• Home
  • /
  • Hati-Hati, Bullying Bisa Terjadi di Lingkungan Kerja

Hati-Hati, Bullying Bisa Terjadi di Lingkungan Kerja

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
hati-hati-bullying-bisa-terjadi-di-lingkungan-kerja-halodoc

Halodoc, Jakarta – Perundungan atau yang lebih dikenal dengan istilah populernya bullying, ternyata tidak hanya banyak terjadi di sekolah, tetapi di lingkungan kerja juga. Diperkirakan ada satu dari tujuh karyawan yang diintimidasi di tempat kerja, biasanya oleh atasannya. Dibanding pria, para wanita lebih cenderung menjadi korban.  

Dampak Buruk Bullying di Lingkungan Kerja Bagi Karyawan

Bullying di lingkungan kerja dapat memberi konsekuensi yang tidak main-main bagi korbannya, baik secara fisik maupun emosional. Korban bullying di tempat kerja dapat mengalami kecemasan, sindrom stres pasca-trauma, depresi dan penyakit fisik yang terkait dengan stres kronis, seperti tekanan darah tinggi, migrain, dan penyakit jantung. 

Sebuah studi juga menunjukkan bahwa ketika seseorang berada di bawah tekanan secara konstan, orang tersebut akan cenderung sulit mengatur emosi, sulit berkonsentrasi, dan kurang mampu membuat keputusan. Hal tersebut tentu saja akan menyebabkan korban jadi tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik yang akhirnya semakin membuka peluang untuk lebih banyak intimidasi.

Baca juga: 5 Tanda Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat

Mengenali Bentuk-Bentuk Bullying di Tempat Kerja

Bullying bukan hanya berasal dari manager yang agresif saja. Menurut Gary Namie, pendiri Workplace Bullying Institute di Bellingham, Washington, seorang pelaku bullying biasanya secara sistematis menganiaya para korbannya, menyabotase pekerjaan, berbicara kasar, serta seringkali mengintimidasi dan mempermalukan mereka di depan rekan kerja.

Contoh-contoh lain dari perilaku bullying, termasuk mengabaikan rekan kerja (atau memperlakukannya secara berbeda, mengambil kredit atau pujian atas pekerjaan orang lain, dan menggunakan bahasa kotor.

Bullying di lingkungan kerja sama, seperti kekerasan dalam rumah tangga, hanya saja tanpa kekerasan fisik. Perilaku yang tergolong tidak menyenangkan tersebut biasanya terjadi di beberapa perusahaan atau organisasi yang memiliki tuntutan atau tekanan yang tinggi, seperti bidang perawatan kesehatan, hukum, dan sales.

Baca juga: Cara Sehat Menghadapi Rekan Kerja Toxic

Tips untuk Menghadapi Pelaku Bullying

Kebanyakan korban bullying di lingkungan kerja tidak bisa atau tidak punya kekuatan untuk melakukan apapun mengenai tindakan pelecehan yang mereka terima. Itulah mengapa ada sekitar 64 persen korban korban bullying yang akhirnya meninggalkan pekerjaan mereka atau dipecat. Jangan pasrah saja, berikut tips menghadapi pelaku bullying yang perlu kamu tahu:

  • Jangan Beri Celah Sedikitpun

Bila ada seorang pengganggu yang kamu kenal di lingkungan kerja, cobalah untuk tidak memberi celah sedikitpun kepadanya. Jangan membagikan informasi apapun dengannya tentang diri atau keluarga, karena si pengganggu dapat menemukan kelemahan kamu lewat informasi tersebut. Tips ini sebaiknya kamu terapkan bagi semua rekan kerja, sampai kamu benar-benar sudah mengenal mereka dengan baik. 

  • Jangan Terlalu Pasif atau Emosional

Bila kamu di-bully di tempat kerja, cobalah untuk tidak terlalu pasif ataupun emosional. Bila kamu merasa kesal atau cemas, hal tersebut akan terlihat dari bahasa tubuh kamu. Dan untuk beberapa penindas, hal itu akan membuat mereka semakin terpacu untuk mengintimidasi kamu. Begitu juga bila kamu bersikap terlalu pasif dengan membiarkan penindas berlaku seenaknya dan berpikir bahwa mereka akan berhenti dengan sendirinya. Hal itu tidak mungkin terjadi dan kamu malah akan semakin ditindas.

Jadi, cobalah untuk bersikap tegas dengan memberitahu si pengganggu bahwa perilakunya membuat kamu menjadi kurang produktif, daripada mengungkapkan bahwa perilakunya membuat kamu kesal. Cobalah untuk bersikap tegas, tetapi jangan defensif secara emosional.

  • Bicarakan pada Pihak yang Lebih Berwenang

Membicarakan kasus bullying yang kamu alami pada human resources department (HRD) terkadang tidak efektif. Hal ini karena apabila pelaku bullying adalah seseorang yang memiliki posisi atau jabatan yang cukup tinggi di perusahaan, HRD seringkali tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, bila perusahaan kamu memiliki kebijakan anti-intimidasi, HRD mungkin dapat membantu. Tujuannya adalah untuk mencoba meyakinkan HRD atau pemberi kerja bahwa si pelaku sudah mengurangi produktivitas para korbannya dan menyebabkan pergantian karyawan yang tinggi.

Baca juga: Terlibat Drama Kantor, Resign atau Abaikan Saja?

Bila kamu mengalami kecemasan atau depresi akibat bullying di lingkungan kerja, coba bicarakan saja pada psikolog dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Hubungi psikolog melalui fitur Chat with A Doctor dan sampaikan keluh kesahmu melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play

Referensi:
Prevention. Diakses pada 2019. Got An Office Bully?