Benarkah Obesitas Dapat Tingkatkan Osteoarthritis?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Benarkah Obesitas Dapat Tingkatkan Osteoarthritis?

Halodoc, Jakarta - Wajar jika seseorang yang aktif bergerak suatu hari merasakan sakit pada area persendian, serta kaku dan bengkak. Jika gejala tersebut kamu rasakan, maka bisa jadi kamu terserang osteoarthritis yang merupakan jenis arthritis yang paling umum terjadi. Area yang biasa terkena penyakit ini antara lain tangan, lutut, pinggul, dan tulang punggung. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sendi-sendi yang lain bisa terserang penyakit ini.

Sendi terdiri dari tulang rawan, yaitu substansi yang berperan menjadi bantal antar dua tulang. Jika kamu terserang penyakit ini, maka tulang rawan tidak dapat lagi menjadi bantalan. Akibatnya kedua tulang akan bergesekan saat kamu aktif bergerak, kemudian sendi menjadi terasa nyeri dan bengkak. Pengapuran sendi adalah hal yang tidak dapat disembuhkan, namun kamu dapat menjaga berat badan serta berolahraga teratur untuk menghambat terjadinya penyakit ini dan memperbaiki fleksibilitas. Jadi, dapat dipastikan bahwa mereka yang mengidap obesitas dan kerap aktif bergerak semakin tinggi mengalami risiko penyakit ini.

Baca Juga: Ini Perbedaan Osteoporosis dan Osteoarthritis

Penyebab dan Faktor Risiko Osteoarthritis

Dalam kasus osteoarthritis, tulang rawan akan mengalami kerusakan perlahan, tulang ini merupakan jaringan ikat padat yang kenyal, licin, serta elastis. Saat tulang rawan mengalami kerusakan, teksturnya yang semula licin menjadi kasar. Sehingga lama-lama tulang akan bertabrakan dan sendi juga terpengaruh.

Terdapat faktor risiko yang meningkatkan seseorang terkena penyakit ini, antara lain:

  • Usia. Risiko osteoarthritis akan meningkat seiring bertambahnya usia seseorang, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun.

  • Jenis kelamin. Wanita lebih sering mengalami osteoarthritis dibandingkan pria.

  • Cedera pada sendi. Sendi yang mengalami cedera atau pernah menjalani operasi memiliki kemungkinan osteoarthritis yang lebih tinggi.

  • Obesitas. Berat badan yang berlebihan menambah beban pada sendi sehingga risiko osteoarthritis menjadi lebih tinggi.

  • Faktor keturunan. Risiko osteoarthritis diduga bisa diturunkan  secara genetika.

  • Mengidap kondisi arthritis lain, misalnya penyakit asam urat atau rheumatoid arthritis.

  • Cacat tulang, seperti pada tulang rawan atau pembentukan sendi.

  • Pekerjaan atau aktivitas fisik yang membuat seseorang mengalami penekanan di titik tertentu secara terus-menerus.

Gejala Osteoarthritis

Gejala dari penyakit ini berkembang secara perlahan-lahan dan semakin parah seiring berjalannya waktu. Tingkat keparahan gejala dan area yang sakit bisa berbeda tiap orang.

Selain merasakan nyeri dan kekakuan pada area sendi, terdapat beberapa gejala lain yang mungkin menyertainya, yaitu:

  • Kelenturan sendi yang menurun.

  • Sensasi serta suara gesekan pada sendi ketika digerakkan.

  • Sendi yang mudah nyeri.

  • Otot melemah dan massa otot yang berkurang.

Pengobatan Osteoarthritis

Sayangnya penyakit ini termasuk kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Penanganan hanya dilakukan untuk mengurangi gejala agar pengidap bisa tetap beraktivitas normal. Gejala dari kondisi ini terkadang bisa berkurang secara perlahan, oleh karena itu terdapat beberapa cara yang disarankan untuk meringankan gejala osteoarthritis, yaitu:

  • Menurunkan berat badan bagi pengidap yang mengalami obesitas.

  • Rutin berolahraga.

  • Menjalani fisioterapi dan/atau terapi okupasi.

  • Menggunakan alat khusus untuk membantu mengurangi rasa sakit saat berdiri atau berjalan.

  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat pereda rasa sakit, obat antidepresan. Selain itu, pengidap osteoarthritis juga bisa menggunakan obat pereda nyeri topikal yang dioleskan pada bagian yang sakit untuk meredakan nyeri.

Baca Juga: Ketahui Penyakit Kaki yang Umum Terjadi pada Lansia

Nah, kalau kamu ingin tahu lebih banyak mengenai penyakit osteoarthritis serta bagaimana mengatasinya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Tanya Dokter kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.