• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gangguan Paranoid Sebabkan Rasa Curiga Tanpa Alasan
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gangguan Paranoid Sebabkan Rasa Curiga Tanpa Alasan

Gangguan Paranoid Sebabkan Rasa Curiga Tanpa Alasan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 11 Agustus 2020
Gangguan Paranoid Sebabkan Rasa Curiga Tanpa Alasan

Halodoc, Jakarta - Pernah merasa selalu dibuntuti atau menaruh rasa tidak percaya berlebihan secara terus-menerus ada orang lain? Hmm, barangkali kondisi tersebut menandai adanya gangguan kepribadian paranoid dalam dirimu. Sudah familiar kan dengan masalah mental ini? 

Gangguan kepribadian paranoid juga disebut sebagai paranoia. Nah, paranoia ini memengaruhi pola pikir, fungsi, dan perilaku pengidapnya. Seseorang yang mengidap kondisi ini akan kesulitan memahami dan berhubungan dengan orang lain, serta situasi tertentu. 

Nah, kondisi inilah yang membuat pengidapnya selalu memiliki rasa curiga dan tidak percaya berlebihan pada orang lain. Akibat pola pikir dan perilaku seperti ini, pengidap gangguan kepribadian paranoid sering kali mudah marah. Bahkan, mereka juga tidak bersahabat dengan orang lain. Makanya, jangan heran bila mereka sulit menjalani kegiatan sosial, kerja, dan sekolah dengan normal. 

Lantas, apa saja penyebab dan gejala yang bisa dialami oleh pengidap paranoia?

Baca juga: Negatif Thinking Bisa Mengarah ke Paranoid, Mitos atau Fakta

Genetik dan Trauma Masa Kecil

Pada kebanyakan kasus, gangguan kepribadian paranoid ini dimulai pada masa kanak-anak atau remaja. Menurut studi, paranoia ini memengauhi antara 2,3% dan 4,4% dari populasi, dan tampaknya lebih umum dialami pria ketimbang wanita. 

Lalu, apa penyebab gangguan mental ini? Sayangnya hingga kini penyebab kepribadian paranoid belum diketahui pasti. Meskipun begitu, menurut ahli di National Institutes of Health paranoia lebih umum terjadi pada mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan psikotik.

Misalnya skizofrenia atau gangguan delusional. Dengan kata lain, faktor genetik juga bisa memicu terjadinya paranoia pada diri seseorang. 

Namun, ada pula beberapa faktor yang diduga bisa memicu terjadinya gangguan kepribadian paranoid, seperti faktor lingkungan. Menurut para ahli, trauma fisik atau emosional pada masa kanak-kanak, juga bisa meningkatkan kerentanan seseorang mengidap paranoia. 

Nah, penyebabnya sudah, bagaimana dengan gejala gangguan kepribadian paranoid?

Baca juga: Bisakah Sering Takut Gagal Dianggap sebagai Paranoid?

Selalu Merasa Curiga hingga Argumentatif

Pengidap paranoia selalu menaruh rasa curiga dan tidak percaya secara berlebihan pada orang lain. Di samping itu, pengidap paranoia juga enggan bercerita pada orang lain, menyimpan dendam, dan meyakini bahwa semua orang atau peristiwa selalu “mengancam” dirinya. 

Anggapan orang lain akan selalu menyakiti dirinya inilah yang membuat merasa selalu merasa curiga dan merasa terancam. Bahkan, mereka juga mencari bukti untuk mendukung kecurigaan mereka. Tak sedikit pula pengidap paranoia yang membatasi kehidupan sosial mereka.  

Nah, berikut ini gejala lain yang umumnya dialami oleh pengidapnya:

  • Berpikir mereka akan dieksploitasi (digunakan) atau dirugikan oleh orang lain
  • Mengisolasi diri.
  • Cepat marah.
  • Tidak bisa bekerja sama dengan orang lain
  • Meragukan kesetiaan orang lain.
  • Sulit memahami masalah mereka sendiri. 
  • Bersikap bermusuhan, keras kepala, dan argumentatif.

Baca juga: Selalu Curiga pada Pasangan, Benarkah Termasuk Paranoid?

Nah, bila mengalami gejala-gejala di atas, segeralah temui psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Jangan sampai membiarkan gejala paranoia berkembang, karena kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ingat, gangguan kepribadian paranoid tak bisa dianggap remeh. Kamu bisa bertanya langsung pada psikolog atau psikiater melalui aplikasi Halodoc. Kini pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, lebih mudah dan nyaman.

Referensi:
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Paranoid personality disorder
Web MD. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder 
Psychology Today. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder