• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Dampak Negatif Perfeksionis pada Kesehatan Mental

Dampak Negatif Perfeksionis pada Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Mengatakan bahwa kamu adalah seseorang yang perfeksionis pada saat wawancara kerja mungkin akan menjadi nilai lebih. Namun, apakah setiap berjuang untuk kesempurnaan akan membuat kamu selalu merasa nyaman dengan diri sendiri? Nyatanya, terus-menerus mengejar kesempurnaan dapat sangat merusak kesehatan mental dan kesejahteraan diri. 

Perfeksionisme didefinisikan sebagai kombinasi standar pribadi yang terlalu tinggi dan evaluasi diri yang terlalu kritis. Terdapat tiga aspek utama perfeksionisme, di antaranya perfeksionisme berorientasi diri, perfeksionisme berorientasi lain, dan perfeksionisme yang ditentukan secara sosial. 

Baca juga: 4 Cara Menjaga Kesehatan Mental Meski Sedang Stres

Bagaimana Perfeksionisme Memengaruhi Kesehatan Mental

Perfeksionis dapat sangat memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Perfeksionisme sebenarnya adalah hal yang bisa melemahkan seseorang. Dalam perfeksionisme yang ditentukan secara sosial, individu percaya bahwa konteks sosial mereka terlalu banyak menuntut, bahwa orang lain menilai mereka dengan keras, dan bahwa mereka harus menunjukkan kesempurnaan untuk mendapatkan penerimaan atau persetujuan. 

Dampak munculnya kegelisahan, depresi, dan keinginan bunuh diri hanyalah beberapa masalah kesehatan mental yang berulang kali dikaitkan oleh spesialis dengan bentuk perfeksionisme. Mungkin kamu pernah mendengar bahwa tersiar kabar anak muda meninggal karena bunuh diri dengan alasan memiliki kebiasaan menciptakan harapan “sangat tinggi” bagi diri mereka sendiri. Misalnya, pada peristiwa seorang pelajar yang bunuh diri karena tidak lulus ujian nasional atau tidak mendapatkan nilai ujian yang tidak diharapkan. 

Perfeksionisme memiliki sifat “beracun” yang tampaknya sangat mudah dialami orang, khususnya anak mudah. Hampir 30 persen mahasiswa sarjana mengalami gejala depresi dan perfeksionisme telah banyak dikaitkan dengan gejala-gejala ini.

Sementara itu, “perfeksionisme berorientasi diri” yang dapat terjadi ketika individu mementingkan irasional untuk menjadi sempurna, serta memegang harapan yang tidak realistis dari diri mereka sendiri. Seseorang juga dapat menghukum evaluasi diri mereka, hingga terjadilah depresi klinis, gangguan makan, dan kematian dini di kalangan mahasiswa dan orang muda. 

Baca juga: Seni Sebagai Terapi Gangguan Jiwa

Perfeksionisme kritis juga dianggap meningkatkan risiko gangguan bipolar. Inilah yang mungkin dapat menjelaskan mengapa orang dengan bipolar juga mengalami kecemasan. 

Perfeksionisme Hidup dengan Suara Hati yang Keras

Hidup dengan suara perfeksionisme bukanlah hal yang mudah. Perfeksionisme sering kali akan melakukan dialog internal yang kera. “Kritik batin” akan terjadi secara terus-menerus dan memberitahu bahwa mereka tidak cukup baik, tidak peduli apa yang mereka lakukan atau seberapa keras mereka usaha. 

Bukan hanya suara batin yang terus-menerus menguras dan melelahkan. Selain itu, perfeksionisme sering mengkritik diri sendiri karena fakta bahwa mereka bersikap kritis terhadap diri sendiri dan ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar. 

Perlu kamu ketahui juga bahwa perfeksionisme sering mendekati pelecehan terhadap diri sendiri. Kritik batin diri dapat memperlakukan diri sendiri dengan keras seperti “ orang dewasa yang jahat” memarahi anak kecil. 

Cara Mengatasi Bahaya Perfeksionisme

Mungkin akan sulit untuk mengatasi kritik batin kamu sendiri, tapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membungkam suara itu. Kasih sayang dapat membantu melindungi terhadap depresi pada orang dengan kecenderungan perfeksionistik. 

Kasih sayang dan praktik kebaikan diri secara konsisten mengurangi kekuatan hubungan antara perfeksionisme dan depresi maladaptif baik untuk remaja maupun dewasa. 

Kamu mungkin pernah berpikir bahwa mengasihi diri sendiri adalah sesuatu yang kamu miliki atau tidak. Bentuk-bentuk psikoterapi tertentu dapat membantu orang memahami kepercayaan diri mereka yang keras dan mengubahnya dengan lembut seiring waktu. 

Baca juga: 10 Tanda Kalau Kondisi Psikologis Sedang Terganggu

Perlu kamu ketahui juga bahwa rasa mengasihi diri sendiri dapat dipelajari dan diajarkan. Olahraga yoga, misalnya, telah terbukti dapat membantu memadamkan suara batin yang mengkritik diri sendiri. Mungkin akan sangat bermanfaat jika kamu mengambil waktu sejenak dan mengakui fakta bahwa tujuan apapun yang direncanakan untuk dicapai dalam hidup, itu akan sulit. 

Jika kamu perlu bantuan profesional untuk bercerita tentang masalah kesehatan mental, kamu dapat menghubungi psikolog melalui aplikasi Halodoc. Kini komunikasi dengan psikolog lebih mudah dilakukan kapan dan di mana saja. Yuk, download aplikasinya sekarang!

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. How perfectionism affects your (mental) health