07 November 2018

Gigitan Kutu Bisa Tahan Bertahun-tahun?

Gigitan Kutu

Halodoc, Jakarta - Apa kamu pernah mendengar sebuah penyakit bernama Lyme disease? Mungkin memang bukan penyakit yang familiar bagi orang Indonesia. Inilah penyakit yang ditularkan melalui gigitan kutu yang disebabkan oleh bakteri Borrelia burgdorferi. Memang tidak menjadi sorotan masyarakat Indonesia, tetapi bukan berarti penyakit ini tidak “populer”. Di Eropa dan Amerika Utara, infeksi kutu kaki hitam ini menjadi hal yang lumrah di masyarakat.

Penyakit yang disebabkan oleh gigitan kutu ini mungkin terdengar sepele, padahal kondisi setelahnya dapat menyebabkan masalah mental serius. Seekor kutu harus menempel di kulit selama 24-48 jam untuk menyebarkan infeksi. Gejala awal yang sering terjadi adalah ruam merah yang melingkar di sekitar gigitan kutu, serta gejala seperti flu. Orang yang tinggal atau sering menghabiskan waktu di daerah hutan dan memiliki hewan peliharaan sangat memungkinkan untuk terkena penyakit ini.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Psychiatry menemukan bahwa pengidap penyakit Lyme stadium akhir dapat mengalami masalah neurologis dan kejiwaan, termasuk gangguan memori, depresi, disleksia, kejang, kecemasan, serangan panik, dan psikosis. Bukan hanya itu, pengidap juga menemukan bahwa penyakit Lyme yang berlangsung dalam waktu lama dan tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya dapat menyebabkan masalah mental yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, gangguan tidur, perilaku kompulsif obsesif, serta ADD atau ADHD.

Bukan Kutu Biasa

Pengidap yang sudah diobati dengan antibiotik pada gejala awal penyakit Lyme biasanya dapat sembuh total. Namun, ada beberapa dari mereka yang sudah menyelesaikan pengobatan dan masih merasakan gejala seperti lelah luar biasa, sulit berkonsentrasi, dan rasa sakit pada sendi. Kondisi ini disebut dengan Post-Treatment Lyme Disease Syndrome atau PTLDS.

Kondisi ini sesungguhnya masih menjadi tanda tanya di dunia kedokteran. Sebab, masih rancunya penyebab dari PTLDS. Ada yang berargumen bahwa PTLDS disebabkan oleh sisa dari infeksi Lyme. Selain itu, ada juga yang berargumen bahwa gejala ini ditimbulkan dari infeksi bakteri lain.

Meskipun belum ditemukan titik terang mengenai penyebab dari PTLDS, pengobatan antibiotik dalam jangka waktu lama dinilai dapat memberikan secercah harapan pada pengidap penyakit Lyme. Penggunaan obat-obatan ini dinilai dapat memberikan efek yang perlahan, bahkan dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Tujuh puluh persen lebih pengidap PTLDS menilai bahwa mereka memiliki kualitas hidup yang rendah, bahkan lebih rendah dibandingkan pengidap diabetes dan depresi. Bukan hanya efek fisik (kelelahan, sakit pada otot dan sendi, sakit kepala, dan gangguan pada jantung) yang ditimbulkan dari penyakit ini, gangguan tidur, depresi, dan ketidakseimbangan proses kognisi juga “menghantui” pengidap penyakit ini. Menurut survei yang dilakukan oleh organisasi Lyme disease. Efek yang mengganggu fungsi normal dari pengidapnya ini menyebabkan sekitar 40 persen pengidap PTLDS tidak dapat bekerja lagi.

Ternyata begitu bahaya digigit serangga kecil yang bahkan berukuran tidak sampai 1 sentimeter. Bersyukurlah karena penyakit ini tidak menjadi endemik di Indonesia. Namun, bukan berarti kita harus lengah. Jagalah kondisi rumah untuk selalu bersih, sehingga kutu tidak mampu berkembang biak. Jangan lupa untuk terus memperhatikan kondisi tubuh karena gejala awal yang muncul pada penyakit ini biasanya diabaikan oleh banyak orang.

Jika kamu merasakan gejala aneh setelah tergigit serangga, sebaiknya segera tanyakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!

Baca juga: