• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Lansia Berisiko Terkena Cubital Tunnel Syndrome?

Benarkah Lansia Berisiko Terkena Cubital Tunnel Syndrome?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Dibandingkan carpal tunnel syndrome, cubital tunnel syndrome mungkin belum terlalu dikenal banyak orang. Namun, kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan rasa sakit, mati rasa, kesemutan, serta kelemahan otot di tangan dan lengan. Katanya, para lansia lebih berisiko terkena cubital tunnel syndrome. Benarkah demikian? Cari tahu penjelasannya di sini. 

Cubital tunnel syndrome adalah kondisi yang terjadi ketika saraf ulnaris yang melewati terowongan cubital (terowongan otot, ligamen, dan tulang) di bagian dalam siku, terluka dan meradang, bengkak, dan teriritasi.

Saraf ulnaris memanjang dari leher ke belakang lengan sampai ke tangan. Pada sisi bagian dalam siku, saraf ulnaris juga berjalan di sepanjang lorong kecil yang disebut cubital tunnel. Cubital tunnel syndrome yang terjadi di siku dikenal juga sebagai neuropati ulnaris.

Baca juga: Komplikasi yang Diakibatkan Cubital Tunnel Syndrome

Faktor Risiko Cubital Tunnel Syndrome

Orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas dikatakan lebih berisiko mengalami cubital tunnel syndrome. Hal ini berarti benar bahwa orang yang lanjut usia atau lansia juga termasuk yang berisiko mengalami sindrom tersebut.

Namun, selain usia, masih ada beberapa faktor lainnya yang juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena cubital tunnel syndrome:

  • Cedera kepala yang melibatkan daerah anggota gerak bagian atas.

  • Aktivitas dengan gerakan tertentu seperti melempar.

  • Memiliki pekerjaan yang membutuhkan gerakan menekuk siku dalam waktu yang lama, seperti operator telepon.

  • Mengistirahatkan daerah siku pada permukaan yang keras dalam waktu yang lama.

  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.

Cara Mencegah Cubital Tunnel Syndrome pada Usia Tua

Mengingat usia tua dapat meningkatkan risiko cubital tunnel syndrome, kamu yang memiliki orangtua yang sudah berusia lanjut diharapkan untuk berhati-hati terhadap cubital tunnel syndrome. Berikut ini cara-cara yang bisa dilakukan lansia untuk mencegah cubital tunnel syndrome:

  • Jaga agar lengan kamu tetap kuat dan fleksibel dengan berolahraga secara rutin.

  • Usahakan untuk selalu melakukan pemanasan sebelum berolahraga atau sebelum menggunakan lengan kamu untuk berolahraga atau gerakan berulang lainnya.

  • Hindari bertumpu pada siku, terutama di permukaan yang keras, dalam waktu yang lama. Misalnya, menyandarkan siku saat menyetir atau duduk.

  • Jaga agar lengan tetap lurus saat istirahat. Bila perlu, gunakan bidai saat tidur untuk mencegah lengan tertekuk.

  • Jaga daerah siku sebaik mungkin agar tidak mengalami cedera.

Baca juga: 5 Cara Jaga Kesehatan Meski Usia Menua

Waspadai Gejala Cubital Tunnel Syndrome

Selain melakukan tindakan pencegahan, mengetahui gejala cubital tunnel syndrome juga penting agar kamu bisa mewaspadai penyakit tersebut dan segera mencari pengobatan. 

Gejala yang dapat muncul bila mengalami cubital tunnel syndrome, antara lain:

  • Mati rasa atau kesemutan di jari-jari, terutama jari manis dan jari kelingking.

  • Rasa sakit di sepanjang lengan bawah.

  • Kelemahan atau rasa sakit di tangan.

  • Kesulitan menekuk dan meluruskan siku.

  • Kesulitan menggerakan tangan atau jari.

  • Hilangnya kemampuan otot pada daerah tangan dan jari.

Bila kamu atau orangtua kamu merasakan nyeri pada daerah siku yang menjalar hingga lengan bawah yang sangat mengganggu, bahkan hingga tidak dapat menggerakan tangan dan jari bagian bawah, sebaiknya segera periksakan diri atau orangtua ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Baca juga: Pengobatan Cubital Tunnel Syndrome yang Perlu Diketahui

Untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terkait cubital tunnel syndrome, kamu bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihan kamu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. How does cubital tunnel syndrome occur?.
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2020. Cubital Tunnel Syndrome.