Inilah Dampak Diskriminasi pada Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Baru-baru ini muncul berita yang mencuri perhatian dunia. SMiss Ukraina 2018, bernama Veronika Didusenko, dilarang untuk ikut berpartisipasi dalam Miss World. Veronika mendapat diskriminasi dan dilarang untuk mengikuti kontes kecantikan tersebut dengan alasan dirinya yang berstatus janda cerai dan memiliki seorang anak laki-laki berumur lima tahun.

Untuk mengikuti kontes Miss World tersebut memang tidak diperbolehkan bagi wanita yang sudah memiliki anak. Namun, hal tersebut tidak membuat wanita 24 tahun tersebut diam dan pasrah dan tetap memperjuangkannya supaya kontes tersebut dapat inklusif bagi seluruh wanita. 

Dalam kasus Veronika tersebut dapat terlihat bahwa stigma atau diskriminasi terhadap status janda masih berkembang, bahkan di kelas Internasional. Diskriminasi atau stigma adalah ketika seseorang melihat kamu secara negatif karena karakteristik atau atribut tertentu yang melekat pada diri seperti warna kulit, latar belakang budaya, status, cacat, atau bahkan penyakit mental. 

Baca juga: 9 Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental 

Diskriminasi Memengaruhi Kesehatan Mental Korban

Ketika seseorang memperlakukanmu dengan cara negatif, maka bisa dikategorikan sebagai diskriminasi. Stigma terjadi ketika seseorang mendefinisikan seseorang dengan status atau latar belakangnya daripada siapa dirinya sebagai individu. Misalnya, mereka mungkin diberi label “janda” (secara negatif) daripada “single parent” yang mampu bangkit untuk bertahan secara mandiri.

Bagi orang-orang yang mendapat “label” atau korban diskriminasi, stigma sosial dan diskriminasi yang mereka alami dapat membuat masalah menjadi lebih buruk dan memengaruhi kesehatan mental, sehingga lebih sulit untuk pulih atau bangkit. Ini dapat menyebabkan orang tersebut mengurung diri dan menghindar dari bantuan yang mereka butuhkan karena takut akan mengalami stigmatisasi. 

Baca juga: 5 Tips Tingkatkan Kesehatan Mental di 2019 

Dampak berbahaya dari diskriminasi dan stigma dapat memengaruhi mental, di antaranya:

  • Muncul perasaan malu, putus asa, dan terisolasi.
  • Keengganan untuk meminta bantuan atau mendapatkan perawatan.
  • Kurangnya pemahaman oleh keluarga, teman, atau orang lain. 
  • Lebih sedikit peluang untuk pekerjaan atau interaksi sosial.
  • Intimidasi, kekerasan fisik atau pelecehan.
  • Keraguan diri, keyakinan bahwa kamu tidak akan pernah mengatasi kondisi saat ini atau mampu mencapai apa yang kamu inginkan dalam hidup.
  • Lebih sedikit peluang untuk bekerja, sekolah atau kegiatan sosial atau kesulitan menemukan lingkungan tempat tinggal.
  • Asuransi kesehatan yang tidak cukup menutupi perawatan penyakit mental.

Kebanyakan orang yang mengalami masalah kesehatan mental akibat diskriminasi dapat pulih sepenuhnya, atau mampu hidup dan mengelolanya, terutama jika mereka mendapatkan bantuan sejak dini. Meskipun begitu, tidak sedikit orang yang terpengaruh dengan diskriminasi dan stigma sosial yang kuat dan melekat pada kesehatan mental. Selain itu, orang-orang dengan masalah kesehatan mental pun dapat mengalami diskriminasi dalam semua aspek kehidupan mereka.

Baca juga: 10 Tanda Kalau Kondisi Psikologis Sedang Terganggu

Banyak masalah orang diperburuk oleh stigma dan diskriminasi yang dialami, baik itu dari masyarakat, keluarga, teman, dan atasan. Hampir sembilan dari sepuluh orang dengan masalah kesehatan mental mengatakan bahwa stigma dan diskriminasi berdampak negatif pada kehidupan mereka.

Bangkit Dari Diskriminasi dan Stigma

Melawan diskriminasi dan stigma memang bukan perkara yang mudah. Namun, beberapa cara berikut dapat dilakukan untuk mengatasinya. Di antaranya:

  1. Dapatkan perawatan kesehatan mental yang kamu butuhkan. Cobalah untuk tidak membiarkan rasa takut dicap dengan penyakit mental menghentikan aktivitasmu.
  2. Jangan dengarkan. Terkadang, jika kamu cukup sering mendengar atau mengalami sesuatu, kamu mulai memercayainya sendiri. Cobalah untuk tidak membiarkan ketidaktahuan orang lain memengaruhi perasaan tentang diri sendiri. 
  3. Jangan bersembunyi. Banyak orang dengan keragaman latar belakang ingin mengasingkan diri dari dunia. Mendekatkan diri pada orang-orang yang kamu percayai seperti keluarga, teman, profesional atau pemimpin agama dapat memberimu dukungan. Kamu juga bisa mendapatkan bantuan psikolog ahli melalui aplikasi Halodoc, lho! Tanpa perlu repot, komunikasi dengan psikolog tepercaya dapat dilakukan kapan dan di mana saja melalui Chat atau Voice/Video Call.
  4. Terhubung dengan orang lain. Bergabung dengan kelompok pendukung kesehatan mental, baik secara online atau secara langsung, dapat membantumu mengatasi perasaan terisolasi. 

Referensi:

Better Health. Diakses pada 2019. Stigma, Discrimination, and Mental Illness.

Mental Health. Diakses pada 2019. Stigma and Discrimination