11 October 2018

Dampak Bradikardia, Gangguan Jantung pada Lansia

Dampak Bradikardia, Gangguan Jantung pada Lansia

Halodoc, Jakarta - Pada dasarnya, denyut jantung seseorang dipengaruhi oleh usia dan aktivitasnya. Misalnya, orang yang berolahraga pasti denyutnya akan lebih cepat ketimbang mereka yang bersantai. Nah, hal yang mesti diketahui adalah bila jumlah denyut jantung yang berlebihan atau berdetak lebih lambat dari biasanya, maka bisa menimbulkan masalah pada kesehatan tubuh.

Lambatnya denyut jantung dalam dunia medis biasa disebut dengan bradikardia. Kata ahli, melambatnya detak jantung ini kebanyakan enggak menimbulkan gejala. Namun, bila lambatnya detak jantung sering terjadi dan diiringi gangguan irama jantung, ini yang mesti diperhatikan.

Pasalnya, kondisi ini bisa berdampak pada organ dan jaringan tubuh lain yang tidak terpenuhi pasokan darah. Meskipun bradikardia umumnya terjadi pada lansia, tetapi gangguan jantung ini sebenarnya bisa dialami oleh semua usia.

Kata ahli, cara paling mudah untuk melihat normal atau tidaknya detak jantung bisa diketahui secara tidak langsung dengan menghitung denyut nadi di pergelangan tangan selama satu menit. Misalnya, detak jantung normal orang dewasa berkisar 60—100 kali dalam satu menit. Anak-anak pada usia 1—12 tahun di antara 80—110, sedangkan bayi (kurang dari satu tahun) berkisar 100—160 kali dalam satu menit.

Kenali Gejalanya

Meski terkadang tak menimbulkan gejala, ada kalanya Bradikardia bisa menimbulkan berbagai kondisi fisik seperti di bawah ini:

  • Sesak napas.

  • Hampir pingsan atau pingsan.

  • Kelelahan.

  • Pusing.

  • Nyeri pada dada.

  • Kelemahan.

  • Mudah lelah saat beraktivitas fisik.

  • Linglung atau masalah pada ingatan.

Bisa Menimbulkan Komplikasi

Untuk sebagian orang, memiliki detak jantung lambat (<60 detakan), seperti para atlet profesional, memang tak menimbulkan gejala apapun. Sebab, mungkin saja hal itu sudah sesuai dengan fungsi tubuhnya. Namun, untuk sebagian orang kondisi ini juga bisa menandai adanya masalah pada sistem listrik jantung.

Kondisi ini bisa diartikan bahwa alat pacu jantung alami yang dimiliki oleh tubuh tidak bekerja dengan baik. Alhasil, jantung berdetak sangat lambat dan tidak bisa memompa darah untuk kebutuhan berbagai fungsi organ tubuh.

Namun yang mesti diperhatikan, dalam tahap yang parah dampak bradikardia bisa menyebabkan kematian. Nah, karena seseorang yang memasuki usia 65 tahun atau lebih cenderung memiliki detak jantung yang lambat dan lemah, karena itu para lansia membutuhkan penanganan dan perawatan khusus.

Kata ahli, kondisi bradikardia yang parah dan tak ditangani dengan tepat bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Mulai dari hipertensi, hipotensi, sinkop (pingsan), angina pektoris, hingga gagal jantung.

Awasi Penyebabnya

Gangguan jantung ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Nah, berikut hal yang bisa menyebabkannya menurut para ahli:

  • Adanya infeksi pada jaringan jantung.

  • Terjadinya kerusakan jaringan jantung, terkait penuaan.

  • Penumpukan zat besi pada organ (hemokromatosis).

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).

  • Komplikasi dari operasi jantung.

  • Cacat jantung kongenital, kelainan jantung bawaan lahir.

  • Rusaknya jaringan jantung karena penyakit jantung atau serangan jantung.

  • Sleep apnea obstruktif, dan gangguan pernapasan berulang selama tidur.

  • Penyakit peradangan, seperti demam reumatik atau lupus.

Nah, bila kamu menduga kalau dirimu memiliki masalah medis ini, segeralah minta bantuan ahli. Pasalnya, pengobatan penyakit ini harus disesuaikan dengan penyebabnya. Misalnya, bila bradikardia disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, maka dokter akan menghentikan pengobatan.

Punya keluhan di jantung? Jangan tunda untuk meminta bantuan atau saran ahli. Kamu bisa lho bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: