• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Begini Perbedaan Bintik Demam Berdarah dan Campak

Begini Perbedaan Bintik Demam Berdarah dan Campak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Penyakit demam berdarah bukanlah sebuah masalah kesehatan yang langka di negara kita. Enggak percaya? Menurut data dari Kementerian Kesehatan, DBD di indonesia telah mencapai 16 ribu kasus pada periode Januari sampai awal Maret 2020. Dari angka tersebut, setidaknya 100 jiwa telah meninggal dunia. Cukup mengkhawatirkan, bukan? 

Berbicara demam berdarah, tentunya juga membicarakan gejalanya yang terbilang khas, yaitu ruam atau bintik merah pada pengidapnya. Loh, sama seperti campak dong? Jangan salah, ruam atau bintik demam berdarah dan campak berbeda.

Mau tahu perbedaannya? Yuk, simak ulasan di bawah ini. 

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Alasan Demam Berdarah Bisa Berakibat Fatal

Bintik-Bintik Merah yang Berbeda

Bintik demam berdarah dan campak sebenarnya dapat dibedakan dengan jelas. Beberapa orang ketika mengidap demam berdarah tidak menunjukkan gejala apapun. Walau begitu, empat sampai 10 hari setelah digigit, seseorang akan mengalami demam hingga 40 derajat Celsius. Demam tersebut bersamaan dengan sakit kepala parah, serta nyeri otot, sendi, dan area di belakang mata.

Selain itu, demam berdarah memiliki gejala khas. Pada kulit pengidap demam berdarah akan muncul ruam atau bintik merah yang terjadi akibat pendarahan. Bila ditekan, bintik ini tak akan pudar. 

Bintik merah ini biasanya muncul sekitar 2-5 hari setelah demam. Selain itu, pengidap demam berdarah biasanya akan mengalami mimisan dan perdarahan ringan pada gusi. 

Lalu, bagaimana dengan bintik campak? Nah, pengidap campak awalnya akan mengalami gejala berupa batuk, pilek dan demam. Kemudian, sering waktu barulah muncul ruam kemerahan di wajah akibat infeksi. Lama-kelamaan ruam ini bisa menyebar ke seluruh tubuh. 

Baca juga: Lakukan Hal Ini Untuk Mengobati Gejala Demam Berdarah

Tak hanya itu saja, campak juga bisa menimbulkan beragam gejala lainnya. Misalnya:

  • Mata merah dan jadi sensitif terhadap cahaya.

  • Gejala menyerupai pilek, seperti sakit tenggorokan, batuk kering, dan hidung beringus.

  • Mengalami demam tinggi.

  • Bercak kecil berwarna putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan.

  • Diare dan muntah-muntah.

  • Badan terasa lemas dan letih.

  • Sakit dan nyeri.

  • Tak bersemangat dan selera makan menurun.

Demam Berdarah vs Campak, Mana yang Lebih Bahaya? 

Andaikan kedua penyakit ini tak segera ditangani, maka pengidapnya bisa berada ditengah masalah yang amat serius. Komplikasi yang mungkin terjadi pada pengidap demam berdarah adalah kerusakan pembuluh darah yang bisa mengakibatkan perdarahan. 

Demam berdarah yang tak cepat mendapatkan penanganan bisa menyebabkan berbagai komplikasi serius. Mulai dari kejang, kerusakan hati, jantung, otak, paru-paru, syok, hingga kegagalan sistem organ yang berujung pada kematian. 

Lalu, bagaimana dengan komplikasi campak? 

Komplikasi yang bisa timbul seperti bronkitis, radang pada telinga, infeksi otak (ensefalitis), dan infeksi paru-paru (pneumonia). Lalu, siapa sih yang rentan mengalami komplikasi ini? 

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat Imunisasi Campak Untuk Si Kecil?

  • Seseorang yang mengidap penyakit kronis.

  • Memiliki sistem imun yang lemah.

  • Bayi berusia di bawah satu tahu. 

  • Anak-anak dengan kondisi kesehatan yang buruk.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
CDC. Diakses pada 2020. Measles: Signs and Symptoms.
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses 2020. Measles.
National Library of Medicine National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Dengue fever.
Healthline. Diakses pada 2020. Dengue Fever.  
WebMD. Diakses pada 2020. Dengue Fever.
Tirto.id. Diakses pada 2020. Wabah DBD Indonesia 2020: Sudah 16 Ribu Kasus, 100 Jiwa Meninggal.