10 April 2018

Gula Putih vs Brown Sugar, Mana yang Lebih Sehat?

Gula Putih vs Brown Sugar, Mana yang Lebih Sehat?

Halodoc, Jakarta – Gula putih adalah salah satu jenis gula yang paling sering digunakan untuk memberi rasa manis dalam makanan dan minuman sehari-hari. Namun, mengonsumsi gula putih terlalu banyak juga diketahui dapat menyebabkan diabetes dan kenaikkan berat badan. Akhirnya banyak orang mulai mencari alternatif lain sebagai pengganti gula putih. Salah satu jenis gula yang dipercaya lebih sehat adalah brown sugar. Tapi benarkah demikian?

Pada dasarnya, brown sugar atau gula coklat adalah gula pasir yang diberi molassess atau gula tetes tebu. Jadi, dalam proses pembuatan gula, perasan air tebu diuapkan untuk menghasilkan kristal atau gula murni. Pada tahap ini, setelah evaporasi, gula secara teknis masih mentah karena belum melewati proses penyulingan. Brown sugar adalah gula yang melewati proses penyulingan atau rafinasi hanya satu kali, sehingga komponen dari perasan tebunya masih tertinggal. Untuk membuat jenis gula ini memiliki rasa manis, ditambahkanlah molasses atau tetesan tebu. Sedangkan gula pasir pusih merupakan gula coklat yang sudah melalui proses rafinasi berkali-kali, sehingga mengubah warna, bau, dan rasa gula tersebut.

Brown sugar memiliki aroma yang lebih wangi dibanding gula pasir, sehingga jenis gula ini sering sekali digunakan untuk membuat kue atau permen. Selain itu, tekstur gula coklat yang lebih basah dan kasar membuatnya jadi tampak organik, sehingga sebagian orang mengira brown sugar lebih sehat ketimbang gula putih. Meski brown sugar mengandung kalsium, potasium, zat besi, dan magnesium, tapi jumlahnya dianggap terlalu sedikit untuk memberi manfaat kesehatan bagi tubuh. Satu sendok the brown sugar saja hanya mengandung 0,02 miligram zat besi. Padahal orang dewasa membutuhkan setidaknya sekitar 8 miligram zat besi.

Brown sugar juga dianggap memiliki kalori yang lebih sedikit dibanding gula putih, sehingga tidak akan memengaruhi berat badan. Tapi nyatanya, dalam penelitian terhadap tikus yang diberi brown sugar, tidak terdapat perbedaan dalam komposisi tubuh dan metabolisme energi, sehingga belum terbukti brown sugar memberi asupan kalori yang lebih rendah daripada gula putih.

Dampak Terlalu Banyak Mengonsumsi Gula

Semua jenis gula, baik gula alami maupun gula rafinasi merupakan asupan karbohidrat yang akan digunakan tubuh menjadi energi. Tapi bila dikonsumsi terlalu banyak, tubuh akan kelebihan kalori dan bisa memberikan dampak berikut pada kesehatan:

  • Obesitas

Makanan dan minuman manis memiliki kalori yang sangat tinggi, sehingga jika dikonsumsi terlalu banyak, maka akan menyebabkan penumpukan kalori dalam tubuh. Akibatnya, berat badanmu akan meningkat secara drastis dan menyebabkan obesitas.

  • Kekurangan Nutrisi

Mengonsumsi makanan atau minuman manis memang bisa memberi perasaan senang dalam otak, sehingga tidak heran kalau banyak orang yang menyukai makanan manis. Namun, terlalu sering mengonsumsi gula akan membuat kamu cenderung tidak tertarik lagi untuk mengonsumsi makanan sehat lainnya, sehingga kamu berisiko mengalami malanutrisi.

  • Kerusakan Gigi

Dari kecil, kamu mungkin sering mendengar nasihat "Jangan banyak makan makanan manis, nanti gigimu rusak." Nyatanya, gula memang menjadi musuh utama gigi. Hal ini karena gula menyebabkan penumpukan bakteri yang meningkatkan risiko gigi berlubang, apalagi kalau kamu malas menjaga kesehatan gigi. (Baca juga: 4 Cara Ampuh Atasi Masalah Gigi Berlubang)

  • Bahaya Bagi Jantung

Terlalu sering mengonsumsi gula juga bisa meningkatkan kadar trigliserida dalam pembuluh darah dan jaringan lemak, sehingga kamu berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung.

Nah, supaya hidupmu lebih sehat dan berat badan tetap ideal, bukan jenis gulanya yang diganti, melainkan kamu disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang manis. Kalau kamu ingin cek kadar gula dalam tubuh, gunakan saja fitur Lab Service di aplikasi Halodoc. Ayo, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.