21 May 2018

Alasan Buka Puasa Dianjurkan Tidak Langsung Makan Berat

Alasan Buka Puasa Dianjurkan Tidak Langsung Makan Berat

Halodoc, Jakarta – Nafsu makan sering kali berlipat ganda saat memasuki waktu berbuka puasa. Hal tersebut terjadi karena banyak orang percaya bahwa setelah satu harian menahan lapar dan haus, tubuh membutuhkan banyak makan. Selain itu, seringnya makanan dan minuman yang tersaji akan terlihat lebih menggoda dan menggiurkan saat perut sedang lapar.

Namun tahukah kamu, kebiasaan tersebut sebenarnya salah dan sama sekali tidak dianjurkan, lho. Lantas apa yang akan terjadi jika langsung makan berat dalam porsi banyak saat berbuka puasa?

Makan Berlebihan Berdampak pada Pencernaan dan Gula Darah

Sebenarnya, langsung menyantap makanan berat seperti nasi tidak dilarang. Tapi porsi makanlah yang harus menjadi perhatian. Saat berbuka puasa, penting untuk memastikan jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak berlebihan.

Bukan tanpa alasan, hal itu berguna untuk mencegah terjadinya gangguan pada sistem pencernaan. Saat tidak makan dan minum selama hampir 14 jam, sistem pencernaan sebenarnya beristirahat dan tidak bekerja selama jangka waktu tersebut. Nah pada kondisi ini, makan dalam porsi besar menyebabkan sistem tiba-tiba dipaksa bekerja keras. Hal itulah yang kemudian memicu terjadinya masalah pencernaan.

Tak hanya masalah pencernaan, kebiasaan langsung makan secara berlebihan saat berpuasa pun dapat menyebabkan gula darah naik secara drastis. Hal ini ternyata tidak hanya memengaruhi kesehatan, tapi juga bisa menghambat kamu beribadah. Pasalnya, langsung mengonsumsi nasi dalam jumlah besar dapat membuat kadar gula tinggi, yang mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Alhasil kelebihan itu akan dibuang melalui darah ke saluran cerna. Akibatnya, otak menjadi kekurangan oksigen dan glukosa serta membuat seseorang lebih mudah mengantuk termasuk saat sedang melaksanakan salat tarawih.

Satu hal yang perlu diingat, tujuan utama makan saat berbuka puasa adalah untuk menambah serta mengembalikan energi yang menurun selama berpuasa. Jadi, bukan untuk membuat kenyang. Apalagi kenyang hanya karena takjil atau makanan “kecil” yang dihidangkan saat berbuka.

Kapan waktu terbaik makan besar setelah puasa?

Pada dasarnya, mengonsumsi takjil sifatnya hanya untuk membatalkan puasa. Artinya, kamu tidak disarankan untuk mengisi perut hingga kenyang hanya dengan makanan tersebut. Jika ingin mengonsumsi nasi saat berbuka puasa, cobalah untuk mengatur porsinya. Misalnya setengah porsi saja dengan komposisi lemak, protein, karbohidrat, vitamin dan mineral.

Agar tetap sehat, biasakan untuk mengawali buka puasa dengan takjil seperti air putih, kurma, atau jenis buah lain. Setelah itu, beri jeda sebentar pada pencernaan untuk kembali bekerja secara normal. Nah, pada saat inilah tubuh sudah siap, dan kamu bisa mengonsumsi makan malam seperti biasa.

(Baca juga: 5 Khasiat Kurma Tak Sekedar Manis)

Namun tetap perlu diperhatikan, bahwa makanan yang dianjurkan untuk makan malah ada menu makanan yang seimbang. Artinya, pastikan makanan bervariasi dan memiliki semua kandungan zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Makan malam juga sebaiknya tidak melebihi porsi yang dianjurkan. Selain dapat memberi dampak yang kruang baik bagi pencernaan, makan berlebihan di malam hari telah terbukti dapat membuat berat badan naik. Apalagi, dalam waktu dekat kamu harus kembali makan sahur. Kebiasaan makan malam terlalu banyak malah bisa menjadi penyebab melewatkan sahur karena perut masih terlalu kenyang.

(Baca juga: Alasan Makan Sahur Tak Boleh Ditinggalkan)

Agar puasa lancar dan tubuh tetap sehat, jangan lupa untuk mengonsumsi vitamin dan suplemen untuk tubuh. Lebih mudah beli vitamin dan produk kesehatan lain di aplikasi Halodoc. Dengan layanan antar, pesanan akan  dikirim ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!