• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cek Ketergantungan Obat, Ini Fakta yang Perlu Diketahui

Cek Ketergantungan Obat, Ini Fakta yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pernah merasa perasaan atau tubuh berubah drastis ketika berhenti mengonsumsi obat-obatan tertentu? Hmm, jika tak bisa lepas dari obat tersebut, hati-hati bisa jadi dirimu sedang mengalami ketergantungan obat.

Pada awalnya, obat tersebut mungkin digunakan sebagai upaya untuk mengatasi keluhan tertentu atau menunjang aktivitas keseharian. Contohnya, obat tidur atau obat antidepresan. Namun, lama-kelamaan, tubuh pun akan bergantung pada obat-obatan tersebut bila digunakan secara keliru.

Alhasil, ketika memutuskan untuk berhenti mengonsumsinya, tubuh akan menghasilkan reaksi berbeda. Alasannya karena tidak terpenuhinya suatu zat kimia yang telah menjadi kebiasaan dalam tubuh.

Nah, di sinilah cek ketergantungan diperlukan. Penasaran? Berikut fakta mengenai cek ketergantungan obat yang perlu diketahui

Baca juga: Ketergantungan Narkoba adalah Penyakit, Masa Sih?

Kapan Melakukannya? 

Ketergantungan akan obat-obatan ini sering kali dikaitkan dengan pengunaan obat-obat terlarang atau narkoba. Padahal, cek ketergantungan obat tak hanya sebatas itu saja, lho. Ini karena, ketika seseorang mengonsumsi obat-obatan melebihi dosis atau dalam waktu yang lama pun, bisa jadi mereka mengalami ketergantungan obat.

Di saat seseorang mengalami ketergantungan obat, berarti tubuhnya telah menyesuaikan diri dengan kehadiran obat tersebut. Kira-kira apa jadinya bila mereka berhenti mengonsumsi obat tersebut? Nah, di sini tubuh akan menghasilkan reaksi yang berbeda. Alasannya simpel, sebab tak lagi terpenuhinya suatu zat kimia yang telah menjadi kebiasaan dalam tubuh mereka.

Ambil contoh obat tidur atau antidepresan. Bila obat-obatan tersebut digunakan secara terus-menerus, dan seseorang yang meminumnya tak bisa lepas dari obat tersebut, sebaiknya perlu berhati-hati. Bisa jadi hal ini menandakan adanya ketergantungan obat.

Nah, cek ketergantungan obat ini bisa dilakukan ketika seseorang mengonsumsi obat dalam jangka panjang, dan merasa tidak nyaman ketika tidak atau berhenti mengonsumsinya. Jangan salah lho, obat-obatan yang diresepkan oleh dokter ada kalanya dapat menimbulkan ketergantungan. Contoh kasusnya adalah obat tidur.

Meski bahaya penggunaan obat tidur jangka panjang belum banyak dipelajari, tetapi menurut ahli dari Columbia University, dr. Carl Bazil, bahaya terbesar dari pengunaan obat tidur adalah menimbulkan ketergantungan. Sebab mengonsumsi obat tidur secara rutin bisa mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan psikis.

Ketergantungan obat tidur secara psikis ini bisa ditandai dengan rasa cemas yang ditimbulkan ketika berpikir untuk tidak mengonsumsinya. Di sini otak akan berpikir keras kalau tanpa obat tidur, maka akan kesulitan tidur. Padahal, hal tersebut belum terjadi dan baru dipikirkan.

Nah, disinilah peran cek ketergantungan obat diperlukan.

Baca juga: Pertolongan Pertama Overdosis Narkoba

Berbagai Gejala Setelah Berhenti

Kira-kira apa jadinya bila seseorang yang sudah ketergantungan obat, berhenti mengonsumsi obat tersebut? Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tubuh akan “memberontak” ketika berhenti mengonsumsi obat yang selama ini diminum. Di kondisi ini tubuh juga akan menimbulkan berbagai gejala. Misalnya:

  • Pingsan, atau hilang kesadaran.

  • Diare.
  • Pupil mata membesar.

  • Kejang-kejang.

  • Tiba-tiba kulit menjadi dingin dan berkeringat, atau panas dan kering.

  • Nyeri dada.

  • Tremor.
  • Halusinasi.
  • Sakit perut, mual, hingga muntah.

  • Timbulnya masalah pernapasan dan tekanan darah.

Prosedur Tes Ketergantungan Obat

Untuk mendiangnosis apakah seseorang mengalami ketergantungan obat tidaklah mudah. Prosesnya membutuhkan evaluasi menyeluruh. Mulai dari melibatkan dokter, pskiater, dan psikolog. Selain itu, bila obat yang membuat ketergantungan adalah narkotika. Biasanya memerlukan pemeriksaan dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO).

Dalam ketergantungan narkoba ini, rangkaian tes seperti tes darah, urine, hingga tes laboratorium lainnya, merupakan serangkaian tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis adanya penggunaan obat. Tes-tes tersebut bukanlah tes diangnostik untuk ketergantungan obat. Namun, tes itu digunakan untuk memantau perawatan dan pemulihan.

Baca juga: Ini Beda Kecanduan dan Ketergantungan Obat

Biasanya tenaga profesional akan menggunakan kriteria dalam Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, untuk mendiagnosis gangguan pengunaan obat.

Nah, ketika seseorang diduga mengalami ketergantungan, dokter akan melakukan serangkaian terapi sebagai langkah selanjutnya. Pasalnya, sampai saat itu belum ada obat yang bisa digunakan untuk mengatasi ketergantungan atau kecanduan obat.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline.com. Diakses pada 2020. Druf Overdose.
Healthyplace. Diakses pada 2020. Drug Addiction - What Is Drug Dependence.  
Drugabuse. Diakses pada 2020. Tolerance Dependece Addiction.
US National Library of Medicine National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Drug Use and Addiction.