Begini Prosedur Saat Menjalani Cardiotocography

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Begini Prosedur Saat Menjalani Cardiotocography

Halodoc, Jakarta – Prosedur kehamilan yang paling dikenal adalah ultrasonografi (USG). Prosedur ini dilakukan setidaknya empat kali, yakni satu kali pada trimester ke-1, satu kali pada trimester ke-2, dan dua kali pada trimester ke-3. Tapi, tahukah kamu jika ada tes saat hamil selain USG? Namanya cardiotocography (CTG).

Baca Juga: Kapan Ibu Bisa Mendengar Detak Jantung Janin?

CTG adalah alat khusus yang digunakan untuk memantau denyut jantung janin dan kontraksi rahim. Tindakan ini bisa melihat adanya gangguan perkembangan janin sebelum atau selama persalinan. Jika ditemukan perubahan denyut jantung janin dan kontraksi rahim, dokter segera melakukan pertolongan medis.

Bagaimana Cara Kerja Cardiotocography (CTG)?

CTG berupa dua piringan kecil yang memiliki fungsi berbeda. Satu piringan berfungsi mengukur denyut jantung janin, sedangkan yang lain berfungsi mengukur tekanan pada perut. Selama tes, alat ini ditempelkan ke permukaan perut menggunakan ikat pinggang elastis yang dilingkarkan pada perut ibu hamil. Tes ini membantu dokter mengetahui kapan ibu hamil mengalami kontraksi beserta kekuatannya.

Alat CTG mengeluarkan hasil berupa grafik sesuai denyut jantung janin dan kontraksi rahim. Denyut jantung janin normal adalah sekitar 110 – 160 kali per menit. Apabila hasil CTG menunjukkan lebih rendah, bisa jadi ada masalah pada janin. Kontraksi palsu pada trimester ke-3 kehamilan bisa dideteksi lewat tes CTG. Ibu hamil tidak perlu khawatir dengan CTG karena tes ini tidak menggunakan radiasi.

Baca Juga: Ini Dia 5 Jenis Kontraksi Saat Hamil dan Cara Mengatasinya

Kapan Ibu Hamil Perlu Melakukan Cardiotocography (CTG)?

CTG dilakukan atas anjuran dokter sesuai indikasi medis. Biasanya ibu hamil perlu melakukan CTG secara berkala jika mengalami kondisi berikut:

  • Ibu hamil mengidap demam tinggi, hipertensi, atau diabetes.

  • Ibu hamil mengidap infeksi seperti HIV/AIDS atau hepatitis.

  • Terdapat lebih dari satu janin (kehamilan kembar).

  • Posisi janin sungsang.

  • Ada masalah pada plasenta.

  • Adanya masalah pada air ketuban.

  • Pergerakan janin lemah atau tidak teratur.

  • Ketuban pecah dini.

  • Adanya perdarahan saat persalinan.

Bagaimana Cardiotocography (CTG) Dilakukan?

Tes dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring selama 20-60 menit. Alat CTG dipasangkan secara melingkar pada perut ibu hamil. Jika dalam 20 menit janin tidak bergerak atau sedang tidur, tes diperpanjang hingga janin bergerak. Dokter akan merangsang pergerakan janin secara manual atau menempelkan perangkat yang mengeluarkan suara.

CTG menghasilkan dua kemungkinan, yaitu denyut jantung janin meningkat (hasil reaktif) dan denyut jantung janin tidak meningkat karena sedang tidur atau penyebab lain. Tes dilakukan secara berulang untuk mendapatkan hasil akurat. Jika setelah CTG ulang janin tetap tidak bergerak, perlu tes penunjang untuk diagnosis penyebab seperti identifikasi profil biofisik dan contraction stress test. Biasanya dilakukan jika usia kehamilan kurang dari 39 minggu. Apabila lebih dari 39 minggu, dokter dapat menganjurkan persalinan dini.

Baca Juga: Pentingnya Tes USG Saat Hamil

Itulah prosedur menjalani cardiotocography yang perlu diketahui. Kalau ibu punya keluhan saat hamil, jangan ragu bicara pada dokter kandungan Halodoc. Ibu bisa menghubungi dokter Halodoc kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!