Bisakah Encopresis Terjadi pada Orang Dewasa?

Bisakah Encopresis Terjadi pada Orang Dewasa?

Halodoc, Jakarta - Saat masih kecil, pernahkah kamu tidak sengaja buang air besar di celana? Hal ini ternyata ada penjelasan medisnya, lho. Kondisi keluarnya feses secara tidak sengaja ini disebut encopresis. Biasanya, hal ini terjadi pada anak di atas usia 4 tahun yang sudah belajar menggunakan toilet. Namun, apakah encopresis hanya terjadi pada anak-anak saja dan tidak pada orang dewasa?

Jawabannya, belum tentu. Tidak bisa menahan BAB akibat encopresis bukanlah suatu hal yang disengaja. Umumnya, encopresis disebabkan oleh suatu kondisi medis yang mendasarinya, baik secara fisik maupun mental. Hanya saja, encopresis memang lebih sering ditemukan pada anak laki-laki usia sekolah, kurang dari 10 tahun.

Baca juga: Sudah Bisa ke Toilet, Kenapa Si Kecil Masih BAB di Celana?

Selain buang air besar di celana, pengidap encopresis juga biasanya mengalami:

  • Sembelit, feses keras dan kering.
  • Feses berukuran besar.
  • Tidak ingin atau menolak BAB.
  • Jarak antar BAB panjang.
  • Nafsu makan turun.
  • Mengompol di siang hari (pipis di celana).
  • Infeksi kandung kemih kambuhan, khususnya pada anak perempuan.

Apa Penyebabnya?

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko encopresis, yaitu:

  • Menggunakan obat-obatan yang dapat menyebabkan sembelit, seperti obat batuk.
  • ADHD.
  • Spektrum autisme.
  • Gangguan kecemasan atau depresi.

Jika Anak Mengalami Encopresis

Semakin cepat encopresis diobati, semakin baik. Langkah pengobatan pertama melibatkan pembersihan usus dari feses yang menumpuk. Prosedur ini bisa menggunakan resep obat pencahar, suppositoria rektum, atau enema.

Setelahnya, terapi pengobatan akan diutamakan untuk mendorong pola dan kebiasaan BAB yang baik. Pada beberapa kasus, rujukan psikoterapi mungkin akan ditambahkan ke terapi pengobatan anak.

Baca juga: Encopresis Bisa Pengaruhi Kondisi Psikologis Anak

Sementara itu, perubahan gaya hidup yang dapat membantu anak mengatasi encopresis, adalah:

  • Perbanyak makanan berserat, termasuk sayur dan buah-buahan, untuk melembutkan feses.

  • Perbanyak minum air putih.

  • Batasi asupan susu sapi. Pada beberapa kasus, susu sapi dapat menyebabkan anak sembelit. Kendati demikian, diskusikan lebih dulu dengan dokter sebelum melakukan ini.

  • Buat waktu khusus untuk BAB. Minta anak untuk setidaknya duduk dulu selama 5-10 menit di atas toilet, di waktu yang sama setiap hari. Rutinitas ini sebaiknya dilakukan setiap makan, karena gerak usus akan lebih aktif setelah makan. Jangan lupa berikan motivasi dan pujian bagi anak selama waktu menunggu ini sampai BAB-nya keluar.

  • Berikan penyangga kaki di bawah toilet, untuk memudahkan anak berganti posisi duduk. Kadang, ekstra tekanan dari kaki akan menekan perut, yang dapat mempercepat proses BAB.

  • Pahami kondisi anak. Perlu diingat bahwa menahan BAB atau BAB di celana karena encopresis bukanlah suatu hal yang dikehendaki anak. Jangan memarahi atau mengomeli anak. Tunjukkan kasih sayang dan berikan pengertian bahwa kondisinya akan baik-baik saja seiring waktu.

Baca juga: Bagaimana Cara Atasi Anak yang Suka BAB di Celana?

Itulah sedikit penjelasan tentang encopresis pada anak. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!