Agung Hercules Kena Kanker Glioblastoma, Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Agung Hercules Kena Kanker Glioblastoma, Ini Penjelasannya

Halodoc, Jakarta – Baru-baru ini, jagat hiburan mendapat kabar mengejutkan yang datang dari binaragawan, Agung Hercules. Pasalnya, binaragawan sekaligus komedian yang pernah membintangi film Saras 008 ini telah didiagnosis mengidap glioblastoma atau lebih dikenal sebagai kanker otak.

Ciri khas Agung Hercules seperti tubuh kekar dan rambut gondrong kini sudah tak terlihat. Istri Agung Hercules mengatakan bahwa kanker yang diidap suaminya telah mencapai stadium IV yang mengubah penampilannya itu. Lantas, seperti apakah kanker otak glioblastoma yang menghilangkan tubuh kekar Agung Hercules? Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Sering Diabaikan, Ini Gejala Tumor Otak yang Harus Diwaspadai

Glioblastoma merupakan salah satu jenis kanker agresif yang umumnya terletak di bagian otak atau sumsum tulang belakang. Glioblastoma terbentuk dari sel astrosit yang mendukung sel-sel saraf. Glioblastoma sering tumbuh di lobus frontal dan temporal otak. Kanker ini juga dapat ditemukan di batang otak, otak kecil, dan bagian otak lainnya.

Pada kasus Agung Hercules, kanker glioblastoma yang telah mencapai stadium IV merupakan tipe yang paling agresif dan menyebar ke seluruh otak dengan cepat. Terdapat dua jenis kanker glioblastoma, yaitu glioblastoma primer dan sekunder.

  • Glioblastoma primer lebih sering terjadi ketimbang glioblastoma tipe sekunder. Namun, jenis ini juga menjadi tipe paling agresif.

  • Glioblastoma sekunder lebih jarang terjadi dan pertumbuhannya lebih lambat ketimbang tipe primer. Biasanya, tipe ini dimulai dari astrositoma tingkat rendah yang semakin berkembang seiring berjalannya waktu.

Apa yang Menyebabkan Glioblastoma?

Seperti kanker pada umumnya, kanker ini dimulai ketika sel-sel mulai tumbuh tak terkendali dan membentuk tumor. Namun, penyebab utama glioblastoma tidak diketahui secara pasti. Pertumbuhan sel ini kemungkinan besar berhubungan dengan gen. Pria yang berumur lebih dari 50 tahun memiliki faktor risiko terkena kanker otak glioblastoma.

Apa Saja Gejala Glioblastoma?

Pertumbuhan glioblastoma yang tidak terlalu besar mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun, jika ukuran kanker ini semakin membesar bisa menekan bagian otak pengidapnya. Gejala pada setiap orang bisa berbeda tergantung pada otak mana yang terpengaruh. Gejala umum dari glioblastoma dapat berupa:

Lantas, Bagaimana Mendiagnosis Penyakit Ini?

Apabila berbagai seseorang telah mengalami berbagai gejala seperti diatas, maka beberapa tes akan dilakukan guna menegakkan diagnosis. Berikut ini langkah-langkah untuk mendiagnosis glioblastoma.

1. Pemeriksaan Neurologis

Sebelum memeriksakan fisik, dokter akan menanyakan seputar riwayat penyakit dan gejala apa saja yang dirasakan. Setelah itu, pemeriksaan neurologis akan dilakukan dengan memeriksa visi, pendengaran, keseimbangan, koordinasi, kekuatan, dan refleks. Masalah pada satu atau lebih area bisa dijadikan petunjuk bagian otak mana yang terpengaruh kanker.

Baca Juga: Ini 7 Makanan Pemicu Tumor Otak

2. Tes Pencitraan

Setelah pemeriksaan neurologis, tes pencitraan akan dilakukan untuk menentukan lokasi dan ukuran tumor otak. Jenis tes pencitraan yang bisa dipilih, yakni MRI, CT Scan, ataupun positron emission tomography (PET).

Setelah di diagnosis, kemungkinan besar akan dilakukan biopsi untuk menentukan jenis sel dan tingkat keagresifan kanker. Tes khusus sel tumor dapat memberi tahu dokter seputar jenis-jenis mutasi yang diperoleh sel untuk memberi petunjuk tentang prognosis dan memandu pilihan perawatan.

Kalau kamu perlu memeriksakan kondisi kesehatanmu dengan dokter, sekarang bisa lho langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan melalui Halodoc. Mudah bukan? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play!

Bisakah Glioblastoma Diobati?

Salah satu pengobatan glioblastoma adalah dengan mengangkat sel glioblastoma sebanyak mungkin melalui prosedur pembedahan. Tapi karena glioblastoma tumbuh ke dalam jaringan otak normal, maka mengangkat keseluruhan sel kanker tidak mungkin dilakukan. Untuk alasan ini, kebanyakan orang menerima perawatan tambahan setelah operasi untuk menargetkan sel yang tersisa.

Perawatan tambahannya bisa berupa terapi radiasi atau kemoterapi. Terapi radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi, seperti sinar-X atau proton untuk membunuh sel-sel kanker. Sedangkan kemoterapi, dilakukan dengan menggunakan obat untuk membunuh sel kanker.

Baca Juga: Cara Pencegahan Tumor Otak yang Perlu Diketahui

Seberapa Besar Harapan Hidup Pengidap Kanker Glioblastoma?

Waktu kelangsungan hidup rata-rata pengidap glioblastoma adalah 15–16 bulan. Sebab, terdapat sebuah penelitian yang menunjukan bahwa  separuh dari semua pengidap kanker ini bertahan hidup selama jangka waktu tersebut. Ada pun yang dapat bertahan hingga lima tahun atau lebih, meskipun kasusnya sangat jarang terjadi.