Awas, Ini Penyebab dan Gejala Radang Otak yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Awas, Ini Penyebab dan Gejala Radang Otak yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta -  Beratnya kira-kira hanya 1,3 kilogram, tapi fungsinya amat vital, yaitu mengatur dan mengontrol seluruh sistem tubuh. Tahu organ apa yang dimaksud? Otak tersusun dari sejumlah jaringan pendukung dan 100 miliar lebih sel saraf ini. Apa jadinya bila organ ini mengalami masalah? Sebenarnya banyak kondisi yang memengaruhi kinerja otak, salah satunya adalah radang otak atau ensefalitis. Ingat, radang otak menyerang tanpa pandang bulu.

Namun, faktanya masalah ini cenderung menyerang anak-anak dan lansia. Kok bisa? Alasannya, kedua kategori tersebut punya sistem imun yang enggak prima alias lemah. Meskipun jarang terjadi, radang otak yang serius bisa mengancam jiwa, lho. Sayangnya, perkembangan penyakit ini sulit sekali ditebak, makanya diagnosis yang cepat jadi kunci utama untuk menangani kondisi ini.

Baca juga: 3 Jenis Infeksi Otak yang Perlu Diketahui

Dari Demam sampai Perubahan Emosi

Gejala radang otak ibarat kata hampir menyerupai gejala flu. Pengidapnya awal-awal merasakan gejala ringan, seperti sakit kepala, lelah, demam, serta pegal. Oleh sebab itu, membuat penyakit ini sulit dideteksi. Segeralah temui dokter bila mengalami gejala flu yang semakin parah. Kamu juga bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Mudah, kan?

Namun yang perlu digarisbawahi, gejala radang otak lama-kelamaan bisa berkembang. Nah, berikut ini gejala radang otak ketika infeksi mulai berkembang, seperti dilansir dalam U.S. National Library of Medicine - MedlinePlus:

  • Demam yang tidak terlalu tinggi;

  • Sakit kepala ringan;

  • Kurang berenergi dan nafsu makan menurun;

  • Kecanggungan, gaya berjalan tidak stabil;

  • Kebingungan, disorientasi;

  • Mudah marah atau kontrol temperamen menjadi buruk;

  • Sensitif terhadap cahaya;

  • Leher dan punggung kaku (kadang-kadang);

  • Muntah.

Sementara itu gejala radang otak pada bayi bisa meliputi:

  • Kekakuan pada tubuh;
  • Rewel dan sering menangis (gejala memburuk ketika bayi digendong);
  • Nafsu makan memburuk;
  • Adanya bintik lunak atau tonjolan di bagian atas kepala (ubun-ubun);
  • Mual dan muntah.

Selain itu, ada pula gejala yang masuk dalam kegawatdaruratan:

  • Hilangnya kesadaran, responsif yang buruk, pingsan, koma;
    Kelemahan atau kelumpuhan otot;
  • Kejang-kejang;
  • Sakit kepala yang parah;
  • Perubahan mendadak pada fungsi mental, seperti suasana hati yang datar, kehilangan ingatan, atau kurangnya minat dalam aktivitas sehari-hari.

Baca juga: Benarkah Abses Gigi Bisa Sebabkan Radang Otak?

Mulai dari Serangan Virus dan Masalah Sistem Imun

Sayangnya, penyebab radang otak belum diketahui pasti. Namun, ada dugaan kuat kalau infeksi dan sistem imun yang buruk menjadi penyulutnya. Infeksi yang bisa menyebabkan ensefalitis terbagi menjadi dua. Pertama, infeksi yang berasal dari dalam otak (radang otak primer). Kedua, infeksi dari luar otak (radang otak sekunder).

Nah, berikut ini infeksi yang menimbulkan penyakit dan gejalanya:

  • Virus Epstein-Barr. Virus ini menjadi penyebab penyakit mononukleosis.

  • Virus Varicella zoster. Penyebab cacar air dan cacar api.

  • Virus herpes simpleks. Virus ini menyebabkan herpes di mulut maupun kelamin. Kata ahli, virus ini sering kali ditemukan pada kasus radang otak.

  • Virus dari hewan. Contohnya, virus rabies dan virus yang disebarkan oleh nyamuk.

  • Virus lainnya. Kadang kala virus, seperti campak, gondongan, ataupun rubella juga bisa menyebabkan radang otak.

Nah, virus-virus di atas bisa menular ketika kamu menghirup cairan hidung, mulut, atau tenggorokan pengidapnya. Di samping itu, virus tersebut bisa berpindah lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi, kontak kulit, hingga gigitan nyamut, kutu atau serangga lainnya.

Baca juga: 5 Orang yang Rentan Terkena Penyakit Radang Otak

Selain virus radang otak juga bisa disebabkan hal lainnya, seperti:

  • Infeksi. Meski jarang terjadi, ensefalitis bisa disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit.

  • Riwayat infeksi sebelumnya. Peradangan bisa muncul kembali setelah sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap infeksi sebelumnya.

  • Kondisi kronis. Misalnya, kondisi kronis HIV yang menyebabkan peradangan secara bertahap.

  • Autoimun. Bila sistem imun bereaksi pada penyebab lainnya, seperti tumor, bisa saja memicu peradangan.

Punya keluhan kesehatan atau mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lebih praktis, kan?

Referensi:
National Institute of Health - MedlinePlus. Diakses pada Desember 2019. Encephalitis.
Cleveland Clinic. Diakses pada Desember 2019. Health. Meningitis and Encephalitis.