Ini Berbagai Faktor Risiko Anemia Hemolitik

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Ini Berbagai Faktor Risiko Anemia Hemolitik

Halodoc, Jakarta - Sebutan penyakit kurang darah sebenarnya merujuk pada kondisi seseorang memiliki sedikit sel darah merah. Kondisi ini juga bisa diturunkan oleh orangtua atau berkembang setelah lahir. Sebutan untuk kondisi ini adalah anemia hemolitik, yaitu ketika seseorang kekurangan sel darah merah akibat sel tersebut lebih cepat hancur ketimbang proses pembuatannya. Seseorang yang mengidap penyakit ini perlu mendapatkan penanganan mungkin untuk mencegah komplikasi pada jantung, seperti gangguan irama jantung atau gagal jantung.

Baca juga: Bayi Baru Lahir Rentan Alami Anemia Hemolitik 

Apa Penyebab dan Faktor Risiko Anemia Hemolitik?

Penyakit ini bisa terjadi lantaran sel darah merah hancur terlalu dini. Sel-sel darah merah ini malah hancur dan dikeluarkan dari aliran darah sebelum siklus hidup normal sel berakhir.

Anemia hemolitik bisa terjadi karena beberapa faktor. Penyebabnya bisa akibat diwariskan yang berarti orang tua menurunkan gen yang memicu kondisi tersebut. Sementara kondisi ini bisa terjadi karena diperoleh, yang berarti kamu tidak memiliki gen pemicu, namun tubuh mengembangkan kondisi tersebut sendiri. Parahnya lagi pada beberapa kasus, penyebab anemia hemolitik tidak bisa terdeteksi.

Pada kasus anemia hemolitik yang diwariskan, pengidapnya memiliki kecacatan pada gen yang mengontrol produksi sel-sel darah merah. Gen sel darah merah yang cacat ini diturunkan dari salah satu atau kedua orangtua. Gangguan sel-sel darah merah yang disebabkan oleh gen cacat ini bisa melibatkan hemoglobin, membran sel, atau enzim yang menjaga sel-sel darah merah yang sehat. Sel-sel yang abnormal sangat rapuh dan akan pecah ketika bergerak melalui aliran darah. Jika hal ini terjadi, organ yang disebut limpa membuang puing-puing sel dari aliran darah.

Pada kasus anemia hemolitik yang diperoleh, tubuh pengidapnya membuat sel-sel darah merah normal. Namun akibat berbagai penyakit, kondisi, atau faktor lainnya menyebabkan sel-sel darah dengan mudah hancur. Kondisi yang menjadi pemicu hancurnya sel-sel darah merah, yaitu: 

  • Gangguan sistem imun;

  • Infeksi;

  • Reaksi terhadap obat-obatan atau transfusi darah;

  • Hipersplenisme.

Baca juga: Begini Diagnosis Anemia Hemolitik yang Tepat

Lantas, Apa Gejala Anemia Hemolitik yang Bisa Muncul?

Umumnya, penyakit ini hanya menimbulkan gejala ringan di awalnya. Kemudian, kondisi bisa memburuk secara perlahan atau tiba-tiba. Gejalanya bervariasi pada setiap pengidapnya, di antaranya:

  • Pusing;

  • Kulit pucat;

  • Tubuh cepat lelah;

  • Demam;

  • Urine berwarna gelap;

  • Kulit dan bagian putih mata menguning (penyakit kuning);

  • Perut terasa tidak nyaman akibat organ limpa dan hati membesar;

  • Jantung berdebar.

Segera periksakan diri ke rumah sakit apabila kamu merasakan beberapa gejala di atas. Penanganan yang tepat membantu kamu terhindar dari berbagai komplikasi yang berbahaya. Buat janji dengan dokter pun kini dapat dengan mudah dengan aplikasi Halodoc.

Baca juga: Adakah Pencegahan Efektif untuk Anemia Hemolitik?

Apa Saja Pengobatan untuk Atasi Anemia Hemolitik?

Pengobatan untuk atasi anemia hemolitik bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, usia dan kondisi kesehatan pasien, serta respons pengidapnya terhadap obat yang diberikan. Beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan oleh dokter, antara lain:

  • Suplemen asam folat dan suplemen zat besi;

  • Obat imunosupresan, untuk menekan sistem kekebalan tubuh agar sel darah merah tidak mudah hancur;

  • Suntik immunoglobulin (IVIG), untuk memperkuat kekebalan tubuh pengidapnya;

  • Transfusi darah, untuk menambah jumlah sel darah merah (Hb) yang rendah pada tubuh pengidapnya;

Sementara itu pada kasus anemia hemolitik yang parah, maka dokter melakukan splenektomi atau bedah pengangkatan limpa. Prosedur ini dilakukan saat pengidapnya tidak merespons metode pengobatan di atas.

Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2019. Hemolytic Anemia.
Drugs. Diakses pada 2019. Hemolytic Anemia.
Healthline. Diakses pada 2019. Hemolytic Anemia: What It Is and How to Treat It.