal Endoscopy.