• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Tes untuk Mendeteksi Penyakit Tifus

Ini Tes untuk Mendeteksi Penyakit Tifus

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ini Tes untuk Mendeteksi Penyakit Tifus

Halodoc, Jakarta - Tifus atau demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini tetap menjadi ancaman kesehatan yang serius di negara berkembang seperti Indonesia, terutama bagi anak-anak.

Tifus menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi atau melalui kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi. Tanda dan gejala biasanya termasuk demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, dan sembelit atau diare. Kebanyakan pengidapnya akan merasa lebih baik dalam beberapa hari setelah memulai pengobatan antibiotik, meskipun sebagian kecil dari mereka dapat meninggal karena komplikasi dan menunda pemeriksaan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan tes untuk diagnosis penyakit tifus saat gejalanya terjadi.

Baca juga:  Yang Terjadi Jika Orang Dewasa Terkena Tifus

Tes untuk Mendeteksi Tifus

Dokter mungkin mencurigai demam tifoid berdasarkan gejala dan riwayat medis, perjalanan, dan mungkin makanan yang kamu konsumsi. Diagnosis tifus biasanya dapat dipastikan dengan menganalisis sampel darah, kotoran (tinja), atau kencing (urine). Komponen tersebut akan diperiksa di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah ada bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan kondisi tersebut atau tidak.

Bakteri tidak selalu terdeteksi pertama kali, jadi kamu mungkin perlu menjalani serangkaian tes. Menguji sampel sumsum tulang adalah cara yang lebih akurat untuk mendiagnosis tifus. Namun, mendapatkan sampel itu memakan waktu dan menyakitkan, jadi biasanya hanya digunakan jika tes lain tidak meyakinkan.

Jika tifus dikonfirmasi, anggota keluarga yang lain mungkin juga perlu menjalani tes karena bisa saja kamu telah menularkannya kepada mereka. Kamu juga bisa tanyakan pada dokter di Halodoc mengenai kapan sebaiknya dilakukan diagnosis atau saat kamu tidak yakin apakah sedang terserang tifus atau tidak. Dokter juga akan memberikan saran kesehatan yang mungkin dibutuhkan untuk penanganan awal tifus. 

Baca juga: Diagnosis Penyakit Tifus dengan Tes Mikrobiologi, Ini Penjelasannya

Langkah Mengatasi Tifus

Terapi antibiotik adalah satu-satunya pengobatan yang efektif untuk atasi tifus. Ada beberapa jenis antibiotik yang biasa diresepkan, antara lain: 

  • Ciprofloxacin (Sipro). Di Amerika Serikat, dokter sering meresepkan obat ini untuk orang dewasa yang tidak hamil. Obat serupa lainnya yang disebut ofloxacin juga dapat digunakan. Sayangnya, banyak bakteri Salmonella typhi yang tidak lagi rentan terhadap antibiotik jenis ini, terutama yang didapat di Asia Tenggara.
  • Azitromisin (Zithromax). Ini dapat digunakan jika seseorang tidak dapat menggunakan ciprofloxacin atau bakteri resisten terhadap ciprofloxacin.
  • Ceftriaxone. Antibiotik suntik ini adalah alternatif untuk infeksi yang lebih rumit atau serius dan untuk orang yang mungkin bukan kandidat ciprofloxacin, seperti anak-anak.

Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping, dan penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan berkembangnya jenis bakteri yang kebal antibiotik. Dulu, obat pilihannya adalah kloramfenikol. Namun, dokter tidak lagi biasa menggunakannya, karena efek sampingnya, tingkat penurunan kesehatan yang tinggi setelah periode perbaikan (kambuh) dan resistensi bakteri yang meluas.

Nyatanya, keberadaan bakteri yang kebal antibiotik merupakan masalah yang berkembang dalam pengobatan tifus, terutama di negara berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, Salmonella typhi juga terbukti resisten terhadap trimetoprim-sulfametoksazol, ampisilin, dan ciprofloxacin.

Baca juga: Pemeriksaan Serologi untuk Deteksi Penyakit Tifus

Ada juga beberapa perawatan lain yang bisa dilakukan, seperti: 

  • Minum Cairan. Ini membantu mencegah dehidrasi akibat demam dan diare berkepanjangan. Jika kamu mengalami dehidrasi parah, kamu mungkin perlu menerima cairan melalui vena (secara intravena).
  • Operasi. Jika usus telah berlubang, maka kamu memerlukan pembedahan untuk memperbaiki lubang tersebut.


Referensi:
Centers for Diseases Control and Prevention. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
NHS UK. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.