Jangan Keliru, Inilah Bedanya antara Kejang dan Epilepsi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
jangan-keliru-inilah-bedanya-antara-kejang-dan-epilepsi-halodoc

Halodoc, Jakarta – Bila mendengar kata kejang dan epilepsi, mungkin kamu berpikir bahwa dua hal tersebut saling berkaitan. Kamu tidak sepenuhnya salah, tapi kejang dan epilepsi sebenarnya dua kondisi yang berbeda. Bila seseorang mengalami kejang, belum tentu dia mengidap epilepsi. Namun, epilepsi sendiri seringkali ditandai dengan gejala kejang. Jadi, biar enggak salah penanganan, yuk cari tahu bedanya kejang dan epilepsi di sini.

Epilepsi atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai ayan adalah gangguan sistem saraf yang ditandai dengan kejang berulang secara spontan. Pengidap epilepsi bisa mengalami kejang lebih dari satu kali dalam sehari. Tingkat keparahan kejang pada tiap pengidap epilepsi juga berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung selama beberapa detik saja, tetapi ada juga yang kejang-kejang hingga beberapa menit.

Pada sebagian kecil kasus, epilepsi disebabkan oleh kerusakan atau perubahan di dalam otak. Jadi, di dalam otak manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Setiap sel saraf ini saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Namun, pada pengidap epilepsi, impuls listrik dihasilkan secara berlebihan, sehingga menyebabkan munculnya gerakan tubuh yang tidak terkendali alias kejang-kejang. 

Baca juga: Penyebab Epilepsi dan Cara Mengatasinya

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tidak semua kejang pasti menandakan epilepsi. Kejang yang bukan disebabkan oleh epilepsi biasanya terjadi akibat adanya kelainan letupan listrik pada otak, sehingga terjadi gangguan pada gerakan, sensasi, kesadaran atau perilaku ganjil yang tidak disadari oleh pengidap. Jadi, otak manusia terdiri dari triliunan sel saraf yang saling berhubungan dengan letupan listrik yang diperantarai zat kimia yang disebut neurotransmitter. Letupan listrik ini tidak hanya terdapat di otak, tetapi juga di otot, sehingga kita bisa menyadari akan suatu gerakan. Namun, bila neurotransmitter terganggu, maka terjadilah kejang.

Perlu diketahui, kejang bukan hanya gerakan menyentak-nyentak oleh seluruh tubuh seperti yang dikenal oleh masyarakat. Kejang juga bisa berupa menghilangnya kesadaran atau bengong sesaat, mata mendelik sekejap, atau tanda lain yang tidak disadari oleh pengidapnya. Seorang anak bisa mengalami kejang yang bukan disebabkan epilepsi, melainkan akibat demam tinggi, misalnya. Jadi, kejang dan epilepsi tidak selalu sama bahkan bisa disebabkan oleh hal yang berbeda.

Baca juga: Demam Bisa Sebabkan Kejang, Ketahui 3 Hal Ini

Cara Mendiagnosis Kejang Epilepsi

Untuk mengetahui apakah kejang yang dialami pengidap disebabkan oleh epilepsi atau bukan, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh yang diawali dengan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Biasanya, wawancara dilakukan terhadap orang-orang di sekitar pengidap, karena pengidap epilepsi sering tidak bisa mengingat kejang yang mereka alami.

Bila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti rekam otak atau electroencephalogram (EEG), pemeriksaan radiologi berupa CT-scan, dan MRI.

Baca juga: Sering Alami Kejang, Kenali Penanganan Abses Otak

Tips Menolong Orang yang Kejang

Bila kamu bertemu dengan orang yang kejang, pertama-tama jangan panik. Pindahkan barang-barang berbahaya yang ada di dekat orang tersebut, seperti gelas kaca, pisau, atau barang berbahaya lainnya. Selain itu, hindari memindahkan posisi orang yang sedang kejang, kecuali bila orang tersebut berada dalam posisi yang berbahaya.

Hal selanjutnya yang perlu kamu lakukan adalah melonggarkan kerah kemeja atau ikat pinggang orang yang kejang agar memudahkan pernapasannya. Hindari memasukkan apapun ke mulut pengidap, karena bisa melukainya. Amati berapa lama orang tersebut kejang dan segera bawa ia ke rumah sakit terdekat.

Itulah bedanya kejang dan epilepsi. Bila kamu masih punya pertanyaan lebih lanjut mengenai kejang dan epilepsi, tanyakan saja kepada dokter dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Hubungi dokter melalui melalui fitur Talk to A Doctor untuk bertanya-tanya seputar kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.