• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Berbagai Faktor Risiko Anemia Hemolitik

Ini Berbagai Faktor Risiko Anemia Hemolitik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ini Berbagai Faktor Risiko Anemia Hemolitik

Halodoc, Jakarta - Sebutan penyakit kurang darah atau anemia sebenarnya merujuk pada kondisi seseorang yang memiliki sedikit sel darah merah di dalam tubuhnya. Masalah kesehatan ini juga bisa diturunkan oleh orangtua atau terjadi setelah lahir, yang dikenal dengan anemia hemolitik, yaitu ketika seseorang kekurangan sel darah merah akibat sel tersebut lebih cepat hancur ketimbang proses pembuatannya. 

Anemia hemolitik tidak boleh dianggap sepele. Seseorang yang mengidap penyakit ini perlu segera mendapatkan penanganan untuk mencegah berbagai komplikasi yang mungkin terjadi pada jantung, seperti gangguan irama jantung atau gagal jantung.

Baca juga: Bayi Baru Lahir Rentan Alami Anemia Hemolitik 

Penyebab dan Faktor Risiko Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik bisa terjadi lantaran sel darah merah hancur terlalu dini. Sel darah merah ini kemudian dikeluarkan dari aliran darah sebelum siklus hidup normal sel berakhir.

Gangguan kesehatan ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Misalnya akibat diwariskan yang berarti orangtua menurunkan gen yang memicu kondisi tersebut. Selain itu, anemia hemolitik juga bisa terjadi karena diperoleh, yang berarti kamu tidak memiliki gen pemicu, tetapi tubuh mengembangkan kondisi tersebut secara alami. Parahnya lagi pada beberapa kasus, penyebab anemia hemolitik tidak bisa terdeteksi.

Kasus anemia hemolitik yang diwariskan, pengidapnya memiliki kecacatan pada gen yang mengontrol produksi sel-sel darah merah. Gen sel darah merah yang cacat ini diturunkan dari salah satu atau kedua orangtua. Gangguan pada sel darah merah yang disebabkan oleh gen cacat ini bisa melibatkan hemoglobin, membran sel, atau enzim yang menjaga sel darah merah yang sehat. Sel yang abnormal sangat rapuh dan mudah pecah ketika bergerak melalui aliran darah. Jika hal ini terjadi, organ yang disebut limfa akan membuang puing-puing sel dari aliran darah.

Sementara pada kasus anemia hemolitik yang diperoleh, tubuh membuat sel darah merah secara normal. Namun, akibat berbagai penyakit, kondisi, atau faktor lain, sel darah merah ini akan hancur dengan mudah. Kondisi yang menjadi pemicu hancurnya sel darah merah, yaitu: 

  • Gangguan sistem imun;
  • Infeksi;
  • Reaksi terhadap obat-obatan atau transfusi darah;
  • Hipersplenisme.

Baca juga: Begini Diagnosis Anemia Hemolitik yang Tepat

Apa Saja Gejala Anemia Hemolitik?

Anemia hemolitik hanya menimbulkan gejala ringan di awalnya. Kemudian, kondisi bisa memburuk secara perlahan atau tiba-tiba. Gejalanya bervariasi pada setiap pengidapnya, di antaranya:

  • Pusing;
  • Kulit pucat;
  • Tubuh cepat lelah;
  • Demam;
  • Urine berwarna gelap;
  • Kulit dan bagian putih mata menguning (penyakit kuning);
  • Perut terasa tidak nyaman akibat organ limpa dan hati membesar;
  • Jantung berdebar.

Segera periksakan diri ke rumah sakit apabila kamu merasakan beberapa gejala di atas. Penanganan yang tepat membantu kamu terhindar dari berbagai komplikasi yang berbahaya. Kamu bisa membuat janji terlebih dahulu menggunakan aplikasi Halodoc. Selain tanya jawab dengan dokter, kini aplikasi Halodoc juga bisa digunakan untuk booking berobat di rumah sakit. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya, ya!

Baca juga: Adakah Pencegahan Efektif untuk Anemia Hemolitik?

Pengobatan Anemia Hemolitik

Pengobatan untuk mengatasi anemia hemolitik bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, usia, kondisi kesehatan, serta respons pengidap terhadap obat yang diberikan. Beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan oleh dokter, antara lain:

  • Suplemen asam folat dan suplemen zat besi.
  • Obat imunosupresan untuk menekan sistem kekebalan tubuh agar sel darah merah tidak mudah hancur.
  • Suntik immunoglobulin atau IVIG untuk membantu memperkuat kekebalan tubuh.
  • Transfusi darah untuk menambah jumlah sel darah merah (Hb) yang rendah pada tubuh pengidap.

Sementara itu, pada kasus anemia hemolitik yang parah, dokter melakukan splenektomi atau bedah pengangkatan limfa. Prosedur ini dilakukan saat pengidap tidak merespons metode pengobatan di atas.

Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia.
Drugs. Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia.
Healthline. Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia: What It Is and How to Treat It.